
Alin mendapat nomor 1 yang mana itu juga nomor yang di dapat oleh Jason, otomatis nomor 3 ada ditangan Ryuzen dan Rony yang kini sudah saling menatap satu sama lain. Tak mau basa-basi Ryuzen langsung meminta pertandingannya segera dimulai. Pertandinga pun diawali dengan persaingan antara Alin dan Jason.
"Kalau kalah! Kau jangan mengompol ya!" ujar Jason.
"Aku kalah darimu? Jangan bermimpi dokter Jason!" balas Alin
Yoshiki pun seolah menjadi wasit, dan pertandingan pertama pun dimulai antara Alin dan Jason. Selama beberapa menit mereka bertanding dan akhirnya Alin pemenangnya.
"Sudah kubilang kau jangan bermimpi!" ujar Alin pada Jason yang kini tertunduk lesu kerena kalah.
Kini giliran pertandingan antara Sara melawan Erika. Mereka berdua sudah menunggangi kuda milik mereka masing-masing dan bersiap bertanding.
"Sara kalau kau takut, aku sarankan kau mundur dari sekarang! Karena aku bukan orang yang setengah-setengah dalam berkompetisi, sekalipun kompetisi yang tidak resmi."
Sara hanya tersenyum lalu membalas ucapan Erika barusan, "Nona Erika, aku hanya ingin mengingatkan saja. Bersikap jumawa sebelum pertandingan itu adalah awal yang buruk!"
"Heh! Lebih baik kau persiapkan dirimu dan jangan sampai menangis Sara."
"Aku ragu hal itu akan terjadi," balas Sara.
Ryuzen menatap Sara, wajahnya tenang namun terlihat masih ada gurat khawatir di senyum yang ia berikan pada Sara saat itu. Sara pun mengerlingkan sebelah matanya pada Ryuzen, seolah mengisyaratkan jika dirinya akan baik-baik saja.
Yoshiki pun memulai aba-aba "Baiklah! Kalian berdua siap?"
"Kami siap!"
Duar! Tembakan pun diluncurkan tanda pertandingannya dimulai.
Dengan sekejap Erika mengambil alih sebagai pemimpin pertandingan.
"Alin, kau mau bertaruh tidak? Siapa yang akan menang menurutmu?" ujar Jason.
"Aku dukung istrinya tuan muda Han!" balas Alin.
"Heh kau yakin! Bagaimana jika kau kalah? Kau tahu Erika itu sangat mahir berkuda."
"Aku tahu! Tapi perasaanku bilang Sara akan menang. Jika aku kalah, lamborghini keluaran baru milikku akan jadi milikmu! Tapi jika aku yang menang, kau harus mengenakan pakaian badut saat bertugas di rumah sakit selama dua hari. Bagaimana? " balas Alin
"Setuju! Aku yakin Erika menang!" Alin dan Jason saling berjabat tangan.
Ryuzen dengan seksama memperhatikan pertandingan itu dan mengawasinya hampir tanpa berkedip, memastikan istrinya baik-baik saja.
"Jason aku ikut bertaruh! Jika istriku kalah, akan aku izinkan kau masuk ke laboratorium di Anglo. Tapi jika kau kalah kau harus bekerja untukku selamanya."
"Ryuzen, tiba-tiba? Dan kenapa setelah kau bilang begitu aku jadi punya firasat buruk ya," ucap Jason yang tiba-tiba turun percaya diri.
Sara tetap fokus ia memacu kudanya. "Viona, ayo kita tunjukan kekuatan kita pada Erika!" ucap Sara pada kudanya hingga akhirnya Sara bisa menyusul Erika dengan hitungan detik saja.
"Sara? Ba... bagaimana bisa dia melaju selincah dan segesit itu. Jangan-jangan...!" Erika terlihat sangat tecengang melihat Sara yang bisa berkuda dengan sangat baik dan bahkan menyusulnya.
Akhirnya pertandingan pun dimenangkan oleh Sara bersama dengan kudanya viona. Sara segera turun dengan dibantu oleh Ryuzen yang menangkapnya turun dari atas pelana.
"Kau tidak pernah berhenti membuatku berdecak kagum!" tutur Ryuzen pada Sara yang kini ada di gendongannya.
"Astaga! Sara kau luar biasa!" seru Alin yang merasa senang sekaligus tak menyangka, Sara bisa memenangkannya. Erika sendiri hanya bisa gigit jari dan memasang wajah masam miliknya.
"Kau memang hebat Sara!" puji Rony di dalam hati.
Sara menghampiri Erika yang baru saja turun dari atas pelana kuda miliknya.
"Erika itu tadi menyenangkan, kapan-kapan kita bertanding lagi ya!" ucap Sara diikuti senyumnya.
"Kau tidak pernah berlatih dan ini pertama kalinya, bagaimana bisa kau-"
"Aku memang bukan sepertimu yang sejak lahir kaya raya dan bisa pergi berlatih di pacuan kuda setiap hari. Tapi hanya karena aku tidak kaya, bukan berarti aku tak bisa melakukan yang apa yang kau bisa lakukan. Ku beri tahu sedikit,saat aku di Cardia aku sering membantu pamanku di perternakan kuda sejak usia tiga belas tahun, jadi aku tidak asing dengan kuda-kuda ini." Sara mengelus Viona.
Erika terlihat geram dan tak terima, "Sara sialan! Aku benar-benar membencimu!"
"Pantas Sara begitu mudah akrab dengan kuda-kuda itu. Istriku memang luar biasa."
"Sara terima kasih sudah menang, mulai besok kau akan lihat dokter Jason pakai pakaian badut di rumah sakit," ujar Alin diikuti gelak tawanya.
"Dan kau harus turuti semua perintahku!" sahut Ryuzen.
"Sudah selesai tertawanya?" ujar Rony yang sudah menunggangi kuda miliknya.
"Sepertinya pertarungan terakhir sudah harus di mulai!" kata Jason
"Baiklah..." Ryuzen pun sudah bersiap menunggangi Archie.
"Kau pikir kau bisa dengan mudah melawanku paman? Kau akan lihat aku akan mengalahkanmu!"
"Wow! Aku menunggu momen itu Rony," balas Ryuzen dengan santainya.
Perlombaan terakhir antara Ryuzen melawan Rony pun akan segera di mulai. Paman dan keponakan itu sudah bersiap duduk diatas pelana kuda mereka masing-masing dan mengambil posisi. Sara dari tempatnya berdiri tersenyum ke arah Ryuzen, guna menyemangati suaminya itu dari tempat ia berada saat itu. Ryuzen pun membalas senyuman itu dengan kerlingan matanya. Melihat Sara dan Ryuzen, hal itu jelas membuat Erika sangat tidak suka dan cemburu di buatnya.
"Cih! berlaga romantis, menjijikan!"
Yoshiki mulai menghitung mundur sebelum menembakan peluru tanda pertarungan di mulai.
"Paman! Kau lihat saja hari ini aku akan mengalahkanmu!"
"Kau lihat saja nanti kejutan dariku!" Ryuzen tersenyum miring.
"Mulai!"
Pertarungan pun dimulai antara Ryuzen melawan Rony. Ryuzen memimpin di depan, dan beberapa saat kemudian Rony bisa menyusulnya.
"Wah! Ini baru seru!" ujar Alin.
"Ryuzen, Rony, aku harap kalian berdua baik-baik saja." Sara terlihat agak cemas melihat persaingan antara paman dan keponakan itu.
"Persaingan kalau sudah menyangkut hati itu menyeramkan!" pikir Jason.
Ryuzen dan Rony kini dalam posisi sejajar.
"Kau jangan meremehkan aku Paman!"
"Rony, aku tahu kemampuanmu sangat bagus dalam berkuda. Tapi aku tak akan kalah! Setidaknya membuatmu tahu diri itu adalah tujuan utamaku!" Ryuzen mengencangkan laju kudanya dan membalap Rony yang ada disebelahnya.
"Sial! Aku tidak akan kalah darimu, akan aku buat Sara melihat seorang Ryuzen Han kalah hari ini!"
Dengan gesit Rony mengarahkan kudanya dan berhasil mengimbangi laju Ryuzen dan kudanya.
"Kau akan kalah hari ini Ryuzen Han!"
Saat sudah dekat garis finish, entah apa yang terjadi tiba-tiba.
"Ryuzen!" seru Sara.
"Ryu!" ujar yang lainnya bergantian.
Rony mengehentikan langkah kudanya dan menoleh ke belakang. Ryuzen tiba-tiba terjatuh dari kuda yang ia tunggangi. Sara dengan cemas segera menghampiri suaminya yang kini tengah duduk terkapar karena jatuh.
"Ryu, kau baik-baik saja? Apa kau terluka? " Sara sudah jelas terlihat sangat panik kala itu.
Ryuzen hanya diam sambil menundukkan wajahnya.
"Ryu... kau tidak apa-apa kan?" tanya Erika yang juga khawatir dan mencoba menyentuhnya namun di halau oleh Sara yang sudah bersiap untuk membantu Ryuzen berdiri.
"Paman, kau?"
Ryuzen menoleh ke arah Rony dan dengan santainya ia berkata, "Aku baik-baik saja! Ternyata kau berhasil mengalahkanku ya Rony."
Rony seolah seperti orang dungu saat itu juga. Ia tahu persis ekspresi itu adalah ekspresi Ryuzen yang seolah ingin mengatakan dialah pemenangnya. Karena berhasil membuat Sara fokus pada dirinya dibanding kemenangannya melawan Ryuzen.
"Kau ini! Buat aku hampir kena serangan jantung tahu!" Sara terlihat kesal.
"Maaf ya sayang, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jatuh dalam kemenangan." Ryuzen menatap Rony yang kini hanya diam seribu bahasa. Ryuzen telah bediri dan berjalan kembali pada Archie kudanya, saat ia melewati Rony di sebelahnya dirinya pun berbisik,
"Rony, terlalu cepat untukmu mengalahkanku! Tapi tidak ada kata terlambat untuk menyesal. Sama halnya dengan perasaan. Mundurlah selagi kau belum terlalu jauh melangkah, jangan sampai kau menyesal dan menyakiti hatimu sendiri!"
"Mundur? Aku belum berpikir untuk itu." balas Rony.
"Terserah!" Ryuzen melangkah pergi melewati Rony.
"Kesal karena kalah?" ujar Erika yang kini berada di dekat Rony yang tengah geram di buatnya oleh Ryuzen.
"Huh? Apa kau tidak punya kaca Erika. Tidak kah kau tanyakan pada dirimu sendiri yang hari ini berhasil menjadi pecundang!"
"Jadi! Nasib kita mirip ya?"
"Tidak Erika! Hanya tujuan kita sama, yaitu berusaha mendapatkan seseorang yang kita cintai." Rony menatap dengan tatapan serius.
๐น๐น๐น
LIKE, COMMENT, VOTE ! Thank You๐