Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 46


Rony menatap wanita dihadapannya yang tidak lain adalah Sara, wanita yang amat dicintainya namun, kenyataannya kini wanita itu telah menjadi bibinya sendiri.


"Aku...," ucap Sara dan Rony bersamaan.


"Um, kau habis menjenguk nenek?" tanya Sara.


"Ya, memangnya apa lagi." Ekspresi Rony nampak dingin menanggapi Sara.


Jauh dilubuk hati Sara, dirinya ingin sekali mengobrol dan bersenda gurau dengan Rony seperti dulu kala. Namun, dirinya sadar hal itu tidak akan pernah mungkin lagi bisa ia lakukan, setelah status diantara dirinya dan Rony kini sudah menjadi bibi dan keponakan.


"Sara, bisa kita pergi mengobrol sebentar di suatu tempat?" Pada akhirnya Rony berinisiatif mengajak Sara untuk mengobrol. Akan tetapi, Sara tidak langsung menjawab ajakan Rony tersebut. Drinya justru diam seolah tidak tahu harus bagaimana menanggapi ajakan ponakannya itu.


"Tidak mau bicara denganku, atau karena dilarang oleh paman Ryu agar tidak bertemu denganku?"


"Eh, bukan.... Bukan begitu," sanggah wanita cantik yang mengenakan dress lengan pendek selutut berwarna mocca itu.


"Baiklah kalau begitu...," belum sempat Rony menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pintu lift yang sejak dari tadi ditunggu oleh Sara dan Rony akhirnya terbuka. Mereka berdua pun masuk dan menuju ke lantai dasar.


~~


Taman di dekat rumah sakit akhirnya menjadi pilihan terbaik Sara dan Rony untuk mengobrol. Sambil memegangi segelas coklat yang dibelinya tadi di kantin rumah sakit. Sara dan Rony pun duduk di bangku taman bersebelahan.


"Jadi, apa kabarmu?" kata Sara membuka obrolan, yang kemudian menyesap bibir gelas coklat panasnya itu.


"Heh, menurutmu, aku harus bilang apa Sara?" Rony tersenyum getir. Ia menarik napasnya yang kemudian menghelanya sercara perlahan, bahkan hembusan napasnya pun seolah dapat terdengar oleh telinga Sara yang duduk di sebelahnya.


"Sara," ujar Rony.


"Ya?"


"Kau bahagia dengan kehidupanmu saat ini?"


"Heemm...," balas Sara mengangguk pelan.


"Jadi begitu ya? Jadi benar-benar aku harus mundur." Sekali lagi senyum getir menghiasi wajah Rony yang bisa dibilang tidak kalah tampan dari sang paman.


"Ron...." Kali ini Sara yang membuka suaranya. Namun dari nada bicaranya seolah dirinya ragu untuk mengatakan dan menanyakan sesuatu pada Rony tekait insiden di hotel gloria beberapa waktu lalu yang menyebabkan nenek Ivy hingga sekarang masih di rawat di rumah sakit.


"Kau ingin mengatakan apa?" jelas Rony.


"Sebenarnya....,"


Rony memicingkan matanya, menoleh ke arah Sara yang duduk disebelahnya menunggu dengan seksama apa yang sebenarnya ingin dikatan Sara pada dirinya saat ini.


"Sebenarnya, aku ingin bertanya padamu. Apa kau berada di lantai dua saat insiden kecelakaan jatuhnya lampu kristal di ballroom hotel gloria saat itu?" Seolah sedikit beban telah terlepas dari rongga dadanya.


"Heh," balas Rony dengan nada mengejek.


"Apakah sebenci itu dirimu padaku, sampai-sampai kau bisa mengatakan hal seperti itu Sara?" Nada kekecewaan terdengar jelas dari suara Rony.


"Rony maaf, aku hanya-"


"Hanya mengira jika aku yang ada dibalik terjadinya insiden itu, begitukan yang ingin kau katakan padaku?" Nada suara Rony meninggi kala mengatakan hal itu.


"Maafkan aku Ron," dengan ekspresi wajah penuh penyesalan Sara pun meminta maaf.


"Untuk apa minta maaf? Lagipula lumrah jika kau berpikir seperti itu." Kali ini terdengar nada kesedihan pada ucapan Rony barusan.


"Aku tidak menuduhmu sama sekali Ron, aku hanya, hanya entah tidak tahu kenapa aku melihatmu dilantai atas saat kejadian itu. Dan apa kau tahu, setelah aku mengatakan hal itu padamu barusan. Seolah aku ini begitu buruk, dan keji," ucap Sara dengan nada sedih.


"Jadi kau berharap maaf dariku, yang sudah kau curigai begitu?" Rony berkata tanpa menatap Sara, ia lebih memilih memandangi segelas coklat panasnya dibanding menantap Sara. Baginya mungkin, menatap wanita yang duduk di sebelahnya itu hanya akan menambah rasa kecewaannya.


"Ya, aku minta maaf padamu Rony. Aku hanya tidak ingin..., aku tidak ingin hal ini terus menghantuiku. Aku ingin tenang, aku ingin bisa menyapamu tiap kali kita berjumpa, aku ingin bisa mengobrol denganmu tiap kali ada kesempatan. Aku lelah dengan segala kekangan diantara kita yang seolah kita bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal." Tatapan sendu wanita itu kini terlihat.


Rony terkekeh dengan nada kesedihan, "Kau yakin antara kau, aku, dan pamanku bisa saling bersikap normal lagi?"


Sara hanya diam, lidahnya kelu tak bisa berkata apa-apa. Mengingat memang agak mustahil sepertinya baginya dan Rony bersikap layaknya keluarga kebanyakan.


"Pada hakekatnya tidak ada yang bisa mengatur hati seseorang Sara. Karena kenyataan memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan atau kehendaki, dan aku pun sudah menyadari hal itu perlahan."


Sara menolehkan pandangannya, menatap pria yang duduk disebelahnya itu dengan tatapan bingung.


"Ron...?"


Rony balas menoleh ke wajah Sara, dan kini mereka saling bertatapan. Tapi kali ini Rony enggan menatap bibinya itu terlalu lama seperti yang sering ia lakukan dulu. Kali ini ia hanya menatap singkat Sara, dan kemudian kembali berpaling, dan menatap ke arah kedua tangannya yang kini tengah menggenggam gelas berisi coklat panas.


Rony mendengkus, "Aku menyadari satu hal, walau aku sangat benci untuk mengakuinya."


"Ya, aku sadar jika, sejak awal sepertinya kau memang tidak ditakdirkan untukku. Dulu saat kau dan aku sering bersama, aku sering kali menangkap beberapa ekspresi wajahmu di kameraku dan aku sering memandanginya. Lalu entah sejak kapan aku menyadari, ekspresimu terhadapku kurang lebih tidak jauh berbeda dengan ekspresimu saat bertemu pria-pria lainnya. Hingga suatu hari, ketika aku menyaksikan sendiri bagaimana caramu menatap paman Ryu, tatapan itu berbeda. Seperti ada hal yang sulit untuk dijelaskan saat itu, dan sekarang aku baru menyadarinya."


Sara tersenyum kecil mendengar penjelasan Rony,


"Heh, aku ini menyedihkan bukan?" Kata Rony pasrah.


Sara menggeleng dan berkata, "Tidak, aku rasa yang menyedihkan adalah aku."


"Kau, kenapa?" tanya Rony tak paham dengan perkataan Sara.


"Iya, aku menyedihkan. Kenapa aku tidak pernah menyadari perasaanmu sejak awal, mungkin aku terlalu egois dan merasa yang paling harus dikasihani pada situasi diantara kita. Padahal kenyataannya, justru aku yang membuat dirimu dan Ryu menjadi seperti saat ini. Jujur saja, rasa itu sering menggerayangi pikiranku, rasa bersalah seolah menggerogotiku saat berdiri diantara kau dan Ryu."


"Mungkin, hubungan diantara kita memang sudah ditakdirkan seperti ini." Rony kemudian meminum coklat panasnya.


"Ya kau benar, mungkin ini yang disebut takdir yang tak bisa dihindari," balas Sara.


Saat Sara dan Rony saling meresapi ucapan-ucapan yang terlontar dipercakapan mereka berdua tadi. Tidak sengaja Rony melihat surat dari rumah sakit, yang mengintip keluar dari dalam tas milik Sara. Karena malas menebak-nebak surat apa itu, Rony pun langsung saja menanyakan perihal surat tersebut pada bibinya itu.


"Kau habis periksa? Apa kau sakit?" tanya Rony.


Wanita itu membulatkan matanya, "Sakit? Aku tidak sakit." Sampai akhirnya Sara melihat sepucuk amplop berisi surat hasil tes kehamilan yang diberikan dokter Karen tadi, ia pun kemudian baru sadar mengapa Rony bertanya demikian.


"Aku tidak sakit Rony," ucap Sara pelan.


"Lantas, kenapa kau?" Kemudian Rony menyaksikan Sara mengelus perutnya sambil tersipu.


"Rony sebenarnya surat dokter itu-"


"Ya aku mengerti, " Rony memotong ucapan Sara yang baru saja ingin memberitahu jika dirinya tengah mengandung anak keduanya dengan Ryuzen saat ini.


"Kau sudah paham ya...?"


"Jadi, pada akhirnya aku akan punya sepupu baru lagi kan?" tukas Rony tersenyum getir.


"Hem," Sara mengangguk sambil memegangi perutnya.


"Lucu sekali! Pada akhirnya aku hanya akan menjadi kakak sepupu bagi anak-anakmu?" ucap Rony sambil tersenyum getir.


"Rony aku yakin suatu saat nanti, kau pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu."


"Hum, terima kasih. Tapi aku akan lebih senang, jika kau tidak berusaha menghiburku begitu, karena hal itu hanya akan semakin membuatku tidak bisa melepaskanmu Sara."


"Maaf," kata Sara dengan nada menyesal.


"Jadi, seperti ini ya akhirnya hubungan kita yang sebenarnya. Aku adalah keponakanmu, dan anakmu adalah sepupuku."


Rony mengehela napas, kemudian beranjak dari duduknya. Sara pun spontan menatap Rony yang beranjak bangun dari duduknya itu.


"Baiklah, setidaknya aku sudah mengungkapkan apa yang ingin aku katakan padamu hari ini. Oh iya Sara, uhm, maksudku bibi, apa kau mau pulang juga atau...?"


Sara menggeleng, "Belum, aku masih mau disini."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan!" Rony pun berbalik badan melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Rony!" Seru Sara.


Rony yang tadinya sudah mulai berjalan pun menhentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


"Terima kasih banyak Rony," ucap Sara dibarengi dengan senyuman hangatnya.


Rony pun hanya bisa tersenyum kecil membalas ucapan Sara kemudian mengguk. Ia langsung kembali meneruskan langkahnya pergi meninggalkan Sara.


Sara bahagialah...


Bahagialah jika bahagiamu ada pada dirinya. Meski mungkin aku harus rela tertatih untuk melepasmu. Tapi satu yang harus kau tahu. Aku masih belum sanggup jika harus berhenti untuk mencintaimu hingga detik ini. Ingatlah aku akan selalu ada untukmu, meski bukan sebagai pemilik hatimu.


🌹🌹🌹


Thanks for always keeping up and support me.


Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan comment, like, dan vote. Kritik dan sarannya juga ditunggu.


Happy reading fellas, i hope you like it yass... πŸ˜‰


P.s : Mohon maaf sekali baru update lagi πŸ™