
Sara dan Gina kini tengah berada di supermarket untuk berbelanja, beberapa kebutuhan rumah tangga. Saat kedua wanita itu tengah sibuk memilih kebutuhan rumah tangga seperti tisu dan sejenisnya, tiba-tiba saja, dari lorong yang sama tempat mereka tengah berada saat ini, terdegar ada dua orang wanita yang kira-kira usianya sedikit lebih tua dari mereka tengah bergosip ria. Kedua wanita itu terdengar begitu asyik saat bergosip. Awalnya, Sara tak terlalu memperdulikan obrolan kedua wanita tersenut. Namun, seketika dirinya jadi dibuat penasaran, saat mendengar nama Ryuzen disebut dalam obrolan kedua wanita tersebut.
Wanita A : Iya... memangnya, kau belum dengar perihal berita tentang masa lalu CEO Emerald?
Wanita B : Wah, sepertinya aku ketinggalan berita. Memangnya.... ada apa? Topik hangat apa lagi soal tuan muda Han yang jadi perbincangan hangat netizen di dunia maya saat ini? Cepat ceritakan! (Terdengar menggebu-gebu)
Wanita A : Jadi... dari berita yang aku baca dari berbagai forum dan juga media sosial. Ada rumor mengatakan jika, dulu tuan Ryuzen Han itu pernah memperkosa seorang wanita.
Wanita B : Huh? Apa kau bercanda? Bagaimana mungkin, seorang CEO muda paling berpengaruh di negeri ini yang bisa saja menyewa wanita-wanita kelas atas untuk menemaninya bermalam, harus sampai melakukan hal menjijikan seperti memperkosa wanita? Hei kau pasti bercanda!
Wanita A : Ya... aku pikir awalnya juga begitu, tapi semakin aku tidak percaya semakin banyak bukti-buktinya loh...
Wanita B : Bukti? Bukti seperti apa? Apa ada video rekamannya? Kalau ada, aku juga mau melihatnya... kapan lagi berkesempatan melihat tubuh sixpack tuan muda Han tanpa sehelai benang. (Tertawa geli)
Wanita A : Huh, kau ini, sudah bersuami tetap saja genit! Tapi... aku juga tidak akan menolak yang seperti tuan Han. Kalau dia mau denganku, aku rela meninggalkan suamiku yang sekarang.
Wanita B : Mengejekku, padahal kau juga sama genitnya! Tapi... aku jadi penasaran, kalau memang rumor itu benar adanya, kira-kira siapa ya wanita yang telah diperkosa oleh tuan Han? Kenapa dia tidak melapor ke polisi saja, bukankah hal itu adalah tindakan kejahatan seksual.
Wanita A : Soal itu... mana aku tahu, tapi ada yang mengatakan jika wanita itu adalah nona Sara yang sekarang jadi istrinya.
Sara yang diam-diam mendengarkan obrola wanita itu diam-diam, seketika langsung terksiap dan gugup kala mendengar, namanya ikut disebut juga dalam percakapan kedua wanita tersebut.
Wanita B : Oh ya? Tapi kenapa aku malah berpikir jika tuan Han dijebak ya? Secara kau tahukan betapa kaya rayanya tuan Han. Sedangkan nona Sara? Siapa dia? Hanya wanita dari kalangan rendahan biasa. Jadi... ada kemungkinan, jika dia memanfaatkan kecantikannya, dan sengaja menjebak tuan Han seolah melakukan perkosaan, agar bisa meminta pertanggung jawaban atas dirinya. Alhasil dia kini sukses menjadi nyonya Han.
Wanita A : Oh ya kau benar juga, kalau bukan karena itu... mana mungkin seorang CEO besar mau menikahi wanita yang hanya seorang pebisnis toko bunga! Cih kalau benar begitu, sebagai wanita bukankah itu sangat tidak tahu malu sekali!
Sara tertegun dan merasa gelisah, wajahnya pun semakin terlihat pucat. Melihatnya... Gina pun jadi merasa khawatir pada sahabatnya tersebut. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gina memastikan jika ahabatnya itu baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja Gina, lebih baik ayo segera kita selesaikan belanjanya. Tiba-tiba aku jadi ingin segera pulang."
Gina menoleh dan melihat ke arah kedua wanita yang masih saja sibuk bergosip itu. Merasa kesal karena ucapan mereka yang membuat Sara jadi tidak nyaman, Gina pun langsung menghampiri kedua wanita tersebut.
~~
"Hei kalian berdua! Apa selain bergosip, kalian tidak ada kerjaan lain!" Ujar Gina pada kedua wanita penggosip itu. Kedua wanita itu pun geram dibuatnya oleh perkataan Gina. "Heh, kau siapa? Berani-beraninya kau mengusik kami!"
"Loh memang kenapa, aku mengusik kalian karena kalian menghalangiku untuk mengambil barang belanjaan, karena tertutup oleh keranjang belanjaan kalian dan badan kalian yang penuh dengan lemak itu!"
Salah satu dari dua wanita itu pun naik pitam dengan perkataan Gina barusan, "Apa kau bilang! Berani sekali kau...!" Wanita itu hampir saja ingin memukul Gina. Untungnya... Gina langsung menghalaunya, dan ia segera memanggil petugas keamanan, alhasil kedua wanita itu pun disuruh pergi oleh petugas keamanan.
Sara yang khawatir pada sahabatnya itupun menghampirinya. "Gina... kau tidak apa-apa kan? Padahal kau tidak perlu sampai seperti itu."
"Biar saja, mereka memang pantas diberi pelajaran! Sudah, kau jangan memikirkan perkataan dua wanita penggosip tadi, mereka kan tidak tahu apa-apa soal dirimu dan Ryuzen. Jadiー"
"Gina... sungguh aku tidak apa-apa kok. Aku lemas memang karena kelelahan berjalan saja! Lagipula... aku juga tidak terlalu peduli dengan perkataan mereka soal diriku. Yang aku khawatirkan bukan soal diriku, justru yang aku takutkan adalah... rumor itu akan mengganggu Ryu, dan terlebih, aku takut jika Arvin mengetahuinya."
Gina mengusap pundak Sara. "Kau tenang saja, setelah pulang... kau adukan hal ini pada suamimu, aku yakin dia pasti punya jalan keluarnya atas semua rumor sampah yang beredar."
Hem, "Ya kau benar Gina."
~~
Di Kairaku, Ryuzen terlihat tengah minum di bar dengan beberapa teman-temannya. Menikmati segelas anggur, bagi Ryuzen seolah sedikit bisa menenangkannya perasaan dirinya yang kalut, pasca ditinggal pergi selamanya oleh sang ayah.
"Kau minum disini, memang istrimu tidak mencarimu?" Ujar Jason yang berada duduk disebelah kiri Ryuzen.
"Aku sudah bilang padanya, kalau aku pulang agak malam." Ryuzen menuangkan lagi minuman ke gelasnya.
"Huft... biasanya, kau kemari kalau sedang ada masalah... apa ada masalah dengan Sara?" Imbuh Yoshiki sambil sibuk membereskan gelas-gelas winenya.
"Tidak ada. Hanya sedang ingin minum saja, memangnya tidak boleh?"
"Tentu saja boleh, tempatku terbuka untuk umum!" Ujar Yoshiki.
Ryuzen menopang dahinya dengan satu tangan sambil, mengingat masa lalunya. Meratapi dirinya yang kini benar-benar sudah ditinggal pergi oleh ayah, ibu dan kakek neneknya untuk selamanyal. Ryuzen seolah kehilangan kendali, ia merasa marah, kesal, benci, dan bersalah. Hingga membuat, tangannya terlalu kuat menggenggam gelas wine hingga mengakibatkan retak dan pecah. Melihat sahabatnya begitu, Jason tahu persis jika Ryu tengah dalam masa sulit.
"Ryu..." Baru saja Jason ingin menenangkannya dengan menyentuh pundak, Ryuzen justru malah duluan bangkit dari duduknya. "Aku duluan..," kata Ryuzen. Diikuti dirinya yang merogoh kartu kredit dari sakunya dan meletakannya di atas meja bar. Dan Ryuzen pun pergi meninggalkan Yoshiki bersama Jason. "Apa dia baik-baik saja?" Tanya Yoshiki pada Jason terkait Ryuzen.
"Aku rasa dia akan baik-baik saja, walau sepertinya..." ungkap Jason.
Di kamar, Sara tampak tengah duduk membaca buku di atas *single* sofa. Tiba-tiba... pintu kamar terbuka dari arah luar. Dan ternyata yang masuk adalah, sang suami yang baru saja pulang. Sara pun segera menutup bukunya, kemudian beranjak berdiri, dan berjalan menghampiri Ryuzen yang ia rasa sepertinya habis banyak minum.
"Kau habis minum kan?" Tanya Sara pelan. Ia pun bermaksud membantu melepaskan jas dan dasi sang suami, tapi entah mengapa Ryuzen tiba-tiba malah memeluk Sara dengan erat. *Astaga, aroma alkohol ditubuhnya sangat kuat, dan, kenapa tiba-tiba Ryu bertingkah seperti ini padaku? Apa dia sedang ada masalah*? Sara pun meminta Ryuzen untuk duduk, "Kau duduklah dulu... akan aku ambilkan segelas air lemon untukmu."
Sayangnya... Ryu tidak mengindahkan apapun yang dikatakan oleh sang istri, ia tetap saja memeluk Sara dan tak mau melepaskannya."Tolong biarkan aku memelukmu seperti ini untuk beberapa saat, karena saat ini hanya berada didekatmulah aku merasa lebih baik." Sara semakin yakin suasana hati suaminya itu pasti sedang kalut. Ia pun langsung memberikan pelukan hangat untuk Ryuzen selama beberapa saat. Sara mengusap lembut punggung Ryuzen guna memberikannya ketenangan.
"Sara... kau tidak boleh pergi dariku, kau harus bersamaku selamanya...,"ujar Ryuzen tiba-tiba. Sara bisa merasakan desah napas suaminya itu berhembus disekitar lehernya, tempat dimana Ryuzen menenggelamkan wajahnya saat ini.
Sara mengusap lembut kepala Ryuzen, lalu berkata dengan lembut, "Kau tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu sayang...."
"Aku takut Sara, aku takut... jika kau akan meninggalkanku juga. Semua orang yang berada di dekatku... mereka semua berakhir dengan pergi meninggalkanku... aku tidak ingin sendirian!" Ryu semakin memperat pelukannya, dan semakin menenggelamkan kepalanya di antara leher dan pundak istrinya. Sara mulai semakin sesak karena pelukan Ryuzen. Dan sepertinya... Ryuzen agak lupa jika istrinya itu kini tengah menganduh lima bulan.
"Maafkan aku sayang, aku... "
"No!" Sara meletakan jarinya dibibir Ryuzen. "Aku tahu kau sedang kacau Ryu, dan yang kau butuh hanyalah tempat bersandar." Sara mendorong perlahan Ryu untuk duduk di atas ranjang, dan memintanya menunggu. Sementara Sara mengambilkan segelas air putih dengan campuran perasan lemon untuk Ryu.
"Minumlah... " pinta Sara. Ryu pun meminum air lemon tersebut hingga habis. Setelah meminumnya... Sara mengambil gelas itu dan meletakannya kembali di atas nakas. Tiba-tiba dirinya langsung duduk dipangkuan Ryuzen dan mendekapkan kepala suaminya itu dadanya. "Kalau kau butuh ketenangan aku akan selalu memeberikanmu pelukan, hingga rasa gelisahmu pergi Ryu."
Berada dalam dekapan sang istri, Ryu merasa tenang. Aroma harum tubuh Sara seraya obat penenang bagi hatinya yang tengah gundah saat ini. *Aku tidak akan biarkan keluargaku disakiti, terutama kau Sara, aku tidak akan biarkan semua itu terjadi*.
Sebenarnya aku ingin cerita soal rumor, yang beredar soal masa laluku dan Ryu, tapi... sepertinya saat ini aku belum bisa cerita. Dipeluknya erat kepala Ryuzen lalu diciumnya kepala itu. "Aku akan selalu bersamamu Ryu..."
~~
Keesokan harinya... Ryuzen dan Kenzo baru saja selesai menghadiri peresmian, salah satu produk milik anak perusahaan Emerald group yang bekerja sama dengan salah satu brand furniture internasional.
Di perjalanan, Ryuzen menanyakan pada asistennya itu, "Apa semua yang aku perintahkan terkait rumor yang dimuat di media, tentang keluarga Han sudah kau lakukan?"
"Aku sudah meminta seluruh media yang telah berani menayangkan berita-berita tidak enak tentang keluargamu, agar mereka men-*take down* berita itu. Dan semua media sudah melakukannya. Hanya saja... beberapa media berita kecil sepertinya agak sulit, dikarenakan mereka tidak memiliki surat izin resmi. Tapi aku sudah meminta bagian informatika untuk memblokir akses apapun yang ada kaitannya dengan pemberitaan buruk kelurga Han," jelas Kenzo.
"Bagus kalau begitu..."
"Um..., tapi tuan ada masalah baru lagi,"
Ryu mengernyitkan keningnya. "Ada apa lagi?"
"Tadi pagi, aku melihat di situs jejaring sosial banyak tagar bertebaran soal isu dirimu yang... um... "
"Katakan saja!"
"Isu tentang kau yang katanya pernah memperkosa seorang perempuan." Kenzo menghela napas. *Akhirnya aku mengatakannya juga*.
Ryuzen hanya terdiam, dirinya justru terlihat mengambil ponsel dari dalam sakunya lalu menelepon seseorang.
*Huh? Tuan mau telepon siapa*? Kata Kenzo dalam hati melihat apa yang dilakukan oleh bosnya itu dari spion kaca.
"Sayang... hari ini kita makan siang diluar ya..." Ternyata Ryuzen menelepon istrinya untuk mengajaknya makan siang di luar.
"Oke! Aku akan menjemputmu sebentar lagi. I love you..." Ryuzen mematikan ponselnya.
"Emm.... maaf sebelumnya tuan. Tapi kenapa kau malah menelepon nona Sara?" Tanya Kenzo penasaran.
"Kau akan tahu nanti, sekarang kita ke kediaman Han. Aku mau menjemput istriku untuk makan siang diluar. "
"Oh... oke tuan muda." Tanpa banyak tanya lagi Kenzo pun mengarahkan mobilnya menuju kediaman Han.
🌹🌹🌹
Hai temen-temen yang masih setia. Maaf tiga hari ini gak update ada urusan. 🤧 Jangan lupa **Like, Comment, and share**.