
Di atas tempat tidur, Sara terlihat duduk sambil sibuk merajut sebuah selimut bayi. Benang berwarna pink pastel yang cantik itu, dirajutnya sedemikian rupa. Padahal belum tahu jenis kelaminnya, tapi entah mengapa Sara ingin sekali merajut benang berwarna merah muda itu menjadi selimut untuk anaknya kelak. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Sara harus repot-repot merajut selimut bayinya sendiri? Bukankah dengan kekayaan suaminya yang luar biasa, ia bisa saja meminta desainer terbaik dunia untuk membuatkannya selimut bayi untuk bayinya nanti.
~~
"Sayang... kau sedang apa?" Tanya Ryu yang baru saja kembali dari ruang kerjanya.
Sara tersenyum manis pada suaminya yang baru saja kembali itu. "Aku sedang merajut selimut untuk calon adiknya Arvin," jawabnya terlihat senang melakukan kegiatan itu.
Ryuzen langsung duduk disebelah Sara, membelai kepalanya dengan lembut dan menciumnya. "Kenapa kau harus sampai repot merajutnya sendiri? Kenapa tidak biarkan penjahit ternama saja yang melakukannya. Aku bisa, minta desainer terbaik dunia untuk membuatkan selimut dan pakaian terbaik untuk anak kita nanti."
Sara hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan suaminya itu, sambil dirinya yang tetap fokus merajut. "Aku tahu kau bisa lakukan apapun untuk anak kita. Tapi apa salahnya jika aku buat sendiri selimut untuk anakku sendiri, iyakan?"
Ryuzen bergeming, dirinya mengira jika Sara tersinggung dengan ucapannya tadi, yang seolah mengira selimut rajutannya tak akan sebagus buatan desainer ternama. "Sayang bukan maksudku untukー"
Sara menoleh ke arah Ryuzen yang belum selesai bicara. "Ya, memang benar buatan desainer handal akan lebih bagus. Tapi ada hal lain yang membuat selimut yang dirajut sendiri oleh seorang ibu untuk calon anaknya sangat spesial. Kau tahu apa?"
Ryuzen menggeleng tidak paham sama sekali.
"Karena selimut yang dirajut sendiri oleh seorang ibu untuk anaknya, di tiap rajutannya terdapat cinta dan kasih sayang seorang ibu. Sehingga si bayi bisa merasakan kasih sayang sang ibu lewat kehangatan selimut itu ditiap menggunakannya." Membicarakan hal itu, Sara tiba-tiba tersenyum senang. Dirinya jadi ingat saat pertama kali belajar menyulam demi membuatkan selimut untuk Arvin dulu.
"Kenapa kau tersenyum begitu sayang?" Tanya Ryuzen penasaran.
"Bukan apa-apa, aku hanya jadi ingat saat dulu setelah melahirkan Arvin. Waktu itu aku tidak punya cukup uang untuk membeli selimut bayi yang bagus untuk Arvin. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membeli benang rajut sendiri dan mencoba membuat selimut itu sendiri...," ujarnya sambil tertawa.
"Kau juga membuat selimut untuk Arvin?" Ujar Ryuzen tak menyangka.
"Heem," angguk Sara. "Aku buat sendiri. Kau tahu? Waktu itu aku belum tahu cara merajut. Tapi karena Arvin butuh selimut, akhirnya aku dengan nekat minta diajari oleh salah seorang nenek yang tinggalnya tidak terlalu jauh dari toko c-lovely. Dia sangat pandai merajut jadi ya aku minta saja dia untuk mengajariku," kenang Sara akan masa lalu itu.
Mendengarnya... Ryu merasa bangga tapi juga bersalah. Dirinya bangga dan bersyukur memiliki istri yang begitu baik dan penuh kasih sayang seperti Sara, tapi dirinya juga merasa sedih mendengarnya, mengingat seberat itu perjuangan wanita yang di cintainya itu, membersarkan Arvin tanpa dirinya bertahun-tahun.
Ryu memandangi Sara yang masih sibuk merajut, dengan mata sendu.
Maafkan aku Sara... di usia semuda itu kau harus jadi ibu dan juga ayah sekaligus. Disaat gadis seusiamu menikmati masa-masa merekahnya dengan berhiasakan cinta, cita dan impian. Kau malah sudah harus mengurus anak, dan sedihnya...aku tidak ada bersamamu saat itu.
Menyadari diperhatikan begitu, Sara pun langsung menoleh ke arah suaminya itu.
"Kenapa?"
"Tidak, hanya sedang memandangi istriku yang cantik dan luar biasa saja."
Sara hanya bisa senang dan agak tersipu mendengarnya. "Lihat! Sudah hampir jadi, mungkin hanya butuh sekitar satu jam lagi akー"
Ryu menghentikan ucapan Sara dengan mengecup bibirnya yang lembut itu dengan singkat. Sara pun agak kaget dibuatnya, "Kenapa tiba-tiba kau...?"
Ryuzen mengambil tangan Sara supaya melepaskan alat rajutannya itu. Didekatkannya tangan itu ke bibirnya, dan diciumnya. "Sayang... ini sudah malam, kau teruskan besok lagi ya. Aku tidak mau kau kelelahan atau kurang istirahat."
"Tapi Ryu... ini kanー" Tiba-tiba Ryuzen menempelkan telinganya ke perut Sara yang sudah mulai terlihat buncit. Ryu nampak seolah berinteraksi dengan calon anak di dalam perutnya itu. "Kau dengar nak, mamimu tidak mau dinasehati oleh suaminya yang lebih pandai darinya!" Sara tergelitik melihat Ryu yang bertingkah seakan-akan tengah mengadukan dirinya pada anak di dalam perutnya itu. Melihat tingkah Ryuzen yang baginya sangat menggemaskan, akhirnya membuat Sara luluh dan menuruti suaminya untuk segera istirahat.
Sara pun langsung membereskan alat rajutnya itu, kemudian merebahkan badannya di atas ranjang berukuran king size yang nyaman dan empuk. Hingga beberapa detik kemudian, Ryuzen pun menyusulnya dan memeluk istrinya itu ke dalam dekapannya.
"Ryu...."
"Ya sayang...." mengecup kening Sara.
"Kau lebih suka anak kedua kita laki-laki atau perempuan?"
Ryuzen tersenyum memandangi Sara yang kini berada dalam pelukannya. "Lelaki atau perempuan bagiku sama saja. Asal dirimu yang mengandung benihku, bagiku apapun jenis kelaminnya aku akan selalu suka."
"Begitu ya...?"
"Iya...! Jadi lebih baik sekarang... tidur ya ratuku..." Pinta Ryuzen pada Sara. Ia pun menurut, dan akhirnya merebahkan kepalanya di dada Ryu dan perlahan tertidur dalam dekapan hangat suaminya.
"Selamat tidur sayang....," bisik Ryu yang kemudian juga mulai terlelap.
~~
"Tenang aku harus tenang!" Kenzo mencoba menenangkan perasaannya yang tengah gugup saat ini. Bagaimana tidak, hari ini dan untuk pertama kalinya seumur hidup, dirinya berniat untuk menyatakan perasaannya pada seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya.
Berada dalam dinginnya hembusan angin malam, Kenzo kini sudah berada di depan apartemen Rina. Pria dengan bermantel panjang itu menggosok-gosok tangannya yang terasa dingin. Pikirannya melanglang buana, ia benar-benar gugup memikirkan bagaimana reaksi Rina nantinya.
"Aku bisa! Aku sudah latihan tiga ratus delapan puluh tujuh kali di depan cermin, harusnya aku bisa! Ayolah Kenzo ini saatnya menunjukan pada dunia betapa jantannya dirimu!" Kenzo terlihat mondar mandir, dengan kedua tanganya, yang dimasukan ke dalam saku mantel sambil menunggu Rina keluar menemuinya.
"Kenzo!" Terdengar seruan seorang gadis memanggil namanya. Seketika jantung Kenzo berdegup kencang dan tak beraturan, pria itu sebisa mungkin tenang dan menoleh ke arah dimana suara itu berasal.
"Rina...., maaf membuatmu malam-malam begini keluar," ucap Kenzo merasa tidak enak, melihat Rina yang keluar dengan piyama dan bermantelkan selimut.
"I- iy... hasyuhh!" Tiba-tiba Kenzo bersin karena terlalu lama kedinginan. Tidak tega melihatnya Rina pun mengajak Kenzo ke apartemennya.
~~
Di dalam, Rina langsung membuatkan secangkir teh hangat untuk Kenzo. "Maaf ya, apartemenku agak sempit, maklum saja gajiku hanya bisa menyewa yang seperti ini, " ujar Rina yang baru pertama kali mengajak Kenzo berkunjung ke apartemennya.
"Iya tidak masalah," balas Kenzo yang kemudian menyeruput teh hangatnya itu. Kenzo kini terasa lebih baik, mengingat dirinya kini sudah merasa hangat setelah minum teh hangat dan berada di ruangan dengan penghangat ruangan.
Rina dan Kenzo duduk bersebelahan, yang mana jarak diantaranya mungkin hanya sepuluh sentimeter.
"Um... jadi ada apa?" Rina memecah keheningan diantara mereka.
Tenang aku harus tenang...! Kenzo mulai membuka suaranya. "Jadi begini, maksud kedatanganku kemari adalah... um.. itu...." Heh! Kenapa aku tiba-tiba lupa semua dialog yang sudah aku latih ratusan kali! Kenzo seketika blank tidak tahu apa yang ingin dikatakan.
"Sebenarnya kau mau bilang apa Ken?" Tanya Rina kembali memancing pria itu untuk bicara.
Heh! Sudah sampai sini tidak mungkin mundur lagi kan? Lebih baik katakan saja semampu yang aku bisa! Kenzo tiba-tiba menghadapkan wajahnya ke wajah Rina, ia menatap Rina dalam-dalam.
Kali ini Rina yang dibuat gugup oleh tatapan Kenzo itu.
"A- ada apa? Kenapa... ke- kenapa kau menatapku begitu?" Ujar Rina gugup hingga tak berani menatap fokus Kenzo.
Kenzo meraih satu tangan Rina, alhasil Rina pun tersentak kaget menatap tangannya yang diraih oleh Kenzo. Apa yang ingin dilakukannya padaku? Kenzo menggenggam erat tangan Rina, matanya menatap gadis itu dengan pasti. Napasnya menghembus perlahan, "Rina... hari ini aku ingin mengatakan suatu hal, yang seumur hidupku ini adalah yang pertama kalinya, dan aku harap ini yang terakhir kalinya..." Rina mengerutkan keningnya, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Kenzo.
"Rina aku mencintaimu... maukah kau menerima cintaku?" Akhirnya Kenzo menyatakan perasaannya.
Seketika Rina mematung, bibirnya pun seolah kelu. "Ka- kau, barusan bi- bilang apa Kenzo?" Tanya Rina terbata-bata karena masih belum percaya.
"Aku bilang aku mencintaimu, maukah kau menerima cintaku nona Rina?" Kenzo mengulangi ucapannya.
Dia menyatakan cinta padaku tiba-tiba? Aku harus jawab apa? Aku aku suka padanya tapi... kalau tiba-tiba begini aku harus bagaimana?
Entah diterima atau tidak aku pasrah! Pikir Kenzo.
"Um Kenzo...." Kenzo menatap Rina yang menyebut namanya itu. "Kenzo, akuー"
"Kalau kau tidak bisa jawab hari ini tidak masalah, aku tahu pasti mengejutkan juga kan bagimu..." Senyum kecil Kenzo tersungging, dirinya sebenarnya cukup pesimis tapi nyatanya ia harus memberi waktu pada gadisnya itu untuk memantapkan jawaban dari hatinya.
"Kenzo...!" Lirih Rina.
Tangan Kenzo terlihat merogoh kantung dalam jasnya. Sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru diambil dari dalam sakunya. Kenzo meraih tangan Rina dan memberikan kotak itu padanya.
"Ini... apa Ken?" Rina bertanya-tanya.
"Kau simpan ini, kotak ini berisi cincin. Jawablah pernyataanku saat kau siap. Pakailah cincinnya saat kau menerimaku, dan... jika kau menolakku, tolong kembalikan padaku kotak itu bersama isinya," ungkap Kenzo.
Rina tersenyum haru, "Aku harap kau mau menunggu jawabanku."
"Aku akan selalu menunggumu," balas Kenzo tersenyum manis pada wanita dihadapannya itu.
"Nah sekarang! Aku pulang dulu ya... ini sudah malam."
Rina mengangguk lalu berkata, "Kau hati-hati ya..."
Kenzo pun melangkah pergi meninggalkan rumah gadis pujaan hatinya itu.
Apapun nanti jawabanmu, setidaknya aku sudah menyatakannya. Heh... semoga dia menerimaku!
~~
Pagi harinya sekitar jam sepuluh pagi, Ryuzen terlihat sedang mengendarai mobilnya, menuju ke suatu tempat. Diperjalanan tiba-tiba ponselnya berdering, ia pun langsung menyentuh handsfree-nya dan menerima panggilan tersebut.
"Aku paham!" Ucap Ryu dengan mimik serus kemudian langsung memutus panggilan itu.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya... Terima kasih ya untuk kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author mohon maaf, karena tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏.
Teruntuk readers baik hati yang sudah bersedia baca novel ini, jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa juga untuk bantu di SHARE novel ini, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti sekali buat aku.
Satu lagi temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya... buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana.
So Happy Reading 🌹