
~ Di dalam mobil
"Terima kasih banyak Gina, kalau kau tidak membantu, aku tidak tahu apa lagi yang akan Tina lakukan padaku dan Arvin kedepannya," ungkap Sara yang merasa sudah sangat di bantu oleh Gina.
"Sama-sama, tapi Sara, yang harusnya paling berhak atas ucapan terima kasihmu adalah Ryuzen."
"Apa? Apa maksudmu?" ucap Sara terheran-heran.
"Sara, aku memang yang menyelidiki kejahatan Tina. Tapi jika bukan karena Ryuzen yang membantuku sampai sejauh ini, aku tidak akan bisa menangkap Tina dengan semudah ini."
"Jadi, selama ini kau minta bantuan darinya," terang Sara.
"Aku awalnya hanya minta bantuannya untuk mendapatkan rekaman cctv untuk pembuktian, tapi tidak aku sangka ternyata dia melakukan sejauh ini."
"Sekali lagi, dan lagi, dia menolongku diam-diam tanpa aku mengetahuinya, dia melindungiku tanpa aku menyadarinya. Ryuzen terima kasih banyak atas semua yang kau lakukan," ungkap Sara dalam hati merasa berhutang banyak pada Ryuzen.
~Villa Constel
Sara baru saja selesai mandi dan bersih-bersih, Sara duduk sejenak untuk merilekskan tubuhnya. Hari ini Ryuzen katanya tidak pulang jadi Sara bisa santai malam ini.
"Hari ini benar-benar melelahkan, tapi aku bersyukur Tina sudah ditangkap, aku jadi bisa lega."
Sara yang kini duduk bersandar di sofa ruang utama pun, tiba-tiba teringat tentang Ryuzen dan perkataan Gina di mobil tadi, mengenai Ryuzen yang selama ini membantunya.
"Kenapa kau harus selalu saja menolongku? Kalau aku jatuh cinta padamu kan aku yang repot!" kata Sara lalu menghela nafas.
Karena sedikit bosan Sara pun iseng membaca media online di ponselnya, dan kali ini headlinenya adalah : CEO Emerald kepergok bersama Alin Yifei, aktris terkenal yang baru saja bercerai dari suaminya.
"Skandal baru lagi, kali ini dengan aktris lagi ya?" gumam Sara, yang entah merasa dirinya sangat terganggu dengan berita itu.
"Heh...! Mau itu aktris, mau pengusaha, mau model itu semua kan juga bukan urusanku. Lagi pula, banyak wanita-wanita di sekelilingnya kan bukan hal aneh," ungkap Sara diikuti senyum getir.
~Kairaku Bar n Lounge
Ryuzen duduk di meja bar, menghisap sebatang rokok di mulutnya dengan segelas anggur menemaninya.
"Kenzo bilang, hari ini kau hampir mencabut nyawa seseorang tapi tidak jadi, benarkah?" tanya Yoshiki yang tengah sibuk mengelap gelas-gelas mahalnya.
"Aku hanya ingat dia masih ada hubungan saudara dengan Sara, jadi tidak aku lakukan."
"Oh jadi karena Sara," Yoshiki mengangguk paham.
"Ryuzen akhir-akhir ini aku perhatikan prioritasmu selalu Sara, kau itu sepertinya benar-benar jatuh cinta padanya ya?"
Ryuzen tersenyum simpul mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
"Entah jatuh cinta, atau karena rasa bersalahku dulu terhadapnya atau karena terlalu sering bertemu dengannya, jadi timbul rasa peduli."
"Aku beri tahu ya, jika kau tidak suka padanya jangan beri dia terlalu banyak, bagaimanapun Sara itu juga perempuan, dia berhak mendapatkan pendamping yang benar-benar mencintainya dan hidup bahagia," tutur Yoshiki.
"Begitu ya?" jawab Ryuzen tersenyum dingin.
"Aku mau minun lagi..!" ujar Alin Yifei yang sudah mulai mabuk.
"Aku tidak ada waktu lagi menemanimu, minum sendiri saja." Ryuzen menolak dan sibuk menghisap rokok dimulutnya.
"Ryuzen, dulu saat masih dibangku sekolah, kau kan selalu membelaku dari anak-anak nakal, bukannya kau suka padaku. Lagian kau single, aku juga single, kenapa kita tidak pacaran saja," ucap Alin yang makin bicara ngelantur karena mabuk.
"Sejak kapan aku suka dengan wanita tua sepertimu?" balas Ryuzen dingin.
"Kejam sekali! Aku baru saja di cerai sekarang aku seperti sampah yang dicampakan begitu saja, uwah... apa tidak ada lagi yang mau peduli padaku?" Alin Yifei merengek di tengah tak sadarkan diri karena mabuk.
"Yoshiki panggil Jason kemari, dan suruh dia membawa wanita ini pulang!" ucap Ryuzen melihat Alin yang malah bergelantungan pada dirinya, sambil terus mengatakan hal-hal tidak jelas.
"Kenapa tidak kau saja yang antar wanita ini pulang, biar begitu dia kan dulu teman satu sekolahmu?" celetuk Yoshiki.
Ryuzen berdeham mencibir
"Kau ingin aku masuk berita utama lagi?" ucap Ryuzen
"Sayangnya, kau memang sudah masuk berita utama lagi nih!" Yoshiki menunjukan berita utama di salah satu media online yang berisi gosip dirinya dan Alin.
"Apa mereka (media) tidak bisa makan, jika tidak buat berita yang berbau kontroversial?" sindir Ryuzen dengan wajah datarnya.
"Tapi kau memang yang bawa dia kemari kan?" ungkap Yoshiki.
"Aku tidak sengaja bertemu dia di hotel saat menghadiri pertemuan rekan kerja. Dia menangis seperti orang gila, tidak tahu harus bagaimana terhadap wanita yang baru saja dicerai suaminya, jadi aku bawa saja dia kemari," jelas Ryuzen dengan santainya.
"Hei semua!" sapa Jason yang baru saja datang.
"Bagus kau datang sebelum aku minta, kau bawa wanita menyedihkan di sebelahku ini ke tempat manajernya!" tutur Ryuzen yang masih di gelendoti Alin.
"Aku kan baru tiba, malah langsung di suruh mengantar pulang wanita mabuk, huh!" ujar Jason merasa jengkel
"Dia baru saja di cerai, kau sebagai teman sekelasnya saat SMA harusnya memang menolongnya bukan," ucap Yoshiki pada Jason.
"Bicara mudah, tapi baiklah..." ucap Jason pasrah dan akhirnya bersedia mengantar Alin pulang.
"Ryuzen, apa sudah kau mau pulang?" kata Jason bertanya.
"Sudah pasti harus pulang, kan dia punya istri" celetuk Yoshiki.
"Oh iya, sejak menikah kau itu jadi jarang ke kairaku ya?" ungkap Jason.
"Begitukah?" balas Ryuzen mematikan putung rokoknya di asbak.
Ryuzen pun bangun dari duduknya, dan mengangkat satu tangannya lalu pergi meninggalkan kairaku tanpa melihat ke arah Yoshiki ataupun Jason.
"Aku pergi duluan...," ujar Ryuzen.
πΉπΉπΉ
Like, comment, vote jangan lupa ... π·π