Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 79


"Siapa berani menggangguku dan istriku dikala begini?!" Ujar Ryuzen dengan nada kesal.


"Sudahlah sayang, buka saja pintunya dahulu." Ryuzen bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu kamarnya. Tapi sebelumnya, ia terlebih dulu menutupi tubuh atletisnya itu dengan mantel piayama tidur, barulah ia membuka pintu kamarnya itu. Ternyata yang ada dibalik pintu adalah bibi Rachel yang datang dengan membawa, nampan yang berisi penuh menu makan malam untuk Ryu dan Sara.


"Tuan maaf aku mengganggu anda, aku hanya ingin mengantarkan makan malam untukmu dan juga nona."


Ryuzen ternyata juga baru ingat, jika dirinyalah yang sengaja meminta bibi Rachel untuk membawakan makan malam untuknya dan Sara ke kamar mereka, supaya bisa makan malam berdua saja di dalam kamar.


"Oh iya, silakan taruh makananya di sana." Setelah memasuki kamar Ryu, bibi Rachel pun langsung saja memindahkan satu persatu makanan dari nampan yang dibawanya itu, ke atas meja berukuran sedang, yang memang sengaja disiapkan oleh Ryuzen jika sewaktu-waktu dirinya dan Sara ingin makan atau sarapan di dalam kamar.


"Maaf karena sudah merepotkanmu ya Bibi," ucap Sara sungkan pada bibi Rachel.


"Tidak apa nona Sara, aku justru senang bisa melayanimu dan tuan muda dengan sepenuh hati."


"Terima kasih bibi, kau baik sekali," balas Sara dengan ramah.


Setelah selesai menata hidangan makan malam tersebut di atas meja, bibi Rachel langsung mempersilakan Ryu dan Sara untuk makan, kemudian pamit pergi dari kamar.


~~


Sara dan Ryu kini sudah bersiap untuk menyantap makan malam mereka. Tapi lagi-lagi ada saja yang mengganggu, kali ini siapa yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Kali ini apa lagi?" Raut wajah Ryuzen benar-benar terlihat masam kali ini.


"Biar aku saja yang buka pintunya ya," timpal Sara yang sudah hampir beranjak dari kursinya


"No! Kau duduk saja dan jadilah ratu untuk saat ini. Biar aku saja yang buka pintunya."


Sara pun menurut dan tidak jadi bangun dari duduknya. Ryuzen yang telah bangkit dari kursi, langsung saja berjalan untuk membuka pintu untuk kedua kalinya. Dengan mood yang tentunya tidak baik bagi yang melihatnya, pintu pun terbuk dan, "Selamat malam papi..."


Ryuzen melongo melihat yang datang ke kamarnya kali ini ternyata adalah anaknya sendiri. Dengan tampang polos dan menggemaskan, Arvin langsung mencoba menerobos tubuh Ryuzen yang masih berdiri kokoh di ambang pintu kamar.


"Eit! Mau kemana?" Ryuzen menarik mundur kerah piyama Arvin.


"Aku mau bertemu mamiku, memangnya kenapa?"


Ryuzen mengehela napas sejenak, kemudian menunduk, dan menatap pria kecil yang wajahnya mirip dengan dirinya itu.


"Mami Sara sedang istirahat, jadi besok saja kembali lagi kemari, atau kau bisa tinggalkan pesan setalah nada beeeppp...."


Memang benar apa kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Arvin yang tidak mau dengan mudahnya dibohongi oleh papinya itu tentu tidak kehabisan akal. Arvin mulai menarik napas dan mulai berteriak dengan agak keras, "Mami..., kakiku sakit dan aku tidak diizinkan menemui mami oleh orang tua ini!"


"Ssttt...."


Ryuzen membungkam mulut Arvin dengan tangannya. "Berhenti berteriak, atau nanti aku lempar kau dari atas sini?" Ancam Ryuzen yang tentu saja tidak serius berkata begitu.


Arvin mengangguk paham, Ryuzen pun melepaskan bekapan tangannya itu.


"Baiklah... kau boleh masuk!" Tanpa berkata apapun, Arvin langsung saja menerobos masuk kamar orang tuanya. Sara agak kaget melihat kedatangan putranya itu di kamarnya, Arvin yang sudah siap dengan piyamanya langsung saja merangkak naik ke atas ranjang besar orang tuanya.


"Tadi kau bilang tidak jadi tidur dengan mami, kenapa malah kemari?" Ucap Sara sembari menyendok hindangan makan malamnya ke atas piring.


"Aku berubah pikiran, aku mau tidur bersama mami.... boleh kan? Malam ini.... saja. Ya? Ya? Ya...?"


Kenapa anak ini jadi agak manja begini ya? Apa mungkin benar yang orang katakan jika anak akan punya adik tiba-tiba akan jadi manja pada ibunya?


Meski begitu, tentu saja Sara akan dengan senang hati mengizinkan Arvin tidur bersamanya, tapi bagaimana dengan Ryuzen?


"Yeiy Mami mengizinkan, tapi papi..."


"Boleh!" Ujar Ryuzen yang baru saja kembali duduk di atas kursi untuk menyantap makan malamnya.


"Tapi hanya malam ini saja, okey?"


"Siap!" Arvin bersikap hormat tanda setuju dengan persyaratan Ryu.


"Arvin, kau mau makan malam lagi?" Sara menawarkan makan malam untuk kedua kalinya. Sayangnya Arvin menolak dengan alasan jika dirinya tidak mau jadi gemuk karena makan melebihi porsinya. Akhirnya Sara dan juga suaminya itu menyantap makan malam mereka, sementara Arvin berada di ranjang sambil memainkan game di tablet miliknya.


~~


1 jam kemudian~


Sara dan Arvin sudah berada diatas ranjang. Lain halnya dengan Ryuzen, yang malah masih saja terlihat duduk diatas sofa berjibaku dengan laptopnya. Melihat suaminya sibuk begitu Sara sebenarnya tidak mau mengganggunya, tapi dirinya tidak ingin Ryuzen terlalu lama berjaga. Mengingat Ryuzen akhir-akhir ini sering kurang tidur bahkan tidak tidur sejak dirinya terkena masalah. Beruntung, putranya yang cerdas itu langsung berinisiatif untuk membuat sang ayah berhenti dari pekerjaannya, dan ikut bergabung tidur bersama dirinya dan Sara.


"Mami, ayo kita tidur... mami harus banyak istirahat suapaya tidak cepat tua seperti papi."


Sesuai dugaan Ryuzen kecil alias Arvin, nyatanya ucapanya itu berhasil membuat Ryuzen beranjak dari sofa dan bergabung bersama dirinya dan Sara naik ke tempat tidur. Dan lagi-lagi kedua pria itu bertengkar soal posisi tidur, tapi mau bagaimana lagi, kali ini Ryuzen harus mengalah, karena dirinya tahu betul putra semata wayangnya itu pasti rindu sekali dengan maminya hingga bersikap manja begini. Hingga semuanya sepakat jika Arvin tidur diantara Sara dan Ryu.


"Baiklah sayangku, sekarang kau tidur ya..?" Pinta Sara pada Arvin dengan nada lembut.


"Umm, mami. Sebelum aku tidur aku ingin cerita, soal kenapa aku bisa meminta bibi Erika akhirnya bersedia bersaksi untuk mami."


Sara dan Ryuzen tentu saja sedikit tak menyangka, Arvin tiba-tiba membahas hal itu, padahal Sara dan Ryu belum memintanya untuk bercerita.


"Tapi kalian janji ya, jangan marah padaku?" Tukas Arvin.


Sara mengangguk tanda dirinya berjanji tidak akan marah.


"Papi juga jangan marah ya?" Tanya Arvin untuk meyakinkan sang ayah tidak akan marah pada dirinya atau siapapun.


"Ya aku berjanji! Sebagai seorang pria sejati."


Arvin mengangkat kedua kelingkingnya, dan meminta Sara serta Ryu untuk mengaitkan kelingking mereka ke kelingkingnya sebagai tanda perjanjian. Ryu dan Sara pun melakukan janji kelingking itu pada akhirnya.


"Baiklah Papi dan Mami sudah Janji padaku!"


Arvin pun mulai menceritakan apa sebenarnya yang membuat dirinya bisa berhasil membujuk Erika agar mau menjadi saksi di persidangan Sara.


"Jadi begitu ya ceritanya...," gumam Sara.


Sara terlihat diam, ia hanya mengulurkan sebuah senyum kecil setelah mendengar cerita dari Arvin barusan.


"Mami kenapa diam? Kau marah ya? Aku sungguh minta maaf karena melakukan hal itu tanpa sepengetahuan kalian orang dewasa, jadi maaf," ucap Arvin menyesal. Mata Sara kini berkaca-kaca, hingga membuatnya terharu dan langsung memeluk Arvin dengan erat ke dalam pelukannya.


"Bagaimana bisa aku marah, justru aku sangat bangga dan semakin menyayangimu Arvin sayang."


"Kau anak yang hebat nak," ujar Ryuzen yang turut bangga dengan putranya itu.


"Jadi kalian tidak marah?" Tanya Arvin pada kedua orang tuanya itu. Sara dan Ryu kompak menggeleng tanda mengiyakan mereka tidak marah sama sekali. Hal itu membuat Arvin senang sekaligus lega, karena akhirnya ia bisa menceritakan segalanya pada kedua orang tuanya.


"Kalau begitu, sekarang kau tidur ya?" Pinta Sara pada putranya itu lagi. Arvin yang sudah mengantuk pun pamit tidur kepada kedua orang tuanya itu.


"Papi, mami, selamat tidur!"


"Aku sayang Papi dan Mami," imbuh Arvin yang kemudian sudah mulai tertidur.


Secara bersamaan Sara dan Ryu pun memberikan kecupan selamat malam di kedua pipi anak laki-laki mereka yang menggemaskan itu, dan secara bersamaan berucap, "Kami juga menyayangimu Arvin."


Sara dan Ryu saling menatap dengan penuh kebahagiaan diantara mereka, kemudian mereka bangkit dan saling menggenggam erat lalu menatap Arvin secara bersamaan.


"Sepertinya kita harus beritahu jagoan kecil ini, jika dia akan jadi seorang kakak sebentar lagi."


"Kau benar Ryu, sepertinya kita harus segera beritahu kabar gembira ini pada Arvin."


Dua insan itu pun saling mendekatkan wajah dan berkecup mesra dengan singkat. Sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.


"Sepertinya memang malam ini kita ditakdirkan hanya boleh istirahat saja ya?" Ujar Ryuzen terdengar pasrah. Sara hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu.


"Selamat tidur sayang," timpal Sara.


"Selamat tidur juga istriku sayang," Balasnya dengan mesra. Dan mereka pun terlelap bersamaan. Bahkan indahnya malam mungkin terasa lebih indah bagi keluarga kecil ini. Mereka bertiga tidur diatas ranjang yang sama, dengan perasaan bahagia yang menghiasi hati, untuk menyambut hari esok yang menawarkan berjuta kisah yang berbeda.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update 😭. Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca cerita ini. Sekali lagi maaf karena sering tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian yang masih setia, masih sabar untuk membaca cerita sederhana dariku ini. Tapi tenang, meski mungkin banyak pembaca yang sudah pergi tapi aku akan tetap selesaikan cerita ini.


Terima kasih juga teruntuk kalian yang sudah mau tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote aku sangat berterima kasih atas apresiasinya.


Pokoknya sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian. Happy reading fellas and hopefully you like it.


For more info follow my instagram account @chrysalisha98 thank you.πŸ˜‰