Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 69


Keesokan harinya. Sidang keputusan akhirnya resmi digelar, di luar ruang sidang sudah banyak sekali wartawan dan juga awak media yang diketahui telah sejak pagi menunggu disana. Persidangan ini memang disiarkan di beberapa stasiun televisi nasional, jadi tidak heran jika akan banyak awak media seramai ini. Ryuzen yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang bersama Kenzo keluar dari mobil, dan berjalan menuju ke dalam ruangan sidang. Dan seperti yang sudah diperkirakan, kedatangan Ryu pasti akan langsung di rundung pertanyaan macam-macam oleh para pemburu berita.


Tuan bagaimana persiapan anda menghadapi sidang putusan nona Chen hari ini?


Tuan ada yang bilang anda menyuap hakim?


Lalu bagaimana nasib pernikahaan anda dengan nona Chen?


Tanpa memerdulikan pertanyaan-pertanyaan dari para pemburu berita tersebut, Ryuzen terus saja berjalan menuju ruang sidang.


"Tuan, apa benar kau akan menceraikan nona Chen?"


Ujar salah salah seorang wartawan wanita dari salah satu stasiun televisi.


Dari semua pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan, akhirnya pertanyaan itu yang berhasil membuat Ryu buka suara. Ryuzen berhenti sejenak lalu dengan lantang mengatakan di depan awak media, "Apapun status istriku, bagaimanapun dia kedepannya dia tetaplah istriku, yang tidak akan pernah aku tinggalkan. Jikapun kami terpisah, itu karena salah satu dari kami yang harus meninggal. Karena hanya dia wanita dihatiku!"


Tuan Han sungguh romantis.


Kau memang suami idaman Tuan.


Beberapa wartawan bergantian memuji pernyataan Tuan Han barusan. Ryuzen pun tanpa banyak kata lagi langsung melengos pergi meninggalkan para wartawan dan awak media itu.


"Woah Bos kau memang juara dalam menjawab pertanyaan seperti itu, nona Sara beruntung sekali punya suami seperti tuanku," gumam Kenzo yang berjalan dibelakang Ryu.


~~


Di ruangannya Sara yang sudah ditemani oleh Gina, tengah menyiapkan diri untuk menghadapi sidang putusannya hari ini.


"Sara, kau harus tenang. Jangan tegang, ingat kau saat ini tidak sendiri. Ada anak di dalam perutmu, okey?"


Sara menarik napas dan mengeluarkannya perlahan, "Baiklah, aku mengerti."


"Sara...," panggil Ryuzen yang baru saja tiba dan langsung menemui Sara.


"Ryu, aku-"


Dengan lembut Ryuzen meraih kedua tangan Sara, dan meletakannya di depan dadanya. "Semua akan baik-baik saja sayang, kau hanya perlu menenangkan dirimu di saat persidangan nanti berlangsung. Aku dan juga Gina, sudah memiliki cukup bukti untuk memenangkan kasus ini, jadi kau harus yakin."


Mendengar perkataan Ryuzen hati Sara menjadi jauh lebih tenang sekarang. "Ryuzen, apa kau bisa menundukan kepalamu sebentar?"


"Ada apa?" Tanya Ryuzen yang kemudian langsung menunduk seperti apa yang diminta istrinya itu.


*kiss


Sara mengecup singkat bibir Ryuzen. Ryuzen agak tersentak melihat Sara yang tidak biasanya berani melakukan hal itu di hadapan orang lain, kali ini malah dengan sengaja menciumnya dihadapan Kenzo dan Gina yang juga masih ada disana.


"Terima kasih suamiku yang paling tampan," ucap Sara dengan pipi yang terlihat agak memerah karena sedikit malu. Ryuzen pun membalas ucapan terima kasih Sara dengan cara mencium bibir Sara balik. Dan kali ini sedikit lebih lama, Sara yang masih sadar betul ada Kenzo dan Gina berusaha segera menarik diri dari Ryuzen.


"Ryuzen, kau ini!" Sara menoleh ke arah Gina dan Kenzo yang seperti pura-pura tidak melihat apa yang dilakukan mereka.


"Ehem," Gina berdeham.


"Um, maaf Tuan, dan nona, apa kami perlu memberi kalian waktu untuk kalian berdua?" Tukas Kenzo yang merasa menjadi penganggu.


"Uhm, tidak usah maaf ya kalian harus melihat ini," kata Sara merasa bersalah karena telah menciptakan situasi tidak nyaman bagi para penyandang status tidak punya pasangan itu.


"Nasib para manusia yang tidak punya pasangan," celetuk Ryuzen dengan entengnya.


"Teganya kau mengatakan hal itu boss!" Gumam Kenzo dengan wajah memelas.


~~


Sidang pun dimulai. Hakim ketua meminta Sara sebagai tedakwa kasus kematian Ivy Han dan pembuhunan perawat, untuk memasuki ruangan sidang.


"Aku bisa menghadapinya," Sara menguatkan dirinya sambil sesekali ia mengelus perutnya dan berujar dalam hati.


Nak, tolong beri mami kekuatan untuk menghadapi hari ini. Semoga semua ini cepat berakhir dan kita bisa berkumpul kembali menjadi keluarga utuh bersama papi dan kakak Arvin.


Dengan perasaan masih diselimuti rasa gugup Sara pun akhirnya memasuki ruang persidangan. Hakim memintanya duduk di kursi pesakitan.


"Semua sudah berkumpul disini, maka aku putuskan sidang ini resmi di buka!"


Hakim sudah mengetuk palunya, tanda sidang telah resmi dibuka. Yang mulia hakim mulai membacakan poin kasus yang akan di bahas di persidangan ini. Hakim secara berkala pun mulai mencecar dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan kepada Sara selaku terdakwa.


Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan istriku.


Ryuzen awalnya sedikit khawatir dengan Sara yang dipikirnya akan gugup menjawab pertanyaan-pertanyaan dari hakim. Tapi sejauh ini, kekhawatirannya perlahan memudar melihat Sara dapat dengan tenang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hakim kepadanya.


"Tuan muda, aku sudah berhasil menyerahkan semua bukti ke pihak kepolisian," bisik Kenzo yang duduk di sebelah Ryu.


"Bagus!" Ujar Ryu singkat.


Setelah selesai dengan semua pertanyaan, kini giliran hakim memberikan kesempatan bagi pihak Sara selaku terdakwa untuk memberikan pembelaan. Gina yang menjadi kuasa hukum Sara pun sudah siap dengan segala amunisi pembelaan yang sudah ia siapkan.


"Yang Mulia, aku ingin meminta dokter Jason selaku dokter yang menangani pasien yang bernama Ivy Han, untuk memberikan kesaksiannya mengenai kematian Ivy Han yang terduga karena racun."


Jason yang turut hadir dalam persidangan pun bersedia menjadi saksi.


Jason mulai memberikan pernyataan terkait kematian nyonya Ivy yang diketahui diracuni lewat cairan infus yang telah ditambahkan racun di dalamnya.


"Itu saja yang aku bisa berikan untuk kesaksian, yang aku tahu jelas, nona Sara tidak ada riwayat ahli medis jadi aku rasa tidak mungkin ia melakukan hal tersebut pada nyonya Ivy. Terlebih mendiang nyonya Ivy adalah nenek dari suaminya sendiri."


"Baiklah terima kasih atas kesaksian dokter Jason selaku dokter yang menangani mendiang nyonya Ivy," ujar hakim ketua.


Jason kembali duduk. "Terima kasih Jason," ungkap Ryu.


"Aku hanya bisa melakukan hal itu," balas Jason yang duduk di belakang Ryuzen.


~~


Di kediamannya Renji tengah duduk di single sofa menonton persidangan Sara dari layar TVnya ditemani segelas wine.


"Kita lihat! Apa kau bisa menyelamatkan istrimu Ryuzen? Karena jika kau tidak bisa melakukan itu, jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan menyelamatkannya, dan mengambil Sara darimu!" tuturnya dengan nada memperingatkan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.๐Ÿ˜‰