
Terpukau....
Mungkin kata itu adalah, satu kata yang tetap di ungkapkan oleh Sara saat ini. Ketika kedua mata yang baru saja terbukanya itu di hadapkan oleh sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang kini berada tapat di hadapan matanya. Pemandangan dari sebuah danau biru yang indah, ditambah kehadiran angsa - angsa cantik yang terlihat berenang di pinggiran danau dengan begitu menawan.
Panca indera wanita itu seolah di buat tidak ingin berkedip sama sekali karenanya.
"Wow... ini cantik sekali Ryu!" Pungkas Sara yang masih belum bisa berhenti mengagumi apa yang tengah dilihatnya saat ini.
"Kau menyukainya sayang?" Kata Ryuzen yang kini memeluk wanitanya itu dari belakang.
"Suka! Aku suka sekali...! Ini benar - benar membuatku tidak bisa berhenti untuk berkata, ini luar biasa."
"Aku senang jika kau menyukainya."
Untuk beberapa saat, sepasang suami istri itu terlihat begitu menikmati momen indah saat ini tanpa banyak bicara. Ryu yang mendekap erat Sara dari belakang, menautkan dagunya diatas kepala sang istri. Wangi aroma shampo yang biasa digunakan Sara terhirup jelas oleh indera penciumannya. Segar, arum, dan menenangkan, bahkan bisa memabukkan jika terlalu lama Ryu menghidunya.
"Ryu?"
"Ya..."
"Bagaimana bisa kau memikirkan hal ini? Kenapa kau selalu bisa selalu penuh kejutan?" Sara masih tidak menyangka, di tengah - tengah rencana liburan yang mendadak ini. Ryuzen ternyata masih bisa terpikir untuk menyiapkan segala kejutan untuk dirinya, bahkan sesuatu yang tidak pernah ia sangka - sangka sebelumnya.
"Jika kau mau, aku bisa berikan kejutan untukmu setiap hari," tukas Ryuzen yang terdengar bercanda tapi terasa serius.
Sara melepaskan dekapan tangan Ryuzen yang sejak tadi membelenggu tubuhnya dengan sangat protective. Ia membalikkan tubuhnya, menautkan kedua tangannya di leher dan pundak kokoh milik suaminya itu, lalu menengadah dan menatap lamat - lamat wajah tampannya.
"Tuan Ryuzen Han, apa kau tengah berpikir jika aku ini adalah odette si putri angsa?"
Pertanyaan Sara membuat Ryuzen tersenyum miring. Ia menjamah wajah cantik sang istri dengan jari - jarinya. "Jika kau odette si putri angsa, maka aku pangeran siegfried yang jatuh cinta pada seekor angsa yang sangat cantik." Ryuzen membelai lembut pipi merona milik istrinya itu.
"Tapi sayangnya aku bukan putri odette, aku hanya Sara si penjual bunga."
"Kalau begitu, aku pun hanya ingin menjadi pria yang memiliki si penjual bunga."
Sara tersenyum penuh rasa bahagia dibuatnya mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Ryuzen barusan.
"Kau tenang saja, aku memang akan selamanya selalu jadi pemilikku Ryuzen," ungkap Sara.
Direngkuhnya kedua tangan milik Sara itu dan di kecupnya mesra, "And you'll always be my queen Sara."
"I love you Ryuzen."
"I love you too."
"Terima kasih, untuk semuanya suamiku," ucapnya dengan nada manja.
"Hanya ucapan terima kasih saja?" Balas Ryu.
"Memang kau mau terima kasih yang seperti apa, coba cepat bilang padaku? " Ujar Sara seolah mendesak suaminya itu. Ryuzen pun langsung tersenyum miring dibuatnya, mendengar ucapan Sara barusan.
Baiklah kalau begitu...
Tiba - tiba, tanpa disangaka Ryuzen malah menggendong istrinya.
"Hei kenapa kau tiba - tiba menggendongku seperti ini? Ayo cepat turunkan!" Sara sontak dibuat kaget karena Ryuzen yang tiba - tiba malah menggedongnya ala bridal style.
"Kau bilang mau tau cara berterima kasih padaku bukan? Kalau begitu, cukup ikuti instruksiku saja dan lakukan apa yang aku minta."
Sara pun akhirnya hanya bisa berpasrah mengikuti mau suaminya, karena dirinya memang berujar demikian tadi.
Ryuzen menyuruh Sara mengaitkan kedua tangannya di lehernya.
"Lalu?" Tanya Sara lagi.
"Cium aku!"
"Heh? A -apa?"
"Tidak ada protes sayangku..."
Huft menyebalkan, lagi - lagi kena jebakan pria licik ini!
Karena tidak ada pilihan lain Sara pun melakukan apa yang diminta sang suami. Sara mencium pipi kanan Ryuzen.
"Sudah puas?"
"Yang seperti itu kau bilang mencium pasanganmu?"
Huft, aku tahu maksud Ryuzen ini apa, tapi ini kan di ruang terbuka.
Wajah Sara tiba - tiba memerah, dirinya tak ada pilihan lain. Sara yang tidak ada pilihan lain pun, akhirnya menarik wajah sang suami mendekat ke wajahnya, dan mengecup mesra bibirnya. Dan tanpa sadar keduanya saling menikmati tiap detik dalam pagutan itu. Hingga pada akhirnya setelah beberapa menit larut dalam sebuah kecupan mesra, mereka pun saling melepaskan dan memberi ruang untuk kembali bernapas normal.
"Bibirmu agak kering, kau jarang makan buah ya akhir - akhir ini?" Kata Sara yang merasakannya.
"Aku setiap hari makan buah punyamu kok!" Balas Ryuzen dengan santainya.
"Baiklah, aku akan makan banyak buah nanti. Tapi sekarang kita menikmati waktu di tempat ini dulu," pungkas Ryuzen yang kemudian membawa Sara dalam gendongannya menuju sebuah tempat.
"Kau mau bawa aku kemana lagi?"
"Nanti kau juga akan tahu."
~~
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah dermaga kecil. Ryuzen pun langsung menurunkan tubuh Sara dengan perlahan dari gendongannya.
"Kita mau apa disini?" Sara bertanya - tanya apa sebenarnya tujuan Ryu membawanya ke tempat ini. Tapi dirinya justru dibuat melihat Ryuzen tiba-tiba malah menaiki sebuah perahu dayung, yang sejak tadi sudah terlihat ada di dekat dermaga dalam keadaan kosong.
Dia ingin mengajakku naik perahu?
"Ayo sayang berikan tanganmu...!" Ryu mengulurkan tangannya tak lama setelah berada di atas perahu. Ia mengajak Sara untuk menaiki perahu yang telah dinaikinya tersebut. Sara pun langsung menurut, dengan segera ia meraih uluran tangan sang suami dan kemudian menaiki perahu tersebut.
Berada di atas perahu, membuat Sara hanya bisa tersenyum dan terus tersenyum. Dirinya kini sudah duduk di perahu dengan posisi berhadapan dengan sang suami yang sudah siap untuk mendayung perahu tersebut.
"Siap berlayar tuan putri?"
"Yes sir!" Balas Sara sambil tersenyum.
~~
Mereka pun berlayar mengelilingi danau, yang di sekelilingnya banyak angsa putih yang cantik. Benar - benar seperti kisah yang ada di dalam buku dongeng.
Aku tidak pernah menyangka, akan di cintai oleh pria di hadapanku ini. Pria yang jika dipikir dengan akal sehat, siapakah aku saat itu dihadapannya. Hanya seorang pemilik toko bunga sederhana, yang karena suatu kesalahan malah ditakdirkan menjadi ibu dari anak- anaknya. Dan kini aku berdua bersamanya bukan hanya sebagai ibu dari anak - anaknya. Tapi sebagai wanita yang memiliki hatinya.
Ryuzen ternyata sadar betul jika Sara, sejak tadi tengah memperhatikannya, sambil senyum - senyum sendiri.
"Kalau terus melihatku sambil senyum-senyum begitu, jangan salahkan jika aku jadi liar di atas perahu ya...?" ujar Ryuzen menatap Sara dengan tatapan menggodanya, sambil terus mendayung
"Eh, ti - tidak! Siapa juga yang memperhatikanmu. Aku hanya tidak menyangka kau pandai mendayung perahu, itu saja." Sara jelas mengelak untuk mengaku.
"Begitukah? Kau harus tahu, jangankan hanya mendayung perahu, apapun bisa aku lakukan, jika kau yang minta Sara," ujarnya.
Ryuzen tiba -tiba berhenti mendayung. Ia malah beralih menatap Sara dalam - dalam, wajahnya semakin dekat, hingga membuat Sara jadi mulai gugup. "Ka- kau mau apa?" Tanyanya sambil menarik dirinya, yang mencoba menjauh dari tatapan mata tajam suaminya yang seperti tidak pernah berkedip itu.
"Menurutmu kalau suami begini pada istrinya, tandanya mau apa?" Bisikan Ryuzen membuat Sara bergetar dan tak karuan.
"Ta- tapikan kita masih diatas perahu," gumam Sara yang wajahnya mulai memerah. Dan lucunya Ryu malah dibuat terkekeh karena melihat tampang malu -malu istrinya saat ini.
"Ke- kenapa kau malah tertawa begitu?"
"Kau kira aku mau menyentuhmu ya?"
Eh! Apa maksudnya?
"Ja- jadi, kau... Tapi kenapa kau mendekati tubuhmu begitu padaku?" tanyanya Sara menahan rasa malunya.
"Aku hanya mau mengambil ini!" Ryuzen terlihat mengambil sebuah keranjang makanan yang tanpa diketahui Sara ternyata berada persis tepat di dekat ia duduk saat ini.
Jahatnya... Aku jadi seolah yang berpikiran mesum saat ini.
Sara mengerucutkan bibirnya yang berwarna merona tersebut, tanda dirinya tengah merajuk saat ini.
"Maaf ya, tapi kalau kau mau kita lakukan disini aku juga akan dengan senang hati melakukannya kok."
"Ryuzen kau menyebalkan!" Pekiknya dengan ekspresi ngambek yang justru terlihat menggemaskan bagi Ryu, hingga membuatnya tertawa kecil.
"Ya sudah jangan cemberut lagi lebih baik kita makan dulu saja ya, aku tidak ingin istri dan anakku kelaparan saat ini," kata Ryuzen melihat ke arah perut istrinya itu.
Karena ini soal bayinya, mau tidak mau pun Sara akhirnya harus setuju juga dengan perkataan Ryuzen tersebut. Alhasil mereka berdua pun menikmati makanan yang ada di dalam kerjanjang diatas perahu dayung di tengah danau.
๐น๐น๐น
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.๐ Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐
Happy reading and hopefully you like it all....
---
BTW dari dulu banyak yang minta visual Sara x Ryu. setelah semedi selama 1000 purnama akhirnya dapat juga visual yang hampir mirip sm di bayanganku selama ini ๐คฃ.
yang penisirin visual Sara dan Ryu nih aku kasih. Di latar ceritaku mereka emang setting negaranya paduan jepangxhongkongxeropa gitu makanya ku buat Negara ZK (ngarang ๐คฃ), jadi muka2 orangnya ya emang blasteran asiaxeropa gtlah. Jd kira-kira bentukannya Sara sm Ryu tuh gini.