
"Apa kau yang bernama Sara Chen?" ucap suara seorang wanita.
Sara yang tadinya setengah melamun pun jadi tersadar dan mendongakan kepalanya lalu berdiri, menatap wanita yang sudah tidak asing berada di hadapannya tersebut.
"Ya, aku Sara. Ada keperluan apa Nona Erika Zhang datang menemuiku?"
"Kau mengenalku?
Sara tersenyum simpul, "Mana mungkin aku tidak mengenali seorang yang saat ini sedang jadi topik pembicaraan dimana-mana."
Erika yang begitu terlihat modis dan glamour pun tersenyum kecut menanggapi ucapan Sara.
"Baiklah, aku kesini bermaksud ingin bicara denganmu, tapi tidak disini," ucap Erika dengan sikapnya yang terlihat high class namun terlihat angkuh.
"Apa sepenting itu, sehingga tidak bisa dibicarakan disini?" balas Sara.
"No! aku tidak suka mengganggu pekerjaan orang lain. Jadi bagaimana, apa kau punya waktu?" terang Erika memastikan.
"Baiklah, nanti saat jam makan siang kita bisa bicara," Sara pun menyetujuinya.
"Oke, kalau begitu aku tunggu kau di kafe Orleon siang ini. Oh iya, aku harap kau jangan sampai terlambat, karena aku paling tidak suka menunggu orang lama-lama."
"Tentu," Sara mengangguk paham.
"Kalau begitu aku permisi dulu Nona Sara, sampai jumpa nanti siang!"
Erika lalu melangkah pergi meninggalkan C-lovely Florist, Sara yang masih melihat Erika dari belakang pun mau tidak mau mengakui Erika yang sangat berkelas dan anggun,
"Heh, dilihat dari belakang saja sudah terlihat anggun," gumam Sara.
~~
Tanpa sepengetahuan Sara, ternyata Orin dan Rina sejak tadi mengintip Sara yang tengah berbicara dengan Erika.
"Ada apa ya, kok tiba-tiba si nona pencitraan itu menemui kak Sara? memang ada hubungan apa dirinya dan kak Sara?" ujar Orin.
"Eh, jadi kau sekarang sudah bukan lagi fans si Erika itu?" ledek Rina.
"Sudah diam kau! Aku bukan lagi fansnya sekarang aku sudah beralih jadi haternya," balas Orin kesal
"Oke, oke. Tapi saat ini aku benar-benar penasaran ada apa sebenarnya diantara mereka, kenapa tiba-tiba Erika kemari dan menemui kak Sara, apa sebelumnya mereka sudah saling mengenal?"
"Entahlah...," jawab Orin sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ehem," Thomas berdeham dari belakan Orin dan Rina. Mereka berdua pun langsung menoleh kebelakang dan langsung berhadapan dengan Thomas.
"Oh ternyata kau ya Thomas," ujar Rina yang tertangkap basah oleh bosnya tersebut.
"Aduh! Kenapa kalian berdua malah disini, dan bukannya bekerja?" ucap Thomas.
"Thomas kau dengar dulu alasan kami, jadi tadi itu ada Erika Zhang datang kemari seorang diri dan menemui Kak Sara. Karena ingin tahu dan jadi penasaran, makanya kami mengintip mereka yang tadi mengobrol, sayangnya si Erika sekarang sudah pergi," terang Orin pada Thomas
"Apa? Erika Zhang desainer terkenal itu ke kemari, mana-mana?" ujar Thomas jadi heboh sendiri.
"Dia sudah pergi," sahut Rina.
"Wah sayang sekali...!" ujar Thomas.
"Huh buat apa, asal kau tau saja ya Thomas. di media selalu saja mengatakan Erika itu ramah dan rendah hati, tapi kenyataannya adalah sebaliknya. Benar-benar nona bermuka dua! aku saja menyesal pernah mengidolakannya. Meskipun memang karya-karyanya bagus sih!" ujar Orin dengan wajah kesal.
"Begitukah, tapi apa benar seperti itu?" kata Thomas yang masih belum percaya sepenuhnya.
"Kalau tidak percaya tanya saja sendiri pada Rina dan kak Sara," balas Orin.
Rina pun menceritakan kejadian yang terjadi setelah acara Fashion Show kemarin.
"Dan pertanyaannya sekarang, kenapa tiba-tiba Erika bisa kemari dan menemui kak Sara secara langsung, tidak mungkin dia begitu jika tidak ada hal yang penting diantara mereka bukan?" kata Rina yang masih mencoba mencari tahu di pikirannya.
"Eh tapi kemarin kak Sara sempat terlihat aneh setelah kembali dari backstage kan?" ujar Orin
"Oh iya kau benar, tepatnya saat aku bilang ada Tuan Muda Han pemilik Emerald yang tiba-tiba datang mengunjungi Erika di ruang belakang panggung, Kak Sara seperti terlihat kaget dan kikuk, hal itu menyebabkan kami jadi terjatuh disana, dan setelahnya itu, kak Sara jadi terlihat aneh begitu," terang Rina menceritakan kejadian kemarin.
"Ya pantas saja begitu, setahuku menurut berita yang beredar di forum-forum diskusi publik mengatakan jika, Erika itu mantan pacarnya Tuan Han. Makanya tidak heran kalau Sara jadi aneh begitu," ucap Thomas.
"Lalu, apa hubungannya dengan kak Sara,?" Rina jadi bingung dibuatnya.
"Sudah jelas ada, Sara kan istrinya Tuan Muda Han! Eh...?"
Thomas menutup kedua mulutnya, karena sudah keceplosan bicara soal hubungan Sara dan Ryuzen. Sedangkan Orin dan Rina memandang Thomas dengan penuh intrik dan kecurigaan.
"Tadi kau bilang apa Thomas? Kak Sara istrinya Tuan Han? Apa benar?!" Orin dan Rina mencecar Thomas.
"Eh, tidak aku cuma asal bicara kok!" Thomas berusaha menghindar.
"Kau pasti tahu sesuatu kan Thomas, hayo mengaku saja pada kami!" ujar Rina yang terus saja mencecar Thomas.
"Ah kalian sudah bekerja saja sana, aku sibuk!" Thomas langsung pergi menghindari Kedua karyawannya yang kini bak wartawan infotainment yang haus akan berita. Tidak mau melepaskan Orin dan Rina pun berniat mengejar Thomas sampai dapat.
"Thomas tunggu! kami butuh penjelasanmu!" teriak mereka bedua.
Sementara Sara yang mendengar gemuruh suara mereka dari sudut lain, hanya bisa bergeleng-geleng kepala keheranan.
"Huh..., mereka selalu saja membuat hari-hari ini terasa ramai. Tapi... setidaknya mereka yang berisik itu kadang-kadang bisa membuat hatiku yang merasa gundah dan sedih jadi sedikit terobati," ucap Sara diikuti senyum kecilnya.
~Emerald Tower~
Ryuzen tengah berada duduk di kursi bos miliknya dan, mendengarkan dengan seksama laporan-laporan dari hasil penyelidikan yang dilakukan Kenzo.
"Jadi persis seperti dugaan anda, Lizo memang benar berkaitan hubungan dengan Biyan Dao, terbukti dengan Biyan Dao sendiri yang pernah melakukan transfer uang sebesar 10 juta dollar ke rekening pribadi atas nama Lizo Xiao."
"Lalu?" kata Ryuzen.
"Dan dari penelusuran yang sudah aku lakukan, bisnis jual beli obat-obatan ilegal Lizo biasanya dilakukan setiap hari Jumat malam, dan biasanya transaksi jual beli obat-obatan terlarang itu dilakukan di sekitaran area distrik 14, dimana distrik itu memang masih banyak sekali bangunan-bangunan kosong yang sudah tua."
Ryuzen tersenyum miring,
"Bagus, Lizo Xiao mari kita lihat, berapa lama kau bisa menghindar dariku! Atau lebih tepatnya seberapa lama kau bisa menghirup udara bebas setelahnya."
Ryuzen tak pernah main-main dengan ucapannya. Bagi seorang Ryuzen Han, nyawa seseorang yang berani mengusik apalagi mencari masalah denganya tak lebih berharga dari ikan kecil yang siap jadi santapan hiu yang kelaparan.
"Tuan Ryuzen, apa kau yakin akan lakukan itu? bukankah hari itu, juga adalah hari dimana kau ingin merayakan...," ucap Kenzo khawatir.
"Kau meragukanku dan rencanaku?" ucap Ryuzen yang kini tengah menggenggam dan memandangi sebuah belati tajam yang baginya belati (pisau sangkur) itu adalah salah satu saksi bisu, memori kelam di dalam hidupnya. Bagi Ryuzen belati itu pernah mengeluarkannya dari sangkar maut, sekaligus membawanya pada kematian.
"Bukan begitu, hanya saja... aku seperti melihat sosok dirimu yang sudah lama bersembunyi, dan Belati yang kau pegang itu...?"
"..., Aku tahu maksudmu bicara begitu, tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, yang perlu kau lakukan hanyalah, lakukan dengan baik apa yang sudah aku perintahkan padamu, mengerti?!" jelas Ryuzen dengan begitu tenangnya.
"Iya Tuan aku mengerti!"
"Dan setelah menangkapnya, apa yang akan kau lakukan terhadap Lizo?" tanya Kenzo.
"Soal itu, semua tergantung suasana hatiku nanti."
Ryuzen menyeringai bak serigala yang siap menerkam mangsanya.
~โข~
Like, comment, dan vote ya gais.. ๐