
"Paman Ryuzen!" seru Arvin sumringah, melihat Ryuzen ada di rumahnya saat ini.
"Arvin? Sejak kapan dia datang? Apa dia mendengar semua pembicaraanku dengan Ryuzen barusan? Tuhan... bagaimana ini? Bagaimana kalau Ryuzen benar-benar berniat akan mengambil Arvin dariku?"
Batin Sara cemas, memikirkan hal itu di kepalanya.
"Arvin sayang, kau... sejak kapan kau berdiri disana?" tanya Sara memastikan apakah putranya mendengar pembicaraannya dirinya dengan Ryuzen.
"Oh..., tadi itu aku merasa haus, lalu aku memutuskan untuk mengambil air di dapur. Eh malah tidak sengaja melihat ada Paman Ryuzen disini, jadinya aku berjalan kemari dan menghampiri kalian."
"Syukurlah..." ujar Sara, yang agak merasa sedikit lega setelah mendengar jawaban langsung dari Arvin.
"Oh iya mami.., karena ada Paman Ryu di sini, hari ini aku ingin pergi jalan-jalan dengan Paman Ryuzen, boleh kan?" ujar Arvin pada Sara.
"Bagaimana ini? Jujur saja, aku tidak ingin Arvin pergi dengan Ryuzen, tapi jika aku bilang tidak pasti Arvin akan sangat kecewa, mengingat dirinya begitu menyukai Ryuzen Han."
Sara yang bimbang pada akhirnya dengan berat hati mengizinkannya. "Baiklah kau boleh pergi, tapi ingat! Kau harus segera kembali sebelum jam 6 sore, okey...?" pesan Sara pada putranya.
"Yes Mami!" sahut Arvin paham.
**
Arvin akhirnya ikut Ryuzen, dan seperti biasa Arvin pasti duduk di sebelah Ryuzen yang kini tengah menyetir mobilnya.
"Paman Ryu..."
"Hemm..?" balas Ryuzen dengan ekspresi datarnya.
"Aku ingin, kita pergi ke taman tempat kita pertama kali bertemu saat itu," pinta Arvin
Mendengar itu, Ryuzen mengangkat sebelah alisnya dan dibuat bertanya-tanya di dalam pikirannya.
"Ada apa dengannya? Kenapa aku merasa dia terlihat sedikit berbeda dari yang aku lihat biasanya. Apa mungkin dia... tapi sudahlah, yang terpenting aku turuti saja dulu maunya saat ini."
"Baik jika itu maumu, kita pergi kesana sekarang...!" ujar Ryuzen yang kemudian langsung mengarahkan laju mobilnya menuju ke taman tersebut.
~~
Sara yang masih bekutat dengan kecemasannya, kini merasa semakin takut jika Ryuzen benar-benar akan mengambil Arvin dari sisinya. Sara pun berniat menelpon Gina sahabatnya, untuk membicarakan soal ini semua pada Gina.
Obrolan antara Sara dan Gina by phone ;
Gina : Halo, Sara ada apa?
Sara : Gina apa kau bisa datang ke tempatku saat ini?
Gina : Dengan sangat menyesal aku minta maaf, aku tidak bisa. Saat ini aku sedang ada di bandara, mendadak ada tugas yang memintaku pergi ke Singapura saat ini juga.
Gina : Sara kau baik-baik saja kan?
Sara : Tentu, aku baik-baik saja kok! Sudah kau fokus pekerjaanmu saja, okey...!
Gina : Kau juga jaga dirimu, jika ada masalah jangan sungkan-sungkan cerita padaku, mengerti?
Sara : Iya Ibu pengacara.., sudah ya aku tutup teleponnya, bye....
*tut.. mengakhiri panggilan
"Mau tidak mau aku harus selesaikan urusanku sendiri, aku memang tidak boleh terlalu bergantung pada orang lain!" ujar Sara serius.
~~
Ryuzen dan Arvin telah di taman tepat pertama kali mereka bertemu. Sepasang ayah dan anak ini pun, berjalan-jalan di sekitar taman yang kini masih belum terlalu ramai.
"Paman Ryu, kau ingat tidak bagaimana kita petama kali bertemu disini?" tanya Arvin tiba-tiba.
"Ya aku ingat, waktu itu kau hampir saja patah tulang karena jatuh dari atas pohon itu," kata Ryuzen melirik ke pohon yang hampir saja membuat Arvin dalam bahaya saat itu.
"Dan untungnya, kau langsung datang menangkapku saat itu," sahut Arvin mengingat kejadian itu.
Ryuzen tersenyum kecil mendegar hal itu.
"Paman Ryu... Paman itu sebenarnya Papi kandungku kan?" ujar Arvin tiba-tiba.
Pernyataan Arvin barusan pun, berhasil membuat ekspresi datar Ryuzen berubah menjadi tersentak kaget. "Jadi benar, ternyata kau memang sudah mendengar obrolanku dengan Sara tadi."
"Kenapa Paman tidak bilang dari awal, kalau Paman ternyata adalah Papi kandungku, dan kenapa Mami juga tidak mengatakannya padaku...?" ungkap Arvin sambil memainkan kedua jari-jari tangannya untuk menutupi rasa canggungnya.
"Arvin, soal itu bukan aku tidak mau memberitahumu, hanya saja...."
"Hanya saja karena mamiku tidak suka sama Paman ya begitukah?" sahut Arvin meneruskan ucapan Ryuzen. Ryuzen menundukan badannya dan berjongkok agar dapat menyentuh pundak kecil Arvin, kini ka menatap Arvin dengan penuh kehangatan.
"Kau tahu, saat aku tahu kau adalah putra kandungku, saat itu juga aku merasa sangat bahagia," ucap Ryuzen lembut dengan suaranya yang berat.
Arvin spontan memeluk Ryuzen dan berucap di dalam hatinya.
"Di tempat ini, pertama kalinya aku memeluk Paman Ryu dan saat itu kita tidak saling mengenal, dan hari ini, aku memeluknya lagi ditempat yang sama, sebagai orang yang paling aku nantikan, yaitu Papi kandungku. Tuhan kau baik sekali, terima kasih telah mengabulkan harapanku ini."
🌹🌹
Dukung Author dengan cara like, comment, vote dan klik favorite supaya gak ketinggalan update-update berikutnya. Thank you🌷