Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 163


Hari ini jadwal Arvin kembali dari asrama. Kebetulan juga, Arvin memang ingin pulang ke rumah sang kakek, alhasil Kenzo pun ditugaskan oleh Ryu untuk menjemput putra semata wayangnya itu kembali dari sekolahnya.


"Tuan kecil!" Seru Kenzo menghampiri Arvin yang sepertinya sejak tadi, sudah menunggu di depan area taman sekolahnya. Arvin langsung memicingkan matanya ke arah Kenzo, sorot matanya seperti bersiap untuk menginvestigasi asisten papinya itu. "Paman Kenzo kenapa lama sekali? Pasti paman habis pacaran dengan bibi Rina? Iyakan?"


"Oh... bu-bukan tuan, aku... tadi hanya, um..."


Arvin semakin menyipitkan matanya, dan menatap Kenzo dengan tatapan curiga. Sepasang mata bulat yang menyipit itu, seolah memberikan aura yang cukup mampu mengintimidasi Kenzo saat ini.


"Huft...! Baiklah... tuan kecil aku mengaku. Sebenarnya, tadi aku pergi mengantar Rina dulu ke tokonya, barulah aku kemari menjemputmu. Maafkan jika aku sedikit terlambat dan membuatmu menunggu, tapi tolong...! jangan kau adukan hal ini kepada tuan muda Han, please!" Kenzo memohon pada putra bosnya itu agar tak mengadukannya pada bosnya. Sayangnya... naluri Arvin yang pada dasarnya mirip watak sang ayah, tentu saja tidak langsung mengiyakan permintaan Kenzo.


Sepertinya mengambil keuntungan dari paman Kenzo seru juga. Arvin menyeringai,"Hem... biar aku pikir-pikir dulu." Otak Arvin pun seketika bekerja, ia berpikir untuk mengambil kesempatan dari Kenzo, sebelum dirinya mengatakan iya.


Kenzo memperhatikan Arvin. Dari mimik wajahnya, aku yakin dia pasti sedang memikirkan cara untuk memanfaatkanku demi tujuan pribadinya? Heh... Anak ini kenapa liciknya harus mirip dengan tuan Ryu juga sih? Aku jadi merasa memiliki dua bos yang kejam.


"Jadi tuan kecil, bagaimana?"


"Aku tidak akan mengadukan paman pada papi, asalkan... paman Kenzo harus berjanji membantu aku, menyiapkan kejutan di perayaan anniversary papi dan mami besok! Bagaimana?"


Sudah kuduga, Kenzo pun menghela napas, "Oke baiklah... aku setuju."


"Oke paman Kenzo, kita deal!" Kedua pria itu pun saling berjabat tangan tanda sepakat.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Kalau itu nanti saja kita bicarakan di perjalanan. Sekarang ayo kita segera pulang ke rumah kakek!" Ujar Arvin mengajak Kenzo agar segera mengantarnya pulang ke rumah Jordan.


"Baiklah!" Balas Kenzo yang kemudian langsung berjalan mengikuti Arvin.


~~


Malam hari tiba, Sara yang sudah mengenakan gaun tidur terlihat membawa secangkir teh herbal, untuk diberikannya pada sang suami yang kini berada di ruang kerjanya. Sesampainya di depan ruang kerja Ryu, ia pun langsung masuk untuk memberikan teh herbal, yang memang sengaja ia buatkan untuk suaminya tersebut. "Sayang, aku buatkan teh herbal ini untukmu ayo diminum, teh ini sangat berguna lho... untuk merileksasikan tubuh yang mulai lelah." Sara meletakan cangkir teh itu di atas meja tempat Ryu bekerja.


Ryu yang tadinya fokus pada layar laptopnya, seketika langsung mengalihkan perhatiannya dan berpaling menatap Sara. Dibelainya pipi merona sang istri yang kini berdiri disebelah kursi tempatnya duduk. "Terima kasih sayang," ucap Ryu dengan nada lembut. Ryu pun segera mengangkat cangkir teh itu dan meminum teh herbal buatan istrinya tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Sara yang kini terlihat memberikan pijatan kecil dikedua bahu sang suami, Ryuzen sekejap langsung merasakan tubuhnya lebih ringan, dan segar.


"Tubuhku seperti baru dapat asupan enegeri berkali-kali lipat setelah meminum teh buatanmu, ditambah lagi dipijat olehmu begini, sepertinya aku tiba-tiba jadi semangat untuk melakukan aktivitas!" Ujar Ryuzen dengan nada menggoda sang istri. Ryuzen pun tiba-tiba menarik Sara, dan mendudukan sang istri diatas dipangkuannya. Sara langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Ryuzen dan berkata, "Maaf ya aku jadi agak berat."


Ryu membalas, "Tidak sama sekali!" sambil menatap mesra istrinya dengan intens.


"Mau ke kamar?" Bisik Sara di dekat telinga Ryu.


Ryuzen menempelkan hidungnya dihidung Sara "Sepertinya... istriku ini sudah paham betul akan kelemahanku ya?" ucap Ryuzen pelan. Dan tanpa berlama-lama, Ryu pun beranjak dari kursi sambil menggedong Sara menuju ke kamar mereka.


~~


Sesampainya di kamar, Ryu langsung saja meletakan perlahan tubuh istrinya itu diatas ranjang mereka yang berukuran besar. Ryuzen mendekati Sara, menggodanya dengan mencium lehernya, dan membisikan kata-kata yang membuat siapapun pasti melayang dibuatnya.


"Sara... aku mencintaimu..." Ryu kini mengecup bibir merah merona, yang membuatnya sulit menahan rasa untuk tak **********. Saat Ryuzen hampir melepaskan luaran pakaian tidur Sara, istrinya itu justru menghalanginya. "Tunggu dulu Ryu..."


Ryuzen menampakan ekspresi tidak suka, "Ada apa?" Ryuzem kembali ingin mencium Sara, namun kali ini Sara malah menghalanginya, dengan cara menghalangi bibir Ryuzen dengan telapak tangannya.


"Sara ada apa?" Tanya Ryu dengan nada kesal.


Sara tiba-tiba memperlihatkan wajah bingung, sejatinya wanita itu tengah memikirkan bagaimana ia bertanya pada Ryu, soal perkataan Renji di makan tadi siang. Sara sampai saat ini masih bertanya-tanya akan kebenaranya. Apakah benar Ryuzen adalah pembunuh adik Renji atau bukan.


"Um, Ryu..."


"Kenapa? Apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku Sara...!?" Ryuzen mendesak Sara agar mengatakan apa yang ingin ia katakan. Pasalnya Ryu tahu persis, pasti istrinya itu tengah memikirkan hal yang mengganjal di pikirannya.


"Ryuzen apa aku boleh bertanya padamu?


"Soal apa?"


"Soal.... kau dan... Renji." Sara langsung memalingkan padangan matanya. Ia takut sekali melihat reaksi Ryuzen, setelah bertanya hal tersebut pada sang suami. Dirinya takut, jika Ryuzen akan marah padanya. Dan sepertinya... perkiraan Sara tidak terlalu meleset, tiba-tiba saja Ryuzen menarik tubuhnya dan menjauhi Sara. Raut wajah Ryu yang tadi hangat seketika berubah dingin.


"Apa kau bertemu dengan Renji hari ini?"


Sudah tidak bisa lagi mengelak, tentu saja Sara harus terang-terangan mengakuinya. "I- iya! Aku bertemu dengannya tadi," ucap Sara masih tidak berani melihat ke arah Ryuzen.


"Untuk apa kau bertemu dengannya?"


...


"Sara lihat aku, saat aku bertanya!"


"Ya aku bertemu dia, tapi sungguh! Aku bertemu dengan Renji hanya sekedar menemaninya ke kafe, yang mana sebagai tanda terima kasihku saja, tidak lebih."


"Benarkah hanya itu?" Ryu melirik Sara yang masih duduk bersimpuh diatas ranjang.


Aku harus bertanya.... Sara kembali membuka suaranya perlahan. Rasa tegang yang ia rasakan pun ia lampiaskan dengan mencengkeram gaun tidurnya sendiri. "Ryuzen, sebernarnya... aku hanya ingin memastikan sendiri. Apa benar kau adalah pembunuh adiknya Renji?"


Ryuzen tersentak kaget, tidak menyangka Sara tahu mengenai hal itu pada akhirnya. Sayangnya... Ryu pun tak menjawab sepatah katapun, yang ia lakukan hanya berdiri terdiam, sambil tetap mengontrol emosinya.


Melihat Ryuzen diam begitu, pikiran Sara langsung tidak menentu. Pikirannya gamang, siapa sebenarnya yang harus ia percaya. "Ryu... aku mohon jawab aku, jangan malah diam begitu, aku... aku hanya ingin jawaban darimu."


"Apa yang harus aku jawab Sara?"


Sara membuka matanya lebar-lebar. "Ke- kenapa kau bicara begitu? Apaใƒผ"


"Saat ini apa yang bisa aku jelaskan. Sedangkan kau saja tidak yakin dengan pikiranmu sendiri bukan?"


"Kalau aku bilang bukan, apa kau percaya sepenuhnya padaku? Dan sebaliknya, jika aku bilang aku yang membunuhnya apa kau juga akan percaya?"


Sara semakin terlihat bingung, mendadak dirinya ingat makam Alex Haoran yang ditunjukan oleh Renji tadi siang. "Aku... aku, percaya, tapi...."


Ryuzen mendegus, "Dari jawabanmu saja sudah terlihat kau tidak percaya sepenuhnya padaku Sara, jadi untuk apa kau minta jawabanku!"


"Tapi aku butuh penjelasan darimu...."


"Kau tidak perlu penjelasan dari orang yang masih kau ragukan. Semua itu tergantung padamu, karena akan percuma saja aku jelaskan jika kau belum sepuhnya percaya padaku. Aku hanya tidak mau memaksamu percaya dengan perkataanku. Aku ingin kau percaya karena kau memang yakin dari dalam lubuk hatimu."


Sara tertunduk lesu, ia merasa apa yang dikatakan Ryuzen adalah benar adanya. Saat ini ia tidak bisa meyakini siapa yang ia yakini sebenarnya. Aku ingin percaya pada Ryu, tapi kenapa aku masih ragu padanya...


Sara pun mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia melihat Ryuzen mengambil mantel hangatnya dan mengenakanny. "Ryu kau mau kemana?"


"Aku butuh udara segar untuk menenangkan pikiranku. Kau tidur duluan saja, aku pergi dulu...!" Ryuzen akhirnya pergi meninggalkan Sara sendirian. Sedangkan Sara hanya bisa merenungkan apa yang barusan terjadi. "Aku tahu aku telah merusak moodnya. Tapi aku pun butuh sebuah penjelasan... Kenapa kau sulit mengatakan iya atau tidak!"


~~


Ryu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi ditengah malam. Tatapannya dingin, susana hatinya pun tak menentu. "Kenapa kau bertanya padaku seolah kau lebih percaya pada pria lain dibanding suamimu sendiri Sara...! Jika kau ingin jawaban dariku, kau harus percaya padaku. Jika tidak, sampai kapanpun kau akan terus curiga dan curiga."


~~


Keesokan harinya... Sara tampak duduk menghabiskan waktunya di toko. Ia terlihat lesu dan tak bersemangat. Efek kejadian semalam sepertinya membuat Sara tidak fokus sama sekali. Ditambah sikap Ryu yang sejak tadi pagi begitu dingin padanya. Huft Sara menghela napas panjang, dan menopang dagunya dengan satu tangan. "Aku benar-benar tidak tahan kalau dia bersikap dingin begitu padaku." Sara meraih ponselnya lalu memandanginya. "Bahkan sejak semalam, dia tidak mengirimi aku satu pesanku, apa dia benar-benar marah padaku? Tapi kan.... ah sudahlah...!" Sara terlihat pasrah. Tapi hatinya benar-benar tidak nyaman mengingat Ryu marah padanya. Terlebih hari ini adalah tanggal peringatan ulang tahun pernikahaan mereka.


"Apa aku hubungi dia duluan saja?" Tidak mau jika hari ulang tahun pernikahannya kali ini berakhir tidak menyenangkan, akhirnya Sara memutuskan untuk menghubungi Ryuzen duluan. Beberapa kali Sara mencoba menghubungin Ryu, sialnya tak kunjung diangkat. Entah apa yang kini sedang dilakukan oleh suaminya itu saat ini. "Huh! Apa dia benar-benar marah padaku? Kenapa dari tadi panggilanku tidak dijawab, oh apa mungkin dia sedang ada meeting ya? Ah sudahlah... aku coba hubungi Kenzo atau Morin aja"


Sara pun menghubungi asisten dan sekretaris suaminya itu. Namun hasilnya ternyata sama, tidak ada balasan sama sekali. Sara pun jadi murung karenanya. Akhirnya ia memilih untuk menghubungi Arvin yang saat ini berada di rumah kakeknya, agar hatinya yang murung dan gelisah itu bisa sedikit tenang.


Sara pun melakukan video call dengan putranya.


Arvin : Hai Mami, ada apa?


Sara : Memangnya butuh alasan khusus, seorang ibu untuk menghubungi anaknya sendiri?


Arvin : Huh...! Aku kan hanya bertanya.


Sara : Kau sedang apa sayang?


Arvin : Aku sedang... um... rahasia...! (Arvin tergelak)


Kebalikannya, Sara malah terlihat bersungut-sungut karena jawaban putranya itu.


Sara : Huh! Kenapa sih, kau itu sama menyebalkannya seperti papimu itu.


Arvin : Eh, kenapa lagi? Mami sedang bermasalah lagi dengan Papi?


Sara : Entahlah... (Bernada pasrah)


Arvin : Biar aku tebak, pasti mami yang buat papi kesal lagi, iyakan?


Sara : Eh, kenapa kau berpikir begitu?


Arvin : Ya... karena memang diantara mami dan papi, yang lebih sering memulai masalah kan mami. Jadi pasti kali ini juga begitu...!


Sara : Haiz... kau ini...! Sebenarnya kau itu anakku atau bukan!?


Arvin : Aku anakmu, bedanya aku pintar mami tidak!


Sara malah semakin jengkel dibuatnya.


Sara : Iya, iya, iya... kau dan dia pintar aku bodoh. Puas! (Menghela napas)Tapi... kali ini aku memang benar-benar bingung.


Arvin : Mami aneh, habis kesal langsung lesu!


Sara : Mau bagaima lagi. Tapi... kalau menurutmu sebagai laki-laki... bagaimana perasaanmu, jika kau tidak dipercaya oleh orang yang kau cintai?


Arvin : Tentu saja marah, kecewa dan... sejenisnya.


Sara : Begitu ya?


Arvin : Mami, aku beritahu satu hal. Jika Mami ragu dengan perasaan mami, lebih baik tenangkan saja dulu hatimu sejenak. Setelahnya aku yakin hatimu akan menuntunmu pada hal yang terbaik. Itu sih yang aku baca dari buku.


Sara : Jadi begitu, baiklah... (Sara tiba-tiba sumringah) Kalau begitu, kau baik-baik ya sayang, jangan merepotkan kakek.


Arvin : Oke Mami.


Sara : Bye sayang.... muah!


*Video call ended.


Sara menghela napas lega, ia seolah lebih tenang saat ini. "Arvin benar! Aku seharusnya bisa yakin pada hatiku sendiri. Lebih baik aku menemuinya sekarang juga." Sara pun berencana ke kantor Emerald, tapi dirinya malah ditahan oleh Rina yang tiba-tiba datang dan merengek mengajaknya pergi ke butik untuk membeli gaun. "Ayolah kak, kumohon... temani aku ke butik, aku tidak tahu harus tanya siapa lagi kalau bukan padamu. Aku harus tampil cantik di hadapan Kenzo nanti malam kalau tidak...." Rina terlihat sedih.


Rina sepertinya tengah krisis percaya diri di hadapan pasangannya saat ini. Merasa tidak tega melihat Rina, Sara pun akhirnya mau menemani Rina sebentar ke butik, toh sepertinya hal itu tidak akan lama. "Baiklah... tapi jangan lama-lama ya...?"


"Siap ibu bos!" Dan Sara pun akhirnya pergi menemani Rina sebentar.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo temen-temen yang masih setia menunggu. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, Comment, dan Vote ya... ๐Ÿ™ terima kasih.