Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 84 : Batal memberi hadiah


~Villa Constel


Sara tengah menata meja makan untuk makan malamnya dengan Ryuzen nanti, dan sesekali, Sara memandangi kotak pembungkus dasi yang ia beli untuk hadiah terima kasihnya pada Ryuzen.


"Semoga Ryuzen suka ini," ungkap Sara berharap.


"Sudah mau jam 8 malam, tapi dia belum juga pulang, apa ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan? Aku coba hubungi ponselnya saja deh,"


Bermaksud ingin menghubungi Ryuzen, beberapa detik kemudian Ryuzen justru tiba di villa.


"Selamat datang...! Baru saja aku mau menghubungimu, eh kau malah sudah pulang duluan."


"Begitu ya? Aku mau mandi dulu," Ryuzen kemudian naik ke lantai dua.


"Jangan lama-lama ya mandinya," ujar Sara yang terlihat semangat.


"Heh, habis kencan dengan cinta lama, apakah jadi sebegitu terlihat bersemangat"


"Kau ingin aku makan makananmu atau makan dirimu?" ucap Ryuzen memutar kepalanya menengok ke arah Sara.


"Bukan itu! Sudah sana mandi dulu...!" balas Sara.


🌹🌹🌹


Ryuzen yang kini sudah selesai bersih-bersih pun turun dari lantai 2, menuju ke ruang makan. Ia mengenakan sweater berwarna coklat tua di padu celana drawstring dengan warna senada. Sedangkan Sara yang sudah siap dengan semua persiapannya, ia pun sudah menunggu Ryuzen dari tadi.


Ryuzen menarik kursi lalu duduk, "Ryuzen, kau mau biar aku ambilkan makanannya?" tanya Sara.


"Boleh!" jawab Ryuzen datar.


"Setiap aku melihatmu habis pergi dengan pria lain, kau selalu jadi terlihat begitu bersemangat, sebenaranya setinggi apa kedudukan pria-pria itu di hatimu Sara?" ucap Ryuzen sambil terus memandangi Sara yang tengah mengambilkannya makanan.


"Ini...!" Sara memberikan makanan yang telah dia ambilkan untuk Ryuzen.


"Selamat makan!" ucap Sara.


Mereka berdua pun makan malam dengan tenang tanpa obrolan. Ryuzen makan dengan cepat hingga selesai jauh lebih dulu dari Sara, di tambah suasana hati Ryuzen saat ini memang sedang tidak terlalu bagus.


*Clekk suara sumpit yang di letakan Ryuzen diatas piringnya.


"Kau sudah selesai?"


"Iya, ada yang aku harus kerjakan lagi, karena besok aku harus pergi ke Macau selama dua hari,"


"Jadi, akhir pekan nanti kau akan ada di luar negeri?" tanya Sara memastikan.


"Iya!"


"Kalau begitu, lebih baik aku beri hadiahnya sekarang saja deh," pikir Sara yang kemudian perlahan mengambil kotak hadiah yang ada di belakang badannya, untuk diberikan kepada Ryuzen.


"Tapi dengan aku tidak ada, bukankah kau jadi lebih mudah pergi kemana pun dan dengan siapa pun yang kau mau kan?" ucap Ryuzen dengan nada datar secara tiba-tiba.


Mendengar ucapan Ryuzen, Sara jadi mengurungkan niatnya memberikan hadiah itu.


"Apa maksud ucapanmu itu?!" Sara terlihat tidak suka.


"Tidak ada, hanya bicara saja."


"Apa dia melihat aku pergi dengan Jesper tadi, lalu jadi salah paham?"


"Kau mengatakan hal itu, untuk menyindirku kan?" ucap Sara.


"Jadi kau merasa tersidir? Kalau tidak melakukan apa-apa harusnya tidak akan merasa begitu bukan?"


"Karena kau yang selalu buat aku menebak-nebak, atas dirimu," jawab Ryuzen dengan wajah serius.


"Bisakah kau berhenti menebak diriku seperti itu?"


"Bisakah kau selalu terus terang padaku?" balas Ryuzen.


"Terus terang apa? Aku tidak melakukan apapun yang kau pikirkan Ryuzen!"


Ryuzen mendekat dan menatap Sara dalam-dalam.


"Sara kau tahu, bagiku kau seperti teka-teki yang sulit dipahami!"


Sara hanya diam, bergeming menatap balik Ryuzen.


"Sudahlah, diteruskan juga tidak ada gunanya." ujar Ryuzen melepaskan pandangannya.


"Kau benar Ryuzen, karena pada akhirnya, kau hanya akan percaya pada dirimu sendiri, dibanding penjelasanku." balas Sara merasa sedih.


Ryuzen pun tak bereaksi dan hanya diam.


"Kalau begitu teruskan saja kerjamu, aku akan beres-beres lalu pergi tidur. Selamat malam!" Ucap Sara tanpa ekspresi.


"Selamat malam!" ucap Ryuzen yang kemudian pergi ke ruang kerjanya.


Sara menggenggam erat kotak hadiah yang tadinya ia ingin berikan pada Ryuzen.


"Padahal hanya ingin berterima kasih dan memberikan hadiah ucapan terima kasih. Tapi pada akhirnya malah berakhir seperti ini lagi. Tidak bisakah sekali saja kau tidak salah paham padaku Ryuzen Han?" lirih Sara menggenggam erat kotak hadiah itu ditangannya kuat-kuat.


~~


Ryuzen pergi ke Macau dengan pesawat pribadinya. Tapi sebelum take off Ryuzen menyempatkan untuk video call dengan Arvin.


*Video Call Arvin dengan Ryuzen


Arvin : "Papi, apa kau benar-benar harus perginya saat weekend ?"


Ryuzen : "Maaf, Papi tidak bisa menemanimu minggu ini."


Arvin : "Sudahlah, aku tahu Papiku pria yang sangat sibuk kok,"


Ryuzen :"Kau yakin tidak apa-apa kita tidak jadi pergi minggu ini?"


Arvin : "Tentu saja, lagi pula aku masih bisa pergi sama mami kok! Jadi papi tenang saja, aku dan mami pasti tetap akan bersenang-senang."


"....." Ryuzen terdiam sejenak.


Arvin : "Papi..., aku merindukanmu."


Ryuzen : "Aku juga rindu padamu Arvin."


Arvin : "Oh iya aku sudah harus siap-siap pulang, kau hati-hati diperjalanan dan cepat pulang ya, salam juga untuk paman asisten"


Ryuzen : "Oke"


Arvin : "Bye bye papi..." ucap Arvin lalu mematikan sambungan video call-nya.


"Sudah bilang tidak apa-apa sama papi, tapi tetap saja ingin pergi bermain bersamanya. Nasib jadi anaknya Bos nomor satu di negeri ini, jadi begini deh!" gumam Arvin menutupi rasa kecewanya karena tidak jadi menghabiskan weekend dengan Ryuzen.


Vote, comment, like πŸ™πŸŒ·