
Di kediamannya Renji tampak sedang memandangi sebuah bingkai, yang mana terdapat foto dirinya dan seorang anak laki-laki yang lebih kecil darinya. Kesedihan jelas terpancar dari sorot mata Renji kala memandangi foto tersebut, yang kini kembali ditaruhnya di dekat perapian. Setelah meletakkan kembali bingkai foto itu, kini giliran sebuah kotak kayu berukuran kecil yang di raihnya. Di bawanya kotak itu bersamanya menuju kursi tempay dimana Renji akan merilekskan tubuhnya.
Setelah pada posisi duduknya, Renji pun mulai membuka kotak itu. Di dalam kotak tersebut ternyata terdapat sebuah sapu tangan berwarna putih berhiaskan bordiran kelopak bunga sakura di pinggirannya. Di ambilnya sapu tangan itu dari dalam kotak dan di genggamnya erat.
"Sapu tangan ini begitu berharga bagiku, sayangnya gadis yang memberikan sapu tangan ini sudah tidak mengingatnya lagi," ucap Renji dengan tatapan sendunya.
Pertemuannya kembali dengan Sara, membuatnya sering kali teringat akan kenangan belasan tahun yang lalu bersama sapu tangan yang dipegang oleh Renji saat ini.
Flashback on
Hari itu hujan turun dengan lebatnya, Renji yang saat itu berusia 12 tahun, tengah tergesa-gesa membawa makanan, tapi karena kondisi jalanan yang menjadi licin akibat hujan, tiba-tiba dirinya terjatuh cukup keras. Sebungkus makanan yang di pegangnya pun ikut terjatuh.
"Makananku jatuh, alex pasti sudah sangat lapar menungguku kembali." Renji yang tengah bingung dan bersedih itu pun tidak tahu harus bagaimana, kakinya pun terasa sakit akibat luka yang di dapatnya saat terjatuh tadi. Renji akhirnya memutuskan untuk berteduh sebentar hingga hujan mulai mereda, perih luka di kakinya semakin menusuk, diikuti rasa cemas dirinya akan sang adik yang kini tengah menunggunya. Renji melihat sekelilingnya tapi tidak ada satu pun penjual makanan lewat, mungkin karena hujan jadi tidak ada pedagang keliling.
Renji semakin putus asa, "Aku harus bagaimana? Makan malamku dan Alex sudah terjatuh, dan sisa uangku hanya cukup untuk makan satu orang saja. Dan kalaupun aku harus membelinya lagi, kakiku sakit sekali.... Kenapa, kenapa hidupku begitu sulit, apakah orang miskin sepertiku akan selalu bernasib sial begini?" Renji menenggelamkan kepalanya dalam ringkukan tubuhnya yang lusuh dan dingin, sambil menahan perih luka di kakinya.
Selang beberapa detik Renji terlarut dalam tangisnya, tba-tiba ada suara seorang gadis kecil bertanya padanya, "Kakak, kau kenapa duduk disini?"
Renji mengangkat kepalanya dan melihat sosok gadis kecil kira-kira berusia 6 tahun berdiri dihadapannya mengenakan legging dan sepatu bot, berbalut sweater dan ber topi beanie warna senada. Gadis itu berpayung merah muda, matanya bulat, kulitnya bersih dan senyumnya sangat cantik bak boneka yang sering dipajang ditoko mainan.
"Kau siapa?" Tanya renji.
Gadis itu tidak menjawab malah berkata, "Kata ibu, aku tidak boleh memberi tahu namaku pada sembarang orang."
"Begitu ya? Lalu kenapa kau mendekatiku?"
"Kakak terluka dan kehujanan, aku tidak boleh mengabaikan orang lain yang sedang terluka dan kehujanan."
Renji tersenyum kecil, "Tapi bagaimana jika aku orang jahat?"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Bukankah, kau kan tidak mengenal aku."
"Kakak, di dunia ini tidak mungkin ada orang jahat yang mengaku jahat."
Renji tersenyum dan tertawa kecil. "Kau gadis kecil yang cantik dan juga pintar," puji Renji yang berhasil membuat gadis kecil itu tersipu malu. Gadis kecil itu kini tengah merogoh isi sling bag miliknya.
"Kakak, ambil ini!" Gadis kecil itu tiba-tiba meberikan sebuah sapu tangan putih bermotif kelopak bunga sakura pada Renji.
"Huh? untuk apa?" Tanya Renji heran.
"Untuk mengelap luka kakak, supaya tidak basah terkena air hujan. Ini cepat pakai!" Pinta gadis itu.
Renji pun tidak bisa menolaknya, dan akhirnya menerima sapu tangan itu, "Terima kasih ya."
"Sama-sama," balas gadis itu sambil tersenyum manis.
Tiba-tiba, "Huh, suara apa itu?"
Renji tersipu malu, karena suara perutnya yang lapar baru saja terdengar nyaring. Gadis justru itu tertawa geli, ia kembali merogoh tas selempang kecilnya dan mengambil sebungkus roti isi untuk diberikan pada Renji, "Ini, untuk kakak!"
"Untukku?"
"Iya, kakak lapar kan? Ini aku punya roti isi kau makanlah supaya tidak lapar lagi."
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, "Aku tadi sudah makan banyak jadi tidak akan sedih."
"Kau gadis kecil yang sangat baik dan juga cantik, andai aku boleh tau siapa namamu," ungkap Renji berharap gadis itu mau memberitahu namanya.
Tapi gadis kecil itu justru malah gelagapan, dan terlihat buru-buru, "Ah kakak, maaf ya aku sudah harus pergi! Kakak habiskan rotinya ya... sampai jumpa," ucapnya yang kemudian melangkah pergi.
Namun, baru beberapa detik melangkah, gadis itu justru kembali menoleh ke arah Renji dan berkata, "Kakak kalau ingin tahu, namaku Sara Chen! Kau boleh kok, mengingat aku terus, lain kali kita bertemu lagi ya, bye bye." Sara kecil pun kali ini benar-benar pergi meninggalkan Renji.
"Jadi, namamu Sara ya gadis kecil, baiklah akan kuingat selamanya dirimu," ucap Renji sambil menantap roti pemberian Sara tadi sambil ter
Sara, semoga kita bisa bertemu lagi ya....
Flashback off
Setiap mengingat kenangan itu, selalu saja membuat Renji tersenyum pilu,
"Sara, sesuai harapan akhirnya kita sudah bertemu lagi.Tapi kenapa? Saat kita dewasa dan akhirnya bertemu lagi, kau malah harus menjadi istrinya Ryuzen!" Renji menggenggam erat sapu tangan itu dengan perasaan kecewa dihatinya.
~~
Ryuzen mampir di Kairaku, disana ia mengahabiskan berbotol-botol minuman, seperti kebiasaannya jika ada masalah, pria itu memang akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk minum.
"Apa kau sedang merasa buruk?" Ujar Yoshiki yang datang menghampirinya di lounge.
"Aku buruk? Ya, aku memang pria buruk dan brengsek. Ya..., mungkin sudah takdir jika aku yang memiliki ayah brengsek akan jadi brengsek juga." Ryuzen nampak mulai mabuk setelah menghabiskan banyak minuman.
"Tidak ada takdir yang seperti itu Ryu," balas Yoshiki.
"Tapi pada kenyataannya begitu. Aku dan si brengsek itu sama-sama buruk. Dulu si brengsek itu pergi membiarkan ibu dan aku menderita. Sekarang aku yang membuat istriku menderita. Apa namanya kalau bukan pria yang buruk dan brengsek?"
Yoshiki memegang pundak Ryu yang tubuhnya kini tengah bersandar di sofa. "Kau bukan pria yang buruk, kau hanya sedang merasa kacau saja saat ini."
Ryuzen hanya bergeming menanggapi ucapan Yoshiki barusan. Lucunya, saat mereka tengah mengobrol, justru beberapa wanita pengunjung bar yang berpakaian minim, malah datang mendekat dan menggoda Ryuzen yang kini terlihat kacau.
Tapi bukan tergoda dengan wanita-wanita itu, Ryuzen justru malah dengan spontanistasnya, melontarkan kalimat pedas dari mulutnya. "Kalian tidak usah menggodaku, karena aku tidak akan pernah tertarik dengan barang murah!"
Karena kesal dengan ucapan CEO Emerald Group barusan, para wanita itu pun langsung pergi dengan perasaan kesal.
Yoshiki pun hanya bisa menahan gelak tawanya dan kembali menceramahi Ryuzen, "Pulanglah Ryuzen, jangan buang-buang waktumu untuk mabuk-mabukan tidak berguna seperti ini, masalahmu tidak akan selesai jika kau hanya terus disini. Atau kau jangan-jangan memang tertarik untuk menghabiskan malam dengan wanita-wanita seperti mereka tadi?"
Ryuzen tertawa mengejek, "Kau pikir seleraku serendah apa. Istriku jauh lebih cantik dari semua pengunjung wanita yang pernah datang kemari, jadi buat apa?"
"Baiklah, baiklah ku tahu," balas Yoshiki sambil menepuk pundak Ryuzen.
๐น๐น๐น
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.
For more information follow my IG @chrysalisha98๐ฌ thank you.