Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 158


Keesokan harinya...


Pagi ini Arvin yang sudah mengenakan ransel dan berdiri di depan halaman rumah sang kakek, terlihat sangat bersemangat. Wajah lucu nan tampannya pun nampak sumringah. Hal itu dikarenakan, hari ini sang kakek telah berjanji untuk mengantarnya kembali ke rumah orang tuanya.


"Sepertinya kau senang sekali ya?" Tanya Jiro yang berada di dekatnya.


"Hem, tentu saja... tapi kenapa kakek Jiro tidak ikut saja bersama aku dan kakek ke rumahku?" Ya kali ini, memang Jiro tidak ikut pergi ke kediaman Han mengantar Jordan dan Arvin. "Tidak tuan kecil, aku tidak bisa ikut kalian. Karena... tulangku yang sudah tua ini tiba-tiba merasa harus banyak istirahat, jadi biar kau dan tuan Jordan saja yang pergi," kelakar pria paruh baya itu.


Setelah selesai siap-siap, akhirnya kakek Jordan sudah bersiap dengan mobilnya, dan bersiap untuk pergi ke kediaman tempat dulu ia tinggal. "Ayo cucuku! Kita let's go!" Jordan meminta Arvin segera masuk ke dalam mobil. "Oke kek!" Arvin pun masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi depan tepat disebelah posisi duduk Jordan yang kini duduk di kursi kemudi.


"Sudah siap?" Ujar Jordan melihat Arvin yang baru saja selesai memasang sabuk pengamannya. "Tentu saja, tapi tunggu dulu Kek!" Arvin tiba-tiba menurunkan kaca jendela mobilnya. Ternyata ia pamit pada Jiro yang tidak ikut. "Bye... bye... Kakek Jiro, kami pergi dulu...!"


"Ya, hati-hati....!" Balas sahabat kakeknya itu.


~~


Akhirnya... Arvin dan sang kakek sudah berada diperjalanan menuju rumah orang tua Arvin. Sejak awal berangkat, Arvin bolak balik memperhatikan kakeknya yang menyetir mobil. Bagi Arvin, agak asing melihat Jordan menyetir saat ini. Mengingat, selama dirinya mengenal sang kakek, jarang sekali bahkan tak pernah dirinya melihat sang kakek menyetir sendiri mobilnya.


Tentu saja Jordan telah menyadari, jika sejak awal dirinya diperhatikan oleh cucunya sendiri. Ehem! "Kenapa kau terus memperhatikan kakek? Apa kau baru pertama kali lihat kakek-kakek sepertiku mengemudi?" Ujar Jordan dengan nada berkelakar.


"Jujur saja iya! Aku kira kakek selama ini tidak bisa menyetir mobil sendiri, tapi ternyata aku salah. Kau mahir kakek! Kau keren!"


Jordan pun tersenyum riang, "Woah, benarkah aku sekeren itu dimatamu? Aku jadi sangat tersanjung dibuatnya..." ucap Jordan.


"Oh iya, Kek!" tukas Arvin tiba-tiba.


"Ya, ada apa?"


"Semalam aku menelpon papi, dan dia bilang kaki mami terluka. Tapi mami malah bilang padaku, kalau dia baik-baik saja, aku jadi agak merasa khawatir. Soalnya... mamiku itu suka begitu, selalu saja mengatakan dirinya baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak begitu. Huft! Dia itu selain kurang pintar juga agak menyebalkan, selalu saja merasa bisa menanggung semuanya sendiri!" Arvin terlihat menggerutu.


Jordan pun melirik ke arah Arvin lalu berkata, "Aku rasa semua ibu yang baik akan bicara begitu pada anak-anaknya..."


"Huh? Benarkah? Bukannya itu malah terdengar konyol," terang Arvin yang berpikir jika hal itu konyol.


"Ya... memang terdengar konyol sih! Tapi dibalik itu semua...apa yang dikatakan oleh Sara adalah hanya, agar supaya kau tidak khawatir padanya.


Karena sesungguhnya... seorang ibu adalah makhluk yang hatinya paling lembut dan tidak tega, jika mengatakan hal yang akan membuat anaknya khawatir. Jadi...apapun itu, ada baiknya sebagai seorang anak kita sedikit memahami hatinya. Kau paham nak?"


"Em!" Arvin mengangguk paham. Namun saat itu juga, Arvin bisa melihat sorot mata sang kakek berubah jadi sendu, dan terlihat berkaca-kaca. "Kakek... kakek jadi ingat sama nenek buyut ya...?"


"Ah... terlihat sekali kah?" Jordan jadi sedikit malu dibuatnya karena ketahuan tengah memikirkan sang ibu.


"Tentu saja, aku pun begitu... walau mamiku itu cerewet dan agak kurang pandai, tapi kalau sudah bicara tentang ibu... pasti aku akan jadi agak cengeng juga, dan aku rasa itu hal yang wajar."


"Benarkah? Pasti kau sangat menyayangi Sara...?"


"Sudah pasti, mami adalah segalanya untuku."


"Aku pun begitu nak," Sayangnya aku sudah terlanjur membuat sedih dan kecewa ibuku yang tercinta. Dan sedihnya lagi... kini aku sangat merasa menyesal karena ia sudah tiada. "Kau bilang, kau sayang sekali pada Sara, apa kau juga sayang pada Ryu?"


"Kenapa tanya begitu Kek?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin tau saja bagaimana rasa sayangmu pada figur seorang ayah."


"Tentu saja sayang. Karena... cuma papi yang pantas untuk mamiku! Tapi kalau papi sampai menyakiti mami...aku pun pasti akan marah padanya."


Jordan terkesiap mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Arvin. Dirinya jadi berpikir, jika apa yang dirasakan Ryu mungkin sama halnya dengan apa yang dikatakan Arvin. Ryuzen begitu menyayangi ibunya, hingga dia tau ibunya menderita gara-gara aku. Tidak heran jika ia begitu benci padaku....


"Tapi... meskipun aku marah, aku tidak mungkin membenci papi. Karena bagaimanapun dia adalah papiku yang aku tahu sangat menyayangiku, jadi kakek tenang saja, rasa cintaku untuk papi dan mami sudah kubagi dengan rata dan sesuai dengan porsinya, jadi kakek jangan takut seorang anak tidak akan sayang pada ayahnya...," jelas Arvin dengan polosnya.


Anak ini... apa dia tahu apa yang tengah aku pikirkan? Jordan lalu mengusap kepala Arvin, seolah menegaskan jika dirinya sangat bangga pada sang cucu. "Kau anak yang hebat Arvin!" Aku berharap... Ryuzen akan memaafkanku, dan memanggilku ayah suatu hari nanti.




Di sebuah padang golf, Renji terlihat sedang berdiri sambil asyik menikmati panorama lapangan dihadapannya. Saat sedang menikmati panorama dengan suasana tenang, tiba-tiba dirinya malah dihampiri oleh seorang pria yang tidak asing. "Ada apa tiba-tiba kemari?" Ucap Renji yang kemudian menoleh ke arah pria yang tidak lain adalah Biyan Dao. "*Well* ! Sebelum mengatakan maksud kedatanganku... aku ingin memuji, lapangan golf ini luar biasa! Milikmu kah?"



"Iya, ini salah satu asetku. Apa kau mau bertanding golf denganku, aku dengar tuan Dao hebat dalam bermain golf!"



"Aku ingin, tapi sayangnya... kedatanganku kemari bukanlah untuk menemanimu bermain golf."



"Lalu untuk apa kau kemari, menawarkan kerjasama untuk yang kedua kalinya padaku... setelah kau hanya dapat kekecewaan karena bekerjasama dengan si bodoh Orizel?" ujar Renji dengan santainya.



"Heh sibodoh itu, tapi kau benar! Aku memang ingin menawarimu sebuah kerjasama lagi." Biyan dengan congak berjalan medekati Renji lalu berbisik di dekat telinga Renji. "Aku ingin menawarimu...."



Renji tersenyum miring, setelah mendengar penawaran Biyan Dao padanya.



"Bagaimana tuan Haoran, apa kau tertarik dengan penawaranku?"



"Menarik juga... tapi bekerjasama dengan pria licik sepertimu, aku rasa, aku perlu waktu untuk memikirkannya baik-baik," ucap Renji.



Biyan mendengus. "Baiklah.... silakan saja kau pikirkan masak-masak penawaranku ini. Yang jelas aku hanya ingin kau tahu satu hal, tujuan kita adalah sama. Yaitu melihat Ryuzen Han hancur!"



"Ya... kau benar! Menghancurkan Ryuzen Han memang tujuan utamaku!"



"Oke! Kedatanganku kali ini hanya ingin bilang itu saja. Kalau begitu aku tunggu jawabanmu segera Tuan Haoran. *Ciao*...!" Ujar Biyan yang kemudian langsung pergi meninggalkan Renji sendiri.



*Tujuanku memang untuk menghancurkan Ryuzen baj!ngan itu. Tapi sebelum itu... aku akan membuat Sara berpaling darinya. Dan aku tahu bagaimana caranya*....Senyuman Renji mengisyaratkan keyakinan pada dirinya.



~~



Setibanya di kediaman Han. Arvin langsung bergegas berlari masuk ke dalam rumah, ia bahkan sampai mengabaikan salam dari nona pelayan yang menyambutnya. "Selamat datang tuー"



"Nona pelayan, dimana mamiku?" Ujar Arvin pada salah seorang pelayan wanita dirumahnya.



"Nona Sara.... sekarang ada di ruang keluarga, dirinya sedangー"



"Oke, *thank you*!" Arvin pun bergegas berlari menuju ke ruang keluarga.



~~



"Mami...!" Seru Arvin sambil berlari menghampiri Sara yang terlihat sedang duduk sambil menyulam sebuah selimut.



"Arvin...!" Sara pun langsung menghentikan kegiatan menyulamnya, dan membalas pelukan putranya itu.



"Mami, kau baik-baik saja kan?" Nada suara Arvin terdengar khawatir pada Sara. Ia memeluk ibunya itu dengan begitu erat. Sara pun langsung mengelus kepala putranya itu dan berkata, "Aku baik-baik saja sayang... kau tidak perlu khawatir." Arvin tiba-tiba melepas pelukannya, "Mami bilang baik-baik saja, tapi lihat kakimu...!" Arvin langsung menatap ke arah kaki Sara yang kini terbalut perban. *Ya Tuhan, aku lupa kakiku terluka*. Kali ini Sara nampaknya hanya bisa tersenyum, sambil mencari-cari alasan yang tepat. "Oh soal kakiku ini... Jadi saat berada dipantai, aku tidak sengaja menginjak bebatuan yang keras, alhasil jadi terluka begini. Tapi kau tenang saja ini akan segera sembuh dalam dua atau tiga hari lagi."



Arvin memicingkan matanya."Mami, kau ini payah sekali...! Sudah tau pantai banyak bebatuan kenapa tak pakai sandal?"



"Heheh maaf aku terlalu senang hingga lupa sandalku."



Arvin sampai menepuk jidatnya."Huh, dasar mami! Kapan kau jadi pintar dan tidak cerobohnya..."



"Ya... aku tahu aku bodoh! Hanya kau dan Ryu yang pintar...." balas Sara bernada satir.



Arvin sebenarnya agak tidak yakin kalau alasan Sara itu benar sepenuhnya, mengingat sang mami ini tidak pandai membual. *Tapi biarlah... yang penting mamiku baik-baik saja sekarang*.



~~




"Aku kemari berdua bersama kakek saja, tapi sekarang kakek sedang berbicara dengan papi di ruangannya."



"Oh begitu..." *Hum... ada apa ya? Tumben sekali Ryu dan ayahnya langsung bicara begitu, apakah ada hal yang penting? Tapi apapun itu yang mereka bicarakan, aku hanya berharap semua itu bisa membuat hubungan Ryu dan ayah mertuaku semakin baik*.



"Itu papi dan kakek sudah kembali!" Ujar Arvin, melihat Ryu dan juga kakeknya kini tengah berjalan menghampirinya dan Sara.



"Papi..." Ujar Arvin menghampiri Ryuzen dan digendongnya ia oleh sang papi.



"Ayah mertua selamat datang," sambut Sara dengan nada sopan. "Maaf aku tidak bisa menyambutmu dengan berdiri."



"Tidak apa-apa nak..., kau duduk saja. Lagipula lukamu masih belum sembukan? Bagaimana keadaanmu?"



"Aku sudah lebih baik, ayah sendiri?"



"Aku pun baik-baik saja..."



Saat ini Ryu tampak sudah berpakaian rapi, yang sepertinya sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Begitupun Jordan, dirinya juga akan segera kembali ke rumahnya, mengingat ada janji antara dirinya dengan Jiro.



"Ryu... sebelum ke kantor, kau antar ayah dulu ya," celetuk Sara.



"Iya papi antar kakek dulu ya... karena walau kakek pandai menyetir tapi tetap saja dia kan orang tua," timpal Arvin, yang kemudian melirik Sara mengisyaratkan jika, dirinya sudah melakukan hal yang benar.



*Heh! Sepertinya istri dan anakku memang sengaja kali ini*...



Jordan tentu tidak berharap banyak hal itu akan terjadi. Mengingat Ryuzen tadi pun hanya bicara karena memiliki urusan dengannya. "Tidak usah nak, biar kakekー"



"Baiklah...!"



Jordan tekesiap kaget, *Ryuzen apa maksudnya ucapan itu*?



"Jadi papi akan antar kakek dulu, baru kerja?"



"Hem!"



"Asyik!"



"Tapi ingat! Saat aku tidak ada... kau sebagai anak laki-lakiku, harus bisa menjaga mamimu yang kurang pintar ini, oke?"



"*Yes sir*!"



"*Good job*!" Ryuzen mengangkat tinggi Arvin guna menunjukkan rasa bangganya.



"Kalau begitu kami pergi dulu ya... Arvin ingat, jaga baik-baik menantuku, dan sampai jumpa cucuku!"



"Siap kakek!"



Tak beda dengan sang ayah, Ryuzen pun ikut pamit, ia menurunkan Arvin dari gendongannya dan mengahmpiri Sara yang kini sedang duduk. "Aku pergi dulu ya sayang, kau baik-baik dirumah bersama Arvin dan calon anak kita. Ingat! Jangan lakukan apapun yang berbahaya, dan kalau ada apapun cepat hubungi aku! Mengerti?"



"Ya aku paham suamiku yang tampan!" Balas Sara sambil membenarkan kerah kemaja suaminya.



"*Nice girl*!" *Huh*? Seketika Sara malah menghalangi bibir Ryu yang ingin menciumnya. "Ingat ada Arvin disini!"



"Aku tutup mata kok Mami!" Ujar putra mereka dengan spontan.



"Anakku memang paling pengertian..." Ryuzen pun langsung menyingkirkan tangan itu, dan mengecup bibir manis sang istri dengan singkat.



"Aku pergi dulu, kalian baik-baik dirumah!" Ucap Ryuzen yang kemudian beranjak pergi.



"*Bye* Papi, hati-hati....!"



~~



Bel di apartemen Orizel tiba-tiba berbunyi. Percaya atau tidak, di kediamannya Orizel terlihat begitu menyedihkan. *Bagaimana tidak*! Dirinya yang biasanya terlihat congak, kini malah seperti manusia yang menyedihkan. Bahkan ia harus susah payah menggunakan kruk, hanya sekedarembantunya barjalan untuk membuka pintu. "Argh, siapa pagi-pagi datang!" Ujarnya dengan nada kesal. Tapi bel rumahnya terus saja berbunyi lagi dan lagi. "Iya... iya! Aku tidak tuli dasar tamu brengsek!" Orizel terlihat sangat kerepotan berjalan dengan kruk. "Sungguh sial! Berjalan dengan benda ini sungguh hanya merepotkan saja!"



~~



Sesampainya di depan pintu, Orizel pun membuka pintunya, dan seketika ia pun dibuat menganga melihat orang-orang yang kini datang ke apartemennya.



"Ka- kalian...!"



"Hai Tuan Orizel!" Sapa pria yang kini berada persis di depan pintu kediamannya.



🌹🌹🌹



Halo my beloved readers, apa kabar? Semoga baik dalam lindungan Tuhan. Aku tak pernah henti bilang terima kasih buat kalian yang masih setia dengan novel ini. Dan tak lupa aku juga mohon maaf jika masih banyak kesalahan, baik typo dan juga hal lain yang banyak kurangnya. Teruntuk kalian yang sudah selalu vote, like dan ramein komentar tbh aku seneng dan berterima kasih banget, karena itu mood booster buat aku.



Oh iya yang tanya, kenapa thor gak buat novel baru?


Maaf banget aku gak bisa kaya author hebat lain yang bisa nulis novel 2-3 judul dalam satu jangka waktu. Jadi sabar ya... semoga bisa up novel baru yang mudah-mudahan disukai. So... terima kasih sekali lagi, buat kalian para pembaca kisah Ryu dan Sara 🌹🙏



Love -C