
Gina memicingkan matanya, menunggu apa yang akan segera dikatakan oleh sahabatnya itu. Sara menggelengkan kepalanya, dirinya seolah berusaha menepis apa yang tengah dipikirkannya saat itu.
"Katakan saja Sara..., ini sudah tindakan kriminal yang membahayakan nyawamu, dan yang lainnya." Gina mencoba mendesak Sara.
"Tapi aku tidak yakin dan tidak ingin yakin. Hanya saja..., saat beberapa menit selang kejadian itu. Aku melihat Rony ada di lantai dua ballroom hotel. Dan ketika insiden itu terjadi, dia juga sedang tidak ada di lantai dasar bersama kami."
"Jadi maksudmu, Rony adalah orang dibalik terjadinya insiden itu?"
"Entahlah Gina..., memikirkannya selalu membuatku merasa pusing dan mual," Sara memijat kedua pelipisnya, untuk mengurangi rasa pusing yang kini ia rasakan.
Gina dengan sigap segera bangun dari duduknya, dan berpindah duduk disebelah sahabatnya yang kini terlihat tidak terlalu sehat itu.
"Sara, jangan terlalu dipikirkan. Kecurigaanmu itu mungkin mempengaruhi kesehatanmu. Aku perhatikan kau juga jadi agak pucat. Apa kau mau ku antar ke dokter?"
"Tidak perlu Gina, aku mau minum teh herbal saja. Bisa tolong kau buatkan aku?"
"Baiklah... kau tunggu disini ya, biar aku buatkan."
~~
[ Paviliun ]
Ryuzen dan Kenzo tiba di depan paviliun yang dulu juga pernah dijadikan tempat Ryuzen, menyandera Lizo Xiao.
"Apa pria itu dalam kedaan sadar?" tanya Ryuzen sambil terus berjalan menuju paviliun.
"Iya Tuan, di dalam juga ada Edgar dan Meilin!"
Ryuzen mendengkus pelan, "Jadi duo idiot itu benar-benar mau membantuku ya?"
Ryuzen sampai di depan pintu paviliun. Tanpa banyak kata, Ryuzen langsung membuka tuas pintu paviliun itu dan masuk ke dalam. Di dalam paviliun dirinya sudah disambut oleh dua orang yang tidak asing bagi Ryuzen.
"Wow bos, akhirnya kau datang juga!" ujar Edgar langsung, setelah melihat Ryuzen masuk.
"Tuan tampan, kau selalu tampan seperti biasanya," sahut Meilin yang mencoba mendekati Ryuzen, namun malah langsung di abaikan oleh Ryuzen.
"Dimana orangnya?" tukas Ryuzen dengan nada serius, menanyakan orang yang sudah berhasil ditangkap oleh Kenzo dibantu Edgar dan Meilin. Matanya celingak celinguk mencari orang yang dimaksud itu.
"Mereka, ada di ruang sebelah Tuan!" ucap Kenzo.
Ryuzen pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan yang dimaksud oleh Kenzo tersebut. Diikuti oleh ketiga orang yang lainnya.
"Hei, kau itu asisten menyebalkan! Aku kan ingin lebih lama mengobrol dengan tuan tampan, malah kau suruh dia langsung masuk menemui tikus kriminal itu!" Gerutu Meilin pada Kenzo yang kini berjalan di sebelahnya.
"Heh! Memang aku peduli! Dasar bibi genit!"
"Apa kau bilang? Aku bibi genit!" Meilin berteriak kesal pada Kenzo yang mengejeknya barusan.
"Sudahlah kalian berisik!" sahut Edgar.
Mendengar suara berisik ketiga orang itu, Ryuzen pun tiba-tiba berhenti dan menoleh kebelakang dan menatap dingin ketiga orang itu.
"Masih berisik, kupotong lidah kalian!"
Kalimat yang dilontarkan Ryuzen barusan pun, ternyata berhasil membuat ketiga orang itu akhirnya diam. Mereka pun lanjut berjalan dan akhirnya masuk ke dalam ruangan, dimana orang yang membuat rusuh di acara hari jadi Emerald malam itu di sekap saat ini.
Di dalam ruangan itu terlihat seorang pria duduk di sebuah kursi, dengan kondisi tangan dan kakinya terikat, serta mata dan mulutnya ditutup rapat. Tak butuh waktu lama Ryuzen langsu mendekati pria itu.
"Buka penutup mulutnya!" perintah Ryuzen.
Tanpa disebut namanya, Kenzo langsung saja melakukan instruksi dari Ryuzen itu untuk membuka penutup mulut pria yang di sekap itu.
"Gggh..., sial!" seru pria yang baru saja dibuka penutup mulut dan matanya itu. Pria itu pun langsung menyadari, jika dirinya kini, disambut oleh wujud Ryuzen yang sudah berada di depannya.
"K-kau...!" ucap pria itu dengan gagap, saat melihat Ryuzen di hadapannya.
Ryuzen tak bergeming, ia hanya terus saja menatap tajam pria itu seolah tak berkedip.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ryuzen pada pria itu dengan suaranya yang berat. Pria itu membulatkan matanya.
"Tidak mau menjawab?" sahut Edgar
"Mungkin sudah siap mati!" imbuh Meilin yang juga ada disana.
Ryuzen menyeringai tajam. Tangan kanannya merogoh saku jas yang ia kenakan.
"Arrgghhhhh.....! Panas!" pria itu meringis sakit
"Jawab aku atau ku buat panas api ini menembus hingga membakar tulangmu!" Ucap Ryuzen dengan nada yang tentu saja terdengar mengintimidasi. Tangannya yang menggenggam korek api menyala dan di sengatkan pada lapisan kulit tangan pria itu.
"Panas! Lepaskan aku! Kau manusia gila!" pria itu terus berteriak sambil merasakan kesakitan, karena panas nyala korek api yang menempel di kulit tubuhnya.
"Cih! Manusia ini bosan hidup sepertinya? " ejek Edgar.
Pria itu terus meringis, merasakan kesakitan karena lapisan kulitnya kini tengah hadapkan dengan nyala api. Hingga pria itu pun menangis sambil merintih.
"Ke-kenapa? Kenapa kalian para orang kaya selalu saja seperti ini! Kalian menggunakan kekuasaan kalian hanya untuk menekan orang lain yang tak bedaya, apa kalian itu benar-benar seorang manusia?!" Pria itu menangis sambil mahan rasa perih dah sakit dikulitnya.
Ryuzen menatap tajam.
"Kalau kau mau membunuhku? Bunuh saja! Aku lebih baik mati terbunuh di banding harus kehilangan anak dan istriku! Asal kau tahu saja. Kau, dan juga pria itu. Kalian memang sama saja. Kalian adalah iblis yang menyamar seolah malaikat yang bersembunyi dibalik status kalian yang dipuja-puja!"
"Berani sekali dia bicara begitu! Sepertinya bosan hidup," celetuk Edgar.
Ryuzen bak tersambar petir, ia menggertakan gerahamnya, dan seketika menarik sedikit tubuhnya menjauhi pria itu.
Eh, ada apa dengan Tuan Ryu?
Melihat reaksi sang Tuan membuat Kenzo bertanya -tanya.
"Kalau begitu, kau jawab saja pertanyaanku. Jawab apa yang bisa kau jawab dengan jujur, mengerti?" tegas Ryuzen.
Pria itu tidak menjawab iya atau tidak. Dirinya hanya bisa mematung sambil terus menahan rasa perih dan sakit dikulitnya yang terbakar karena korek api tadi.
Ryuzen mendengkus, "Terserah!"
"Apa ada yang menyuruhmu melakukan hal itu di acaraku kemarin malam?" Ryuzen mulai bertanya.
"Iya"
"Kau, melakukannya karena uang?"
"Iya."
"Dia mengancam keluargamu?"
Pria itu hanya diam. "Tidak mau menjawab ya? Baiklah!"
"Apa dia yang memintamu mengacau di acaraku, adalah seorang pria yang cukup berumur?"
"Iya?"
"Apa kau lihat dia bersama seorang pria yang seusia denganku?"
"Tidak!"
Ryuzen mengerjapkan matanya, "Baiklah, sudah cukup! Lepaskan tikus bodoh ini!"
Apa!
Edgar, Meilin, bahkan Kenzo dan tak terkecuali pria itu. Mereka semua terlihat bingung mendengar apa yang dikatakan Ryuzen barusan, yang meminta agar pria itu dilepaskan.
"Tuan, apa kau tidak salah?"
"Aku tidak pernah salah! Lepaskan saja, jangan banyak tanya!"
"B-baik Tuan!" Kenzo pun langsung melaksanakan perintah Ryuzen untuk melepaskan pria itu dari jeratan. Pria itu pun sudah terlepas dari jeratan tali yang sejak tadi membelenggunya. Pria itu pun mulai beranjak dari duduknya.
"Tunggu!" Seru Ryuzen dengan suara beratnya. Pria tersebut pun langsung kembali duduk.
Ryuzen menatap ke pria yang masih duduk itu. Dikeluarkannya sebuah pena dan selembar kertas dari saku dalam jasnya. Ditulisnya kertas itu dan kemudian dilemparkannya ke arah pria yang terduduk itu. Pria itu pun segera membaca tulisan yang ada dikertas itu.
"Kau, pergilah bawa anak dan istrimu ke tempat yang kusebutkan ditulisan itu. Dan jangan pernah kembali lagi ke kota ini!"
Pria itu terperanjat mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Ryuzen.
"A-apa maksudmu bicara begitu?"
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku! Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran," tegas Ryuzen.
Pria itu pun pergi mengikuti seperti apa yang di instruksikan oleb Ryuzen. Namun sebelum benar-benar pergi, pria itu menyempatkan untuk mengucapkan terima kasihnya pada Ryuzen.
"Tuan CEO terima kasih atas apa yang anda lakukan! Tapi sebelum aku pergi, aku hanya ingin mengatakan. Targat utama pria yang menyuruhku itu adalah istri anda. Jadi, aku berharap kau harus lebih pintar darinya, dan jaga istri anda baik!" terangnya, yang kemudian benar-benar pergi meninggalkan paviliun tersebut.
Edgar mendekati Ryuzen, menepuk pundaknya dan berkata, "Wow! Aku tidak tahu Ryuzen yang terkenal sebagai death shadow yang kejam berubah jadi selunak ini?"
"Bukan urusanmu!" balas Ryuzen sambil menepis tangan Edgar yang ada di pundaknya lalu beranjak pergi.
"Kenzo ayo pergi!"
"Baik!"
~~
[ Rumah Sakit ]
Langkah kaki dokter Jason nampak berjalan dengan ritme sedang, diikuti oleh langkah kaki dibelakangnya yang mengikuti ritme gerak langkahnya. Tibalah kedua orang itu di depan sebuah kamar inap vip.
"Disini tempat nyonya Ivy berada sekarang!" tukas dokter Jason.
🌹🌹🌹
Happy reading fellas, I hope you like it. ☺️
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, comment. Thank You🙏