
"Kalau masih gosok gigi jangan bicara!" Kata Ryzen memperingatkan putranya yang bicara saat mulutnya masih penuh busa pasta gigi. Arvin pada dasarnya tahu akan hal itu, akan tetapi kedatangan Ryu yang tiba-tba begitu, membuatnya cukup terkejut dan akhirnya membuatnya jadi bergumam.
"Salah sendiri datang seperti hantu," ujar Arvin yang sudah selesai menyikat gigi.
"Hantu? Memang sejak kapan aku berjalan melayang sampai kau sebut aku ini hantu?" Balas Ryuzen dengan santai.
Arvin yang baru selesai menggosok giginya dan berkumur hingga bersih pun seperti biasa, ia akan tersenyum lebar di depan cermin untuk memastikan barisan gigi sehatnya itu sudah bersih dan tidak ada lagi sisa makanan.
"Oh iya, Papi sendiri datang seperti hantu tadi, ada apa?" Arvin bertanya demikian karena merasa, situasi ini sangat jarang terjadi, mengingat Ryuzen yang hampir tidak pernah menemani dirinya bersiap-siap tidur. Terlebih saat menggosok gigi.
Ryuzen sejenak terdiam dalam pikirannya sendiri. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan soal orang yang sudah menolong dirinya itu.
Akan tetapi saat Ryuzen menoleh ke arah putranya itu, merasa momennya tidak pas. Pasalnya ia melihat sendiri Arvin sudah dua kali menguap pertanda dirinya sudah mengantuk dan harus pergi tidur.
"Kau sepertinya sudah harus tidur!" Titah Ryuzen.
"Hoam... yah sepertinya," tukas Arvin sambil mengusap-usap matanya dengan tangannya. Ryuzen pun dengan spontan mengantar putranya itu ke kamarnya, agar bisa segera berisirahat.
~~
Sementara di kamarnya, Sara yang telah mengenakan gaun tidur sutra, tampak tengah duduk berselonjor di atas ranjang, sambil sibuk menatap dan menggeser-geser layar ponselnya. Melihat hal tersbut, Ryuzen yang baru saja masuk ke kamar langsung terbesit niat untuk menjahili istrinya itu. Ia dengan cekatan tiba-tiba mengagetkan istrinya itu, dan merebut ponsel di tangannya.
"Hei, kembalikan!" Sara mengejar suaminya minta ponselnya agar dikembalikan. Alhasil mereka berdua kini tampak seperti sepasang bocah yang sedang berebut mainan. Sara mencoba menggapai tangan Ryuzen yang kini menggenggam ponselnya tinggi-tinggi. Namun, karena perbedaan tinggi yang cukup besar Sara pun jadi sulit untuk menggapainya. Sara bahkan harus berjinjit sambil menarik lengan baju Ryuzen agar bisa mencoba menggapainya, meski hasilnya nihil.
"Itu ponselku, kenapa kau ambil!" Gerutu Sara yang terlihat masih terus berusaha menggapai ponselnya yang kini dipegang oleh suaminya itu. Melihat Sara berusaha mengambil ponselnya dengan cara berjinjit, melompat, dan menariknya lengan bajunya, membuat Ryuzen malah semakin semangat menjahilinya. Karena bagi pria itu, tingkah sang istri yang seperti saat ini malah membuatnya semakin gemas.
"Coba saja ambil kalau kau bisa," Ryuzen menantang Sara yang terlihat sudah mulai kesal dengan kejahilannya itu.
"Ryuzen kau ini, jangan usil!" Sara yang tidak habis ide, kini kembali mencoba merebut kembali ponselnya dengan cara naik ke atas kasur. Sialnya saat ia hampir berhasil, lagi-lagi Ryuzen lebih cepat menghindar, sehingga membuat usaha Sara itu pun seolah sia-sia dan hanya membuat lelah.
"Ryuzen ayolah... cepat kembalikan ponsel milikku!" Protes Sara yang sudah lelah. Ryuzen tentu tidak sebaik itu, ia malah memberi syarat pada sang istri jika ingin dirinya dengan cepat mengembalikan ponselnya miliknya itu.
"Baiklah apa syaratnya?" Tanya Sara dengan ekspresi pasrah, karena sudah lelah. Ryuzen langsung menampakkan senyum miring khas dirinya.
"Caranya... adalah kau haー"
"Aww...!" Sara terlihat memegangi perutnya, ia meringis seperti tengah merasa kesakitan yang tidak tahu penyebabnya di daerah perutnya itu. Ryuzen yang tadinya santai pun, tiba-tiba langsung mendadak tegang dibuatnya.
"Kau kenapa sayang?" Kata Ryuzen yang langsung tanpa memperdulikan apapun bergegas mendekati istrinya yang terlihat kesakita ini. Sara masih terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Ryuzen semakin khawatir dibuatnya. "Aku harus telepon dokter!" Ujar Ryuzen serius. Namun, Sara malah menarik lengannya, seolah tidak mengizinkan dirinya untuk menghubungi dokter.
"Tunggu Ryuzen!" Ucap Sara menahan suaminya yang hendak beranjak.
"Ada apa sayang? Kau sabar dulu ya aku akan menghubungi dokter segera," Tukas Ryu dengan wajahnya yang terlihat panik saat ini. Sara menunduk sambil memegangi lengan Ryuzen yang berotot. Saat ini Sara tidak lagi terdengar sedang kesakitan seperti tadi. Yang Ryu rasakan justru malah pundak Sara yang seperti bergetar. Khawatir ia pun langsung menyentuh pundak istrinya tersebut.
"Sara kau kenー"
Belum saja selesai bertanya, Ryuzen malah langsung dibuat menyipitkan matanya. Pasalnya pundak Sara yang bergetar itu bukan diakibatkan karena kesakitan, melainkan akibat dirinya menahan tawa yang akhirnya pecah juga. Sara tertawa geli pada akhirnya, karena merasa berhasil membuat suaminya itu panik.
Jadi kau hanya pura-pura?
Sara memang sengaja berpura-pura kesakitan, agar Ryuzen segera menyerah dan tidak lagi mengusilinya. Dan ternyata trik itu behasil membuat suaminya menyerah seketika. "Ya aku, memang sengaja menggunakan cara itu pada akhirnya, karena kau tidak berhenti menjahiliku."
"Sara..."
"Ya?" Sara yang tadi masih tertawa pun tiba-tiba langsung berhenti, mendengar nada bicara Ryuzen yang tiba-tiba memanggil namanya dengan nada serius.
"Lain kali, jangan berpura-pura seperti ini lagi," Ujar Ryuzen serius.
Sara yang sadar jika dirinya kali ini agak keterlaluan pun tertunduk diam dan berkata, "Maaf...."
Ryuzen pun tak tega, ia pun langsung memeluk istrinya yang terlihat sedih, "Aku juga yang seharusnya lebih dulu minta maaf. Karena jika bukan aku yang mulai mengusilimu pasti kau tidak akan seperti ini."
Meski Sara menyesal, tapi kata Ryuzen barusan adalah benar. Dirinya tidak mungkin bepura-pura seperti tadi jika suaminya itu tidak lebih dulu usil pada Sara.
"Tapi aku sungguh tidak menyangka kau bisa menggunakan trik licik begitu?" Tanya Ryuzen heran, mengingat Sara bukan tipikal yang akan bercanda seperti itu. Sara yang dengan ekspresi percaya dirinya pun, spontan menyibakkan rambutnya ke belakang dan berujar, "Apa gunanya menikah denganmu kalau tidak mencuri ilmumu juga."
Ryuzen tiba-tiba mendorong Sara hingga terlentang diatas ranjang. Pria itu meletakan kedua tangannya diantara tubuh istrinya itu agar tidak bisa pergi menghindar "Nyonya Han, apa kau sekarang sudah mulai pintar menipu suamimu sendiri?" Ucap Ryuzen lembut sambil terus menatap tajam seolah bagai tak berkedip.
Sara mulai salah tingkah dibuatnya, dirinya kini seperti dalam posisi yang tidak diizinkan lagi untuk bangkit dari posisinya saat ini. "Um, Ryuzen ponselku...?"
"Persetan dengan ponsel, malam ini kau sendiri yang sudah berjanji akan membiarkan aku melakukan apapun padamu kan?" Bisik Ryuzen di telinga Sara yang kini memerah.
Astaga! Aku sampai lupa hal itu.
"Tapi Ryuー" telunjuknya menyentuh bibir Sara agar behenti bicara.
"Malam ini aku mau kau cuma fokus denganku!" tutur Ryuzen langsung di depan wajah Sara hanya berjarak satu senti dari wajahnya. Sara pun sepertinya sudah tidak bisa lagi kabur dari jeratan rayuan suaminya itu, ia pun langsung membalas Ryuzen dengan kecupan mesranya.
"Aku selalu milikmu Ryu..."
"Sara..."
Keduanya pun saling memuja di atas tempat peraduan mereka.
~~
Keesokan harinya setelah mengantar Sara dan Arvin ke c-lovely florist, Ryuzen pun pamit pada istri dan anaknya untuk berangkat ke kantor.
"Siap Papi," ujarnya dengan mantap.
"Kau juga hati-hati dan selamat bekerja ya. Jangan lupa untuk makan siang," kata Sara pada sang suami.
Ryuzen pun hanya bisa tersenyum dan membalas Sara dengan mengecup bibirnya langsung, sampai ia lupa jika masih ada putranya saat ini.
"Sudah selesai belum kecup-kecupnya?" Ujar Arvin yang menutup matanya.
"Ya kau boleh buka mata sekarang!" Balas Ryuzen.
"Kalau begitu aku pergi, kalian jaga diri. Sampai jumpa nanti malam."
"Bye papi...!" Seru Arvin pada Ryuzen yang kini telah melenggang pergi.
"Manisnya... aku benar - benar iri pada nona Sara, punya suami keren dan anak yang lucu," ujar salah satu pegawai tokonya, yang sejak tadi ternyata melihat momen dimana Sara berpamintan dengan sang suami dengan begitu sweet.
"Iya, aku juga mau disayang begitu oleh tuan Han seperti Nona Sara...!" Ungkap pegawainya yang lain, yang ikut merasa iri.
"Heh! Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi!" Sahut pegawainya yang lain.
"Biar saja, namanya orang berkhayal masalah?"
Melihat para pegawainya begitu, Sara pun hanya bisa senyum senyum-senyum dan heran dibuatnya.
"Hei hei, kenapa kalian malah bergosip disini? Ayo cepat kerja, kita banyak pesanan!" Ujar Thomas yang datang dan menghacurkan khayalan para gadis itu.
"Huh Thomas, galak sekali!"
"Iya, kami kan hanya istirahat sejenak!"
"Istirahat? Kalian ini mau dipecat?"
"Tidak! Baiklah.. baiklah, mari kita pergi." Gadis-gadis itu pun akhirnya pergi juga, dan kembali bekerja.
"Huh! Wanita muda jaman sekarang, bukannya bekerja malah menggosip," omel Thomas.
"Sudahlah..., jangan sekeras itu pada karyawan baru, " kata Sara menenangkan rekan kerjanya tersebut.
"Habisnya aku agak jengkel dengan kelakuan-kelakuan mereka."
"Hai Thomas!" Sapa Arvin.
Baru menyadari kehadiran Arvin, Thomas pun lansung menyapa balik. "Ah maaf aku tidak melihatmu pria kecil manisku, apa kabarmu?"
"Aku baik," balas Arvin santai.
"Oh iya Sara, kenapa kau kemari? Bukankah jadwalmu kemari itu masih besok?" Sejak hamil Sara memang mengurangi jadwalnya bekerja. Tapi hari ini karena dirinya ingin mengantar Arvin bertemu kakeknya, Sara pun memutuskan untuk mampir ke toko bunganya sebentar, sekaligus memeriksa data penjualan setelah sekian lama dirinya tidak melakukan hal itu pasca dirinya keluar dari masalah waktu itu.
"Oh jadi kau mau mengantar Arvin, oke, oke..."
Saat tengah dalam obrolan bersama Sara, tiba-tiba saja Rina datang dan menanyakan Thomas, perihal bunga lily putih yang hendak dikirimkan ke seorang pelanggan.
"Maaf ya aku memanggu obrolan kalian," kata Rina merasa tidak enak.
"Hai bibi Rina!" Sapa Arvin pada Rina yang tengah membawa sebuket bunga Lily putih.
"Hai anak tampan!"
"Itu bunga untuk siapa Bi?" Tanya Arvin sedikit penasaran. Sara yang melihatnya pun ikut ingin tahu, sebenarnya buket bunga lily yang dibawa oleh Rina itu untuk siapa.
"Oh, bunga ini untuk pelanggan kita yang sudah beberapa minggu ini memang menjadi pelanggan tetap kita."
"Benarkah? Siapa nama pemesannya?" Tanya Sara penasaran.
"Sayangnya dia tidak memberikan nama aslinya, ia hanya memberikan alamat dan juga nomor telepon rumahnya saja. Jadi kami juga tidak tahu persis siapa orangnya," jelas Thomas.
"Begitu ya?" Meski penasaran, Sara tidak ingin ambil pusing akan hal itu. Ia pun lebih memilih untuo menghampiri ruangan arsip, guna memeriksa jurnal dan data penjualan yang sudah lama ia belum periksa.
"Arvin, kau tunggu disini sebentar ya sambil menunggu kakek. Mami mau memeriksa beberapa jurnal dulu," terang Sara sebelum pergi ke ruang arsip.
"Oke Mami!"
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
Happy reading and hopefully you like it 😊