Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chapter 123 : See ya...


Keesokan harinya, saat sudah di dalam kereta untuk menuju ke Cardia, di dalam perjalanan Sara terus-menerus menghubungi Ryuzen, namun tidak juga ada hasilnya. Ponsel Ryuzen, tetap saja tidak aktif, bahkan pesannya yang ia kirim semalam pun masih ceklis 1 alias belum dibaca sama sekali. Sama halnya dengan Ryuzen, Sara yang berharap bisa mengetahui kabar Ryuzen lewat Kenzo pun hanya sia-sia, pasalnya ponsel milik Kenzo juga tidak aktif sama sekali, hal tersebut membuat Sara jelas-jelas semakin tidak tenang memikirkan apa yang terjadi pada suaminya saat ini.


"Ryuzen..., kau baik-baik saja kan?" ucap Sara bernada cemas.


Sara kembali mengecek pesan yang masuk, ternyata ada 2 pesan masuk tapi bukan dari Ryuzen, melainkan dari Thomas dan Orin, padahal saat ini dirinya ingin sekali mendengar suara Ryuzen, bahkan menyentuhnya, tapi jarak dan takdir seolah memisahkan mereka saat ini.


"Sekarang aku hanya bisa berharap semoga Ryuzen baik-baik saja," ujar Sara di dalam hatinya.


Sesampainya di stasiun kota Cardia, Sara yang sudah ada di stasiun sambil membawa koper, kembali mengecek ponselnya sesekali hatinya berharap akan ada pesan atau panggilan masuk dari Ryuzen. Namun nyatanya nihil adanya...


Sara pun hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba untuk tetap berpikir positif tentang Ryuzen saat ini.


"Mungkin dia memang sedang sangat sibuk, jadi sengaja mematikan ponselnya supaya tidak terganggu sama sekali, tapi....


"Tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk begini. Dia pasti sedang baik-baik saja, dan hanya sibuk saat ini," ucap Sara sambil menggelengkan kepalanya seraya menepis pikiran negatif yang hinggap di dalam kepalanya saat ini.


Saat hatinya tengah gundah memikirkan Ryuzen yang tak kunjung mengabarinya, tiba-tiba terdengar suara sesorang dari arah sebrang Sara kini berada, memanggil namanya.


"Sara....!"


Sara pun menoleh ke arahnya suara itu berasal.


"Jesper!" ucap Sara yang kemudian menghampiri teman kecilnya tersebut. Sara berjalan mendekati Jesper yang kini sudah ada di hadapannya.


"Jes, bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Sara.


"Aku habis ziarah ke makam kakek dan nenek, dan aku dengar dari Thomas, kau akan pulang ke Cardia jadi aku memutuskan untuk menjemputmu di stasiun," terang Jesper di ikuti senyum hangatnya yang bagi Sara hal itu adalah ciri khas seorang Jesper.


Sara akhirnya di antar Jesper dari stasiun menuju ke kediaman lamanya, yang kini sudah kosong sejak di tinggalkan oleh Tina yang kini sudah menjadi tahanan, dan bibinya Yora yang pergi melarikan diri entah kemana.


"Jadi, kau akan tinggal di rumah lama itu?" tanya Jesper sambil terus fokus menyetir.


"Ya..., aku akan bersihkan rumah itu, karena bagaimana pun rumah itu milik mendiang ibuku sejak ayah meninggal," tukas Sara yang wajahnya jadi agak sedikit sendu teringat kedua orang tuanya yang sudah tidak ada.


"Sara..., aku sebenarnya datang kemari juga sekalian ingin pamit langsung padamu."


"Pamit? Apa maksdumu?" tanya Sara yang terlihat bingung.


"Aku sudah mengundurkan diri sebagai corporate lawyer di Emerald, dan aku ingin meneruskan sekolah seniku di paris," tukas Jesper yang kini sedikit memperlambat laju mobilnya.


Sara tersenyum kecil, "Jes, bisa kau menghentikan sebentar mobilnya?" pinta Sara, Jesper pun menurutinya. Mereka berdua kini menepi dan keluar dari mobil, di hadapan mereka saat ini sudah membentang luas ladang yang di tumbuhi banyak ilalang yang bergerak tak beraturan karena tertiup angin musim gugur. Segar dan menenangkan itulah yang di rasakan Sara saat itu.


"Kenapa kau tiba-tiba minta berhenti?" tanya Jesper.


Sara menarik nafasnya kuat-kuat merasakan hembusan angin dan menghembuskannya, Sara melangkah berjalan menyusuri ladang ilalang yang ada di depannya tersebut, dengan Jesper yang kemudian mengikutinya dari belakang.


"Jes, kau ingat tidak? Waktu kita kecil dulu, kita suka bermain di ladang ini kan?" ucap Sara yang kini tengah merentangkan kedua tangannya sambil berjalan menyentuh ilalang yang tinggi menjulang di sekelilingnya.


Jesper tersenyum kecil, ia mengingat kenangan masa kecilnya bersama Sara terdahulu di kota ini, kenangan yang membuatnya sulit melupakan wanita yang kini berjalan di depannya tersebut.


"Aku ingat, kita sering bermain sepeda di sini, dan dulu Tina sering sekali mengerjaimu sampai-sampai kau menangis, dan saat itu terjadi, kau akan selalu berlari sambil menangis untuk mengadu kepadaku,"


Sara tertawa geli, mengingat hal itu.


"Hem, masa kecil memang sungguh indah dan lucu bila di ingat saat kita sudah dewasa."


"Ya kau benar! Bahkan terkadang aku masih suka berandai-andai ingin sekali menjadi anak kecil selamanya," ujar Jesper.


"Supaya aku bisa terus bersama-sama denganmu Sara..." lirih Ryuzen jauh di lubuk hatinya.


"Apa kau juga pernah berpikir sepertiku?" tanya Jesper


"Tentu saja pernah! Tapi setelahnya aku tersadar, jika hidup ini bukan untuk mundur ke belakang, melainkan maju untuk menentukan masa depan. Masa lalu memang indah, tapi ada kalanya kebahagiaan masa lalu yang terlalu kau harapan bisa diulang kembali, malah akan menenggelamkan hidupmu sendiri dalam ke putus asaan yang akan menghancurkan dirimu sendiri."


Jesper tersenyum, mendengar untaian kata yang baru saja terlontar dari bibir wanita cantik yang membelakangi dirinya saat ini.


Sara menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan Jesper, "Selang kejadian kelam di malam itu, awalnya aku benci dan marah, bahkan aku selalu mengutuki hidupku setiap saat, merasa Tuhan tak menyayangiku. Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, diriku mulai belajar untuk bisa mencintai dan mensyukuri setiap anugerah yang Tuhan berikan untukku sampai detik ini.


"Jes, pada hakikatnya kita tidak akan pernah tahu kebahagiaan apa yang sedang menunggu kita di masa depan, jika kita hanya meratapi masa lalu dan tidak melakukan apa-apa."


Jesper bertepuk tangan, seraya memberikan sebuah pujian untuk Sara sambil menguntai senyum pada bibirnya. Sara yang membelakanginya pun menoleh ke arah Jesper yang masih bertepuk tangan dan tersenyum di hadapannya.


"Kenapa kau bertepuk tangan begitu?" tanya Sara yang agak bingung.


"Aku hanya sedang memberikan pujian, untuk Sara kecilku yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang luar biasa," pungkas Jesper.


Sara pun hanya tertawa kecil mendengar hal yang diucapkan Jesper sambil tersipu malu.


Seketika Jesper melihat ke arah jam tangan miliknya, waktu pun menunjukan sudah saatnya dirinya berpamitan dengan Sara untuk terbang ke Paris hari ini.


"Sara, maaf sepertinya aku sudah harus pergi sekarang, pesawatku berangkat Sore ini, jadi maaf sekali aku tidak bisa menemanimu berlama-lama di sini," ujar Jesper.


Sara mendongak memandang Jesper yang tingginya hampir sama dengan Ryuzen, menatap Jesper dengan tatapan teduhnya. Sara memeluk Jesper singkat kemudian melepaskannya, Jesper sedikit tertegun melihat Sara memeluknya tadi.


"Jesper, pergilah...! Kau harus kejar impianmu, aku doakan kau sukses di sana, dan jika kau kembali nanti, aku harap kau pulang sebagai Jesper sang pelukis handal!" terang Sara yang kemudian tersenyum.


"Kau juga, aku berharap kau selalu di limpahkan kebahagiaan dan dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangimu."


"Oh iya Sara, aku akan mengantarmu dulu sampai ke rumahmu baru aku berangkat!" terang Jesper


"Oke," Sara pun mengangguk setuju.


Jesper sampai mengantarkan Sara di depan kediamannya yang ada di Cardia. Sara membuka sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu untuk keluar, hingga tiba-tiba di tahan sebentar oleh Jesper,


"Ada apa lagi Jes?" tanya Sara


"Aku hanya ingin mengucapakan, Selamat..., tidak! Sampai berjumpa lagi Sara, hiduplah bahagia dengan segala pilihan hidupmu..."


Sara tersenyum memandang Jesper di hadapannya lalu membalas ucapan Jesper, "Sampai jumpa lagi Jesper, aku akan selalu merindukanmu..." ujar Sara yang kemudian keluar dari mobil


"Kau juga harus bahagia Jesper!" batin Sara melihat mobil jesper yang kini telah melaju pergi, dan semakin menghilang dari pandangan matanya.


~~


Seorang bodyguard yang semalam tengah menangkap Ryuzen melangkah dengan cepat menghampiri Lizo, yang kini tengah menikmati sebotol alkohol di pagi hari di dalam ruangannya.


"Bagaimana?" ucap Lizo.


Bodyguard itu memberikan sebuah kotak yang mana di dalamnya terdapat sebuah kemeja yang telah berlumuran darah.


"Kami sudah membereskannya Tuan!" ucap si bodyguard.


Lizo tertawa penuh kemenangan, ia merasa puas bisa membinasakan seorang Ryuzen Han pewaris utama grup Emerald yang terkenal, yang beberapa telah mempermalukannya di kasino beberapa waktu lalu. Lizo mengambil ponselnya yang ada di sebelahnya, dirinya menghubungi seseorang dari ponsel tersebut.


"Tuan, aku sudah selesai melaksanakan tugasku! Aku tidak sabar lagi melihat anda berdiri di tahta tertinggi grup Emerald," ucap Lizo di dalam percakapan teleponnya.


"Begitukah? Okey.... kita lihat bagaimana kinerjamu nanti, karena jika kau mengecewakanku aku tidak akan lagi bisa membantumu!" jawab seseorang yang tengah berbincang dengan Lizo di telepon saat itu.


*klik mematikan ponsel


"Ryuzen pria malang! Aku sudah tidak sabar lagi menunggu media mengumumkan berita yang menggemparkan negeri ini, berita tentang tragedi kematian CEO paling tersohor di negeri ini." Lizo pun kembali meneguk botol minumannya lalu tersenyum puas.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Like, vote, comment.....


Btw Author sekali lagi mau berterima kasih sama yang sudah setia nginkutin cerita Author dari awal maupun yang baru baca. And Thanks to you all yang udah mau vote dan kasih saran, kritik, dan pujian. I really wanna say big thanks! ๐Ÿ™