
"Arvin, kau kenal dengan orang ini?" tanya Gina.
"Bibi jahat ini pernah datang ke rumahku sambil berteriak-teriak mencari mami waktu itu," terang Arvin. Mendengar hal itu, Gina langsung menatap sinis Tina yang ada di hadapannya.
"Siapa sebenarnya kau, ada urusan apa kau dengan Sara?" tanya Gina.
"Cih, kau yang siapa? Berani-beraninya kau menatapku dengan cara begitu!" ujar Tina Liang yang tidak suka pada Gina.
Tina menatap sinis Gina lalu menatap Arvin.
"Heh anak sialan, mana ibumu yang menjijikan itu? Jangan-jangan, sedang cari pria di luar untuk di jadikan penopang hidup ya?" ucap Tina diikuti tertawa mengejeknya.
"Nona tolong jaga ucapanmu!" kata Gina memperingatkan Tina.
"Menjaga ucapan? Asal kau tahu saja ya, apa yang baru saja aku katakan itu adalah fakta. Mana ada wanita terhormat tiba-tiba hamil dan tidak tahu siapa..."
"Cukup!"
"Dasar Bibi tua, jelek, norak, kau tidak capek juga mengatakan hal buruk tentang mamiku, maka dari itu,biar aku beri pelajaran setiap orang yang berani menghina mamiku," ujar Arvin
"Hei bocah tengik, memang pelajaran apa yang mau kau berikan padaku," Tina menantang.
"Kalau begitu bibi jangan menyesal ya," ujar Arvin
yang kemudian tiba-tiba langsung melempar semua barang belanjaan Tina hingga membuat botol parfum yang baru saja dibelinya pecah semua.
Tina murka dengan hal itu, ia menatap marah pada Arvin.
"Dasar iblis kecil...! Beraninya kau membuang barang-barangku seperti itu, awas kau ya, akan aku beri pelajaran!" ujar Tina yang sudah melayangkan tangannya untuk menampar Arvin, namun terhentikan oleh kedatangan suara Sara.
"Tina Liang, cukup!" bentak Sara yang berdiri tidak jauh dari mereka berdiri.
"Oh.., ini dia, akhirnya kita bertemu lagi ya sepupuku? Apa kabar?" ucap Tina melihat Sara yang kini berjalan ke tempat Arvin berada.
"Jadi wanita gila ini, sepupu Sara yang telah tega mengusirnya dulu saat dia sedang hamil? Benar-benar berbanding terbalik dengan Sara," batin Gina saat mengetahui hubungan sebenarnya Sara dan Tina yang ternyata adalah sepupu.
"Apa tadi kau mau memukul anakku?" ujar Sara menatap marah pada Tina.
"Kalau iya memang kenapa? Tidak suka, atau sekalian kau juga mau aku pukul huh?" balas Tina.
"Kau mau memukulku? Silakan saja, tapi jika kau berani menyentuh anakku sedikit saja, aku pastikan ada harga yang harus kau bayar, ingat itu!" ucap Sara memperingatkan Tina.
"Aduh aku takut sekali mendengar itu, dengar ya kalau bukan karena anakmu itu sengaja menabrakku dan melempar belanjaanku sampai parfum baruku pecah, aku juga tidak sudi bertemu dan berbicara dengan kalian!"
"Sengaja kau bilang? Apa kau tidak punya mata! Jelas-jelas itu sebuah kecelakaan, dan Arvin pun sudah meminta maaf, tapi kau malah memakinya," ujar Gina kesal.
"Apa kau melempar belanjaannya dengan sengaja?
Arvin mengangguk dan menunduk mengakuinya.
"Tapi aku lakukan hal itu karena dia berbicara hal buruk tentang mami...," jelas Arvin membela dirinya.
Sara menghela nafasnya, dan meminta maaf pada Tina.
"Baiklah Tina, soal anakku itu aku minta maaf padamu sebagai Ibunya," kata Sara
"Maaf? Kau pikir maaf bisa menggantikan parfum-parfumku yang bernilai puluhan ribu dollar ini utuh kembali?" Tina menunjuk botol parfumnya yang pecah karena terjatuh tadi.
"Baiklah berapa total harga parfum milikmu yang pecah itu?" tanya Sara.
Tina tersenyum licik
"Anakmu memecahkan dua botol parfum mahalku, jadi.. 100 ribu dollar, total yang harus kau bayar," ucap Tina.
"Apa? 100 ribu? parfum yang kau beli harga perbotolnya paling mahal hanya 25 ribu, bagaimana kau minta 100 ribu, kau itu mau memeras ya?" protes Gina tidak terima.
"Yasudah kalau tidak mau bayar, tinggal aku laporkan saja atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan anakmu itu," Tina tersenyum jahat.
"Berapa nomor rekeningmu? Dalam 3 hari aku akan usahakan secepatnya terkirim,"
"Sara kau jangan lakukan itu!" ujar Gina.
"Ini" Tina memberikan nomor rekeningnya.
"Aku tunggu ya sepupu, sampai jumpa!" ucap Tina yang kemudian melenggang pergi dengan senyumnya yang kini merasa menang.
"Rasakan kau Sara! Kau pikir aku akan biarkan kau hidup bahagia? Tidak akan! Karena dirimu, aku gagal jadi istrinya Ryuzen Han."
"Mami, maafkan aku!" Arvin menyesali perbuatannya.
"Sudahlah, ini bukan sepenuhnya salahmu kan, tapi lain kali jangan lakukan hal itu lagi ya," ucap Sara sambil mengusap lembut kepala Arvin.
"Sara..., apa tidak apa-apa kau turuti mau sepupumu itu? Dan maaf ya, aku tidak bisa membantumu tadi," Gina merasa bersalah pada Sara.
"Tidak, ini bukan salahmu. Tina memang sejak dulu sudah begitu, jadi kau tenang saja, aku pasti bisa menyelesaikan ini semua," ucap Sara tersenyum agar Gina tidak mengkhawatirkan dirinya.
**
Like, comment, vote 🌷