Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 162


Renji dan Sara kini sudah berada disebuah kafe, dihadapan mereka pun sudah tersaji minuman yang masing-masing sudah mereka pesan. Situasi terasa agak canggung diantara keduanya, Sara tidak tahu harus membuka obrolan dari mana. Untungnya... Renji bisa dengan baik mencairkan suasana, dengan membuka obrolan ringan. "Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik," jawab Sara. "Kau sendiri?"


"Aku... seperti biasanya. Ngomong-ngomong... apa suamimu tahu soal diriku yang...."


"Ya! Dia tahu semuanya."


Renji tergelitik "Baguslah kalau begitu, kupikir dia akan mencariku lalu membuat perhitungan dengaku danー


"Ryuzen tidak seperti itu!" Sara langsung menyela ucapan Renji.


Renji menatap Sara dengan matanya yang terlihat sayu. Ia bisa melihat tatapan mata perempuan dihadapannya ini begitu serius, seolah memberi peringatan agar dirinya tidak mengatakan hal buruk tentang suaminya.


"Maaf...." lirih Renji yang kemudian meneguk minuman dihadapannya.


"Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Hanya saja... aku tidak suka, jika ada orang yang mengatakan atau berpikir buruk tentang Ryuzen. Jadi..."


"Aku paham Sara." Tapi kau tidak tahu, betapa buruknya sebenarnya suamimu itu kan!


Keheningan kembali menyeruak, keduanya sama-sama membisu dan fokus menatapi gelas berisi minuman pesanan mereka. Tidak bisa, semua harus diselesaikan! Sara sungguh lelah dengan ketidak jelasan diantara dirinya, Ryu, dan Renji.


"Renji, boleh aku tanya sesuatu padamu?"


"Tentu!" Renji mengangguk. Ia meneguk minumannya lagi lalu, menatap Sara yang mengajaknya bicara dengan nada terdengar serius. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


Desah napas Sara bisa terdengar oleh Renji saat iya mengehembuskannya perlahan. "Aku ingin tanya, ada apa sebenarnya antara dirimu dan Ryuzen?"


Renji seketika melengoskan pandangannya dari Sara. Renji terdengar tertawa, namun tawanya itu terdengar sedih. Hal itu membuat Sara benar-benar semakin ingin tahu ada apa sebenarnya, hal apa yang membuat Renji dan Ryuzen saling membenci satu sama lain. "Renji...."


"Jika kau ingin tahu, kenapa kau tidak tanyakan saja pada suamimu!" Tukas Renji dengan ketus.


"Kalau itu..., Ryuzen sepertinya tidak mau cerita."


"Oh... aku tahu, mungkin suamimu yang terlihat sempurna itu takut, jika kebusukannya diketahui oleh sang istri? Ck! Aku tidak menyangka Ceo Emerald begitu pengecut di depan istrinya sendiri!"


Sara menyipitkan matanya dan menatap Renji. "Apa maksudmu bicara begitu!?"


Pria itu seketika menatap tajam ke arah Sara. "Kau tanya maksudku, huh? Seharusnya kau tanyakan itu pada suamimu. Pria yang kau puja-puja itu Sara Chen!"


Sara tersentak kaget dibuatnya. Pasalnya ini kali pertama, Renji berbicara dengan nada setinggi itu padanya.


"Maaf Sara... aku harus pergi!" Renji sepertinya mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Karena takut membuat orang lain di kafe itu terganggu, Renji yang tanpa berkata sepatah katapun, langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sara sendirian. Sara lantas tak tinggal diam, ia langsung ikut untuk menyusul Renji. "Renji tunggu!" Sara menarik lengan blazer milik Renji. Renji sempat berhenti untuk melepaskan tangan Sara yang menarik pakaiannya. "Maaf Sara, aku harus pergi, aku tidak ingin menyakitimu!" Kemudian Renji kembali meleggang pergi menuju lapangan parkir.


~~


Sara ternyata mengikuti Renji hingga lapangan parkir.


"Renji aku mohon tunggu dulu!"


Pria itu menoleh ke arah Sara yang memanggilnya dari belakang. Melihat Sara yang kelelahan ditambah dirinya yang sedang hamil, tentu membuat Renji pada akhirnya tak tega untuk mengabaikannya. Ia pun akhirnya menghampiri Sara. "Kenapa kau mengejarku? Ingat kau sendang hamil Sara!"


"Aku tahu! Tapi aku butuh penjelasan. Aku lelah berpura-pura tidak menyadari jika diantara dirimu dan Ryu ada hal yang kalian rahasiakan. Aku lelah menjadi tidak tahu apa-apa Renji!" Tegas Sara dengan keras.


Renji mengepalkan keudua tangannya. Matanya yang sayu menatap Sara dengan begitu dalam. Desir agin pun seolah ikut menjadi saksi ketegangan yang dirasa keduanya. Renji seketika menarik pergelangan tangan Sara. "Renji lepaskan, kenapa kau tiba-tiba menarikku?" Sara mencoba melepaskan cengkeraman tangan Renji, namun hal itu sia-sia saja mengingat Renji jauh lebih kuat darinya.


"Renji kau ini kenapa!? Lepaskan aku!"


"Kau yang kenapa!" Bentak Renji. Sara pun tersentak dibuatnya. "Kau ingin tahu masalah diantara aku dan suamimu kan?"


"I- iya, tapi.... lepaskakan tanganmu tangaku sakit!" Ujar Sara terlihat kesakitan. Sepertinya Renji memang terlalu keras mencengkeram tangan Sara, ia pun melepaskannya. "Kalau kau ingin tahu semuanya, kau ikut aku!" Renji meminta Sara ikut dengannya. Namun Sara tidak langsung mengikuti Renji kali ini, dirinya masih tampak ragu, apa dirinya harus ikut atau tidak dengan pria ini.


Sementara Renji sendiri sudah menunggu di dalam mobilnya.


~~


Tiba-tiba pintu mobil dibagian sebelah kiri Renji terbuka, Sara pun masuk dan duduk di kursi mengemudi yang diduduki Renji. "Jadi kau memilih ikut?"


Sara menoleh ke arah Renji, "Aku tidak punya pilihan lain bukan?" Ia memasang sabuk pengamannya.


"Baiklah...." Renji pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju ke tempat yang ia ingin tuju bersama Sara.


Disana kau akan tahu apa yang selama ini suamimu tidak pernah ceritakan padamu Sara!


Aku tidak tahu ini benar atau salah, yang pasti aku harus cari tahu kejelasannya.


~~


Di sebuah restoran dekat kantornya, Kenzo terlihat tengah menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya.


"Oh! Jadi besok itu adalah hari ulang tahun pernikahan tuan Han dan kak Sara?" Ujar Rina setelah mendengar cerita Kenzo yang diminta oleh bosnya, untuk menyiapkan segala kejutan yang ingin diberikan Ryu untuk istri tercintanya.


"Iya, dan aku tidak menyangka jika dibalik sifatnya yang kejam, tuan muda ternyata tipe suami yang begitu romantis," tukas Kenzo yang kemudian memasukan sepotong daging ke dalam mulutnya.


Senang sekali ya? Apa mungkin, kalau nanti aku sudah menikah Kenzo juga akan romantis dan memberiku banyak kejutan? Arg tidak....aku terlalu banyak berkhayal. Memang dia sudah pasti akan melamarku!


Rina pun tersadar dari lamunannya, setelah mendengar Kenzo menyerukan namanya. "Ya ada apa?"


"Huh...? Harusnya aku yang tanya begitu, kau itu kenapa tidak makan makananmu dan malah bengong. Memangnya kau memikirkan hal apa?"


"Ohー itu, tidak ada apa-apa kok!" Rina menyangkal.


"Jangan bohong?"


"Be- benar kok! Lagipula aku hanya...."


Kenzo mengerutkan kening, "Hanya apa?"


"Sebenarnya... aku hanya berpikir seandainya kita juga menikah, apa kau akan romantis juga!" Rina kemudian memalingkan wajahnya karena malu.


Kenzo sedikit agak malu-malu, namun dirinya senang, dan dibuat senyum-senyum mendengarnya. Jadi dia sudah berharap hubungan kami hingga seserius itu ya?


Kenapa dia hanya senyum tidak jelas begitu? Rina melirik Kenzo. Huh dasar laki-laki tidak peka! Rina pun kembali meneruskan makannya dengan Kenzo.


~~


Mobil Renji akhirnya berhenti. Akan tetapi Sara malah dibuat heran melihat Renji yang malah memberhentikan mobilnya ditempat yang tidak ia sangka-sangka.


"Ayo turun!" Tukas Renji mengajak Sara turun dari mobil. Sara dan Renji pun keluar dari dalam mobil. Sara pastinya terlihat bingung dibuatnya, melihat Renji yang malah membawanya ke pemakaman, ditambah Renji juga membawa sebuket bunga yang dibelinya tadi di pinggir jalan.


"Re- renji? Kenapa, kenapa kau membawaku ke tempat pemakaman? Apa kau ingin berziarah?"


Renji hanya melihat Sara sebentar lalu berjalan pergi memasuki area makam.


"Renji...!"


"Ikuti saja aku, maka kau akan tahu!"


Sara benar-benar tidak bisa membayangkan ataupun menerka, alasan kenapa Renji membawanya ke pemakaman. Apa tempat ini ada hubungannya dengan masalah Renji dan Ryuzen, sungguh tak ada bayangan sedikitpun.


~~


Sara yang berjalan dibelakang Renji tiba-tiba ikut berhenti, manakala Renji berhenti, di depan sebuah makam yang sama sekali Sara tidak tahu milik siapa. Tiba-tiba Renji malah meletakkan buket yang ia bawa itu di depan pusara tersebut.


Apa itu makan anggota keluarganya?


Sara yang ingin tahu pun, langsung membaca identitas makam yang tertulis di atas nisan tersebut. Alex Haoran? Sara terkesiap membaca nama marga yang tertulis di nisan tersebut, marganya sama dengan marga Renji. Sara pun hanya bisa mematung, melihat Renji yang kini tengah membersihkan makam tersebut. Siapa sebenarnya pemilik makam ini? Apa milik saudara Renji, atau orang tuanya atau siapa?


Renji yang sudah selesai membersihkan makam adiknya pun berbalik dan kembali menantap Sara, yang sejak tadi memperhatikannya dalam diam.


"Ada apa Sara, kenapa kau diam? Kau pasti sedang bertanya-tanya bukan, makam siapakah ini? Dan apa hubungannya dengaku, seperti itukan?" Tatapan mata Renji begitu dingin, Sara tidak tahu apa yang dirasakan oleh Renji saat ini. Yang jelas ia bisa melihat dari pancaran mata pria dihadapannya itu, jika dirinya begitu terlihat sedih dan kecewa. "Renji, apakah makam itu..."


"Ya! Itu makam adikku, yang sudah meninggal sembilan tahun yang lalu."


"Um, aku turut berduka cita," ucap Sara yang sungguh-sungguh berbela sungkawa. "Tapi jika aku boleh tahu, apa penyebab kematian adikmu itu?"


Ck! Renji berdecak, lalu tertawa mengejek. "Kau ingin tahu penyebab adikku meninggal?"


"Ya!"


Renji tiba-tiba tertawa, namun bukan tawa kebahagiaan yang disuarakannya, tawanya justru terdengar begitu menyedihkan.


"Renji kau...?"


Renji berjalan mendekati Sara, ia pun masih tertawa seperti tadi. Sara kini bisa melihat jelas raut wajah sembilu dari sorot mata Renji yang tertawa.


"Kau sungguh ingin tau penyebab saudaraku meninggal?" Renji menatap Sara dengan intens. Sara seketika menelan ludahnya, jujur saja ia tiba-tiba jadi gugup dan ketakutan. Tapi disisi lain ia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada adik Renji, kenapa tiba-tiba Sara merasa hal itu ada hubungannya dengan permasalahan Renji dengan Ryuzen.


"Penyebab kematian adiku adalah suamimu!" Tukas Renji akhirnya.


Jantung Sara seketika bedegup kencang, matanya pun membulat seketika mendengar perkataan Renji barusan. Pikiran Sara seperti berharap ada kesalahan pada pendengarannya. "Ap- apa maksudmu? Aku salah dengar kan? Tidak mungkin Ryuzen membunuh adikmu, pa- pasti ada kesalahpahaaman."


"Salah paham?" Renji kembali menatap Sara dengan penuh emosi kemarahan, hingga Sara dibuat kikuk dan gemetar. "Bagaimana bisa kau dengan mudah menyebut hal itu salah paham? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Sara. Suamimu... pria yang kau pilih itu, aku melihat sendiri bagaimana ia melesatkan peluru itu ke tubuh adikku! Dan kau bilang itu salah paham!" Renji memegangi kedua pundak Sara. Ia bisa merasakan tubuh pria itu gemetar, dan air matanya pun kini tak kuasa jatuh berderai. "Kenapa kau bicara begitu kejam padaku, hanya karena kau mencintainya Sara... kenapa?"


Pikiran Sara seolah kosong, dirinya seperti tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Disatu sisi, hatinya sungguh pilu melihat pria dihadapannya ini menangis, air matanya seolah bukti luapan kesedihan yang tidak bisa dibendung lagi. Tapi disisi lain, logika Sara terus memaksanya berpikir jika apa yang dikatakan Renji adalah sebuah kesalah pahaman. Sara mengangkat tangannya memegang wajah Renji, lalu mengusapnya lembut. "Aku turut bersedih Renji... sungguh... aku turut berduka atas semua yang terjadi padamu."


Renji membalas perlakuan wanita itu dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Sara. Ia semakin dekat dan kemudian memiringakan kepalanya hingga bibirnya hampir menyentuh bibir Sara. Sayangnya... Sara langsung memalingkan wajahnya. "Maaf Ren! Tapi apapun itu, aku tidak bisa.... maafkan aku!" Sara mendorong Renji, dan memilih untuk pergi meninggalkan pria itu di depan makam adiknya.


Bahkan saat aku sudah menunjukan sisi terlemahku, kau tetap menolakku? Sara... apakah hatimu benar-benar sudah sepenuhnya milik pria brengsek itu.... "Kenapa! Kenapa Sara... kenapa dia dan bukan aku yang kau pilih? Kenapa takdir sekejam itu padaku?" Rasa marah, kecewa, dan patah hati seolah menjadi satu dalam luapan air mata Renji Haoran saat ini.


🌹🌹🌹


Hai hay happy fri(yey).. semoga sehat selalu ya my beloved readers.


Jangan lupa untuk Like, Vote, dan Comment kalian...🙏


P.s : Semoga kalian emosinya sama karakter author aja ya... jangan sama authornya juga 🤧