Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 21


Flashback 12 tahun lalu...


Anglo adalah Markas utama Black Serpents yang terletak di distrik 4 kota Montegi. Sebuah organisasi indenden yang berdiri di antara hitam dan putih, yang bekerja bukan atas dasar keuntungan. Mungkin bisa dibilang organisasi gelap yang sering membantu para mafia dalam perdagangan Ilegal seperti penyelundupan obat-obatan terlarang hingga senjata api pun mereka lakukan.


Tapi disamping itu mereka juga bisa berlindung di balik para petinggi negara, karena peran mereka yang juga suka membantu aparat hukum dan kepolisian untuk mengungkap kasus, hingga melakukan misi rahasia negara, membuat Black Serpents memiliki keleluasaan diatas aturan yang tertulis.


Seperti biasa ruang utama akan selalu ramai, ruang dimana semua anggota black serpents menghabiskan waktunya di kala tak ada misi atau tugas. Beberapa dari mereka ada yang bermain biliar, poker, bahkan adu jotos sampai mati pun ada. Bagi Ryuzen tidak ada yang menarik di Anglo kecuali keributan yang biasanya di buat oleh dirinya. Mulai dari menggoda wanita anggota lain, hingga dengan sengaja mencari masalah dengan anggota lainnya.


Kala itu , Ryuzen dengan pakaian serba hitamnya tengah bersandar santai, sambil menikmati sebotol anggur dengan di kelilingi wanita-wanita di sekelilingnya. Tapi tiba-tiba dirinya seolah diganggu dengan suara ribut yang di timbulkan oleh Orizel, salah seorang anggota black serpents.


"Berisik sekali!" pekik Ryuzen yang kemudian bangkit dari duduknya, untuk memastikan apa yang terjadi. Semua orang seolah mengerubung dalam satu area seolah sedang menyaksikan pertunjukan. Ryuzen pun tak kuasa untuk tidak mendekati kerumunan itu, di lihatnya ada seorang laki-laki bertubuh kurus yang berusia sekitar 15 tahun, sedang di hujami pukulan bertubi-tubi oleh Orizel dan teman-temannya.


"Kau anak sialan! Ini yang akan kau dapatkan jika berani mengganggu kesenanganku!" ujar Orizel yang kemudian lagi-lagi melayangkan tendangan ke arah anak laki-laki itu. Orizel pun tertawa seolah menunjukan jika dirinya adalah yang berkuasa saat itu.


"Memalukan! Hanya karena mampu menghajar serangga kecil saja sudah merasa bebat begitu, kau itu memang pecundang!"


Orizel langsung terpelatuk, saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Ryuzen yang tengah berdiri dibelakang kerumunan orang. Semua mata pun menatap Ryuzen.


"Apa kau bilang! Dasar mulut sampah!" balas Orizel marah.


"Sampah? Bukannya kau itu sampah dari pada sampah!" Balas Ryuzen dengan santainya.


Kerumunan orang-orang itu seolah dengan sendirinya menepi seraya membentuk sebuah jalan setapak, yang mempertemukan Ryuzen dengan Orizel. Orizel menatap marah pada Ryuzen, dengan santainya Ryuzen berdiri bergeming, seolah tengah menunggu apa yang akan di lakukan Orizel padanya selanjutnya.


Orizel melangkahkan kakinya berjalan diantara anggota lain dan menghampiri Ryuzen dengan mata penuh amarah.


"Kau! Kau pikir semua orang disini takut padamu! Huh?!" Orizel mencengkeram pakaian Ryuzen dan menariknya, matanya yang terlihat marah menatap penuh pada diri Ryuzen yang tanpa tetap berekspresi datar.


Ryuzen pun menyingkirkan tangan Orizel yang mencengkeram pakaiannya itu.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu takut padaku, pe-cun-dang?"


"Sialan! Kau... terima ini!"


"Berhenti!" Baru saja Orizel ingin melayangkan tinjunya ke arah Ryuzen, Jiro sudah lebih dulu datang dan menghentikannya.


"Jangan membuat ulah, jika kalian ingin bertarung sampai mati bertarunglah dengan semestinya. Jangan kotori ruangan ini lagi dengan bau darah yang menjijikan!" ujar Jiro yang kini sudah berada berdiri diantara Ryuzen dan Orizel.


Ryuzen tak berekspresi apapun! Dirinya justru memilih berjalan mendekati anak laki-laki yang terlihat menyedihkan akibat perlakuan Orizel tadi.


Ryuzen berjongkok dan mengangkat kepala anak laki-laki itu memandanginya dengan seksama. Ryuzen mendekatkan bibirnya pada anak itu dan berbisik.


"Bersabarlah sebentar!"


Anak laki-laki itu tak terlalu paham maksud ucapan Ryuzen barusan. Ia hanya tahu jika seluruh tubuhnya kini terasa sakit dan nyeri, bahkan rasa lapar yang ia rasakan pun seolah menghilang dimakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


"Kau mau apa? Anak itu harus mati! Dia bukan bagian dari Anglo!" tukas Orizel.


"Bagaimana jika kita bertaruh saja. Jika anak itu tidak mati dalam waktu dua belas jam. Maka kau harus menyerahkan anak itu padaku!" kata Ryuzen yang kini telah berdiri di hadapan Orizel.


"Dan jika dia mati sebelum dua belas jam?" tanya Orizel.


"Terserah kau mau apa dariku!"


"Baiklah, jika dia mati sebelum dua belas jam, kau harus bersujud di depan kakiku dan menjadi pelayanku!"


"Deal!" ucap Ryuzen tanpa ragu.


Apa yang pria itu inginkan dariku? Aura pria itu lebih mengerikan dibanding pria bernama Orizel yang menghajarku tadi!


Ryuzen kembali mendekati anak laki-laki itu, dan mengangkatnya lalu memapahnya untuk dimasukan ke dalam ruangan kedap suara.


"Ke-kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya anak laki-laki yang kini di papah oleh Ryuzen.


"Tidak tahu!"


"Ke- kenapa tidak biarkan aku mati saja, tidak ada gunanya aku hidup," dengan segenap sisa-sisa kekuatannya anak laki-laki itu terus saja berbicara.


"Kalau mau mati, kenapa tidak tusuk saja jantungmu saja, kenapa malah datang kemari untuk mati konyol!" ucap Ryuzen.


Mereka berdua pun tiba di depan sebuah ruangan kedap suara, Ryuzen membuka pintu ruangan itu dan membawa anak laki-laki yang ia papah itu masuk ke dalam ruangan, kemudian mendudukannya.


Ryuzen menyalakan korek api miliknya yang di gunakan untuk membakar seputung rokok di mulutnya saat itu.


"Hei, tangkap ini!" seru Ryuzen yang kemudian melemparkan korek api miliknya itu ke arah anak laki-laki itu.


"Kau harus bertahan hidup selama dua belas jam jika ingin pergi dari tempat ini, tapi jika kau lebih ingin mati gunakan saja korek api itu untuk membakar ruangan ini!" tukas Ryuzen yang kemudian pergi meninggalkan laki-laki itu.


~~


Anak laki-laki itu seolah berkecamuk dalam pilihan hidup dan percaya pada Ryuzen, atau mati sia-sia di tempat ini.


Aku ini tidak berharga, tak ada orang yang menginginkaku hidup. Tapi... kenapa pria itu ingin aku hidup? Apa aku cukup berharga untuknya?


Anak laki-laki itu terus menatap sebuah korek api yang ada di dekatnya. Ia meraih korek api itu dan mencoba menyalakannya namun jarinya tak cukup kuat untuk menyalakannya.


Mungkin takdirku memang masih harus hidup! pikir anak laki-laki itu, hingga tanpa sadar matanya perlahan memejam hingga dirinya tertidur lelap.


~~


Tiba-tiba pintu ruangan kedap suara itu terbuka, tiga orang pria masuk secara begantian. Mata anak laki-laki itu perlahan terbuka dengan terpaksa, dan yang langsung dirinya lihat adalah, dua diantaranya tiga yang ada ia mengenalnya. Yakni pria bernama Orizel dan yang satunya adalah Ryuzen yang kini tengah mengembangkan senyum penuh intrik di bibirnya.


"Dua belas jam lewat satu menit! Bocah! Kau hebat," tutur Ryuzen pada laki-laki itu.


Orizel hanya bisa menggeram marah, "Ryuzen kau berikan apa hingga dia bisa bertahan hidup?"


"Menurutmu, aku curang?"


"Ya! Semua orang tahu dirimu adalah manusia terlicik dan paling manipulatif yang pernah ada disini!"


"Heh! Hanya pecundang sejati yang akan menuduh orang lain berbuat curang Orizel!"


"Sial! Kau!" Orizel seolah sudah bersiap menghajar Ryuzen.


"Kenapa mau berkelahi? Tulang bagianmu yang mana lagi, yang ingin aku patahkan?" ujar Ryuzen dengan santainya.


"Cukup!" Jiro yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.


"Orizel kau tahu peraturan kita, jika kau sudah berucap maka itu sumpah yang harus kau jalani. Kau sudah sepakat dengan Ryuzen, jadi aku harap kau menerima apapun hasilnya!"


Orizel pun dengan perasaan kesal meninggalkan ruangan itu, lalu pergi.


"Ryuzen, aku serahkan bocah itu padamu!" ucap Jiro yang kemudian pergi.


"Ya!"


"Hei, kau baik-baik saja kan?" tanya Ryuzen pada anak laki-laki yang babak belur dan tak karuan itu penampilannya.


"Minum ini!" Ryuzen memberikan air mineral kepada anak laki-laki itu. Disambutnya air mineral itu dan diminumnya dengan rakus tanpa sisa. Bagai melihat oase di padang pasir. Air mineral itu seolah air mineral tebaik sepanjang masa yang pernah di minum oleh anak laki-laki itu.


"Jadi siapa namamu?" tanya Ryuzen pada laki-laki itu.


"Ke-Kenzo!" jawabnya ragu.


"Bagus! Kenzo, mulai detik ini kau akan bekerja untukku. Oleh karena itu, jadilah orang yang berguna bagiku!" kata Ryuzen sambil menepuk-nepuk pelan kepala Kenzo.


Dan sejak saat itu. Bagi Kenzo, Ryuzen adalah seorang dewa penolong yang menyelamatkannya dari jurang kematian. Dan sejak hari itu pula Kenzo bersumpah akan mengabdi pada Ryuzen apapun keadaannya.


*Flashback ended


Kenzo meraih korek api yang ada di saku jasnya, lalu menggenggamnya. Korek api yang di berikan oleh Ryuzen di hari saat ia hampir mati itu, bagi Kenzo adalah salah satu benda paling berharga yang ia miliki dalam hidupnya.


"Tuan Ryu, terima kasih! Tapi aku lelah sekali, jadi biarkan aku di sini saja ya..." Kenzo yang mulai hilang kesadaran pun tersenyum, dan perlahan kelopak matanya menutup.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, COMMENT, VOTE! THANK YOU ๐Ÿ™


ย