Love Petal Falls

Love Petal Falls
Our love has just begun


Saat perjalanan menuju pasar malam, Ryuzen dengan sengaja menghentikan mobilnya di depan hotel Sansiren. Hotel yang menjadi saksi bisu kejadian tak menyenangkan antara Sara dan Ryuzen sekitar hampir 6 Tahun yang lalu.


Ryuzen mengajak Sara keluar dari mobil dan berdiri di depan area hotel tersebut. Jujur saja, Sara benar-benar tak ingin lagi mengingat kejadian itu, baginya saat ini pria di malam itu sudah pergi, yang ada hanya Ryuzen Han suami tercintanya saat ini.


"Kenapa kau bawa kita kemari?" tanya Sara terlihat tidak suka.


Ryuzen menatap Sara yang memalingkan wajahnya, seolah menghindari tatapan Ryuzen agar tak melihat matanya yang kini terlihat sedih.


"Sara sayang..., maaf aku membawamu ke tempat yang mungkin, membawamu pada kenangan pahitmu denganku dulu. Tapi aku membawa kita kemari hanya supaya... tidak ada lagi beban yang menghantui hubungan di antara kita, aku ingin menjalani sisa hidupku denganmu dengan tanpa beban dan rasa bersalah ataupun kebencian diantara kita, jadi...


"Ssttt...!" Sara menutup mulut Ryuzen dengan meletakan jari telunjuknya di bibir suaminya itu.


"Ryuzen, aku tahu maksudmu.... Bagiku, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu yang tak mungkin bisa kau hapus dari perjalanan hidup kita, baik itu masa lalu yang buruk sekalipun. Masa lalu yang indah akan selalu terukir di ruang yang kapan saja bisa kita buka, dan masa lalu yang buruk, bisa kau simpan di ruang yang tak akan pernah kau akan atau ingin coba buka kembali.


"Aku sudah tidak ingin mengingat kenangan pahit itu. bagiku biarlah itu menjadi salah satu perjalanan hidup yang harus aku lewati, untuk mendapatkan kebahagiaanku denganmu saat ini.


Jadi, Ryuzen! Bisakah kita tinggalkan masa lalu itu dan menguncinya rapat-rapat sehingga tak bisa dibuka kembali? Biarkan kita menjalani hidup ini dengan harapan-harapan baru antara kau, aku dan arvin," terang Sara diikuti senyum manisnya.


"Sara....!" ujar Ryuzen, kemudian memeluk Sara dengan erat. Sara pun membalas pelukan itu, dan kemudian mereka melepaskan pelukannya setelah beberapa detik.


"Oke kalau begitu, mari kita buat kenangan indah kita disini hari ini?"


"Maksudnya?" Sara terlihat bingung.


"Kita pertama kali bertemu di kota ini, di hotel ini. Oleh karena itu, mari kita ulang pertemuan kita, layaknya orang yang baru pertama kali bertemu."


Sara pun tersenyum dan mengangguk setuju.


"Halo Nona, aku Ryuzen Han!"


"Hai tuan, Aku Sara Chen!"


Mereka pun berjabat tangan dan saling melempar pandangan. Sara tersenyum bahagia tak terkira saat ini.


Tak disangka Ryuzen tiba-tiba berlutut dengan satu kaki di hadapan Sara, dan menggenggam satu tangan Sara lalu berkata, "Nona Sara, mulai malam ini maukah kau menjadi satu-satunya dan tak akan pernah tergantikan sebagai permasuri hatiku?"


Sara tak kuasa menahan rasa haru bercampur bahagianya. Dengan menitikan air matanya, dirinya pun menjawab dengan pasti, "Ya... aku mau!"


Ryuzen langsung mencium tangan Sara kemudian berdiri, menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu mengangkat tubuhnya hingga dirinya bisa menatap dengan jelas, wajah Sara tanpa perlu menunduk seperti biasanya.


Sara yang kini kakinya seolah melayang, karena diangakat oleh Ryuzen, menatap penuh cinta sambil menyentuh wajah Ryuzen dengan kedua tangannya.


"Ryuzen Han, aku mencintaimu...."


"Aku juga mencintaimu sayangku....!" balas Ryuzen yang kemudian mengangkat Sara lebih tinggi dan memutar-mutarkan tubuhnya. Sara tersenyum dan tergelak bak anak kecil yang tengah mendapatkan kado ulang ulang tahun pertamanya. Ryuzen pun hanya bisa menatapnya dengan penuh rasa syukur, atas Sara yang dianugerahkan di dalam hidupnya.


~Pasar Malam


Hingar bingar suasana pasar malam di kota Cardia, mungkin terasa biasa bagi banyak orang. Namun tidak bagi Sara, baginya suasana pasar malam ini adalah saksi, dimana dirinya untuk pertama kali dapat bergandengan mesra, dan bergelendot manja dengan suami tercintanya diatara keramaian, seolah dengan bangga mengumumkan pada dunia dialah wanita itu..., wanita yang telah berhasil menaklukan hati sang don juan yang menjadi idaman banyak wanita di negeri ini.


Tak jarang pula sesekali orang lain menatap iri pada kemesraan mereka,


"Hei lihat deh! Pasangan itu serasi sekali ya..., aku jadi iri melihatnya!" ujar seorang wanita pengunjung pasar malam pada temannya, melihat Sara dan Ryuzen.


"Wah tampan sekali pria itu!" ujar pengunjung lain terpesona melihat Ryuzen. "Iya tampan! sayang sudah punya pasangan, pasangannya juga cantik sih*! "


"Benar-benar pasangan yang serasi," puji sepasang paman dan bibi yang berjalan, di seberang Sara dan Ryuzen.


"Pasangan yang berjalan itu! Kok wajah prianya sepertinya tidak asing, seperti pernah lihat!" ucap seorang wanita penjual bakpao.


"Huh! Kenapa sih kita tidak se-romantis mereka!" ujar seorang gadis di sebelah pacarnya, saat melihat Ryuzen dan Sara berjalan berdampingan dengan mesranya.


Tapi bagi Sara hal itu tidak penting, baginya asal dirinya bersama Ryuzen, dunia akan terasa sangat indah.


"Sara, apa kau sering makan-makanan yang ada di sini?" tanya Ryuzen, kala mereka berjalan sambil bergandengan tangan mesra menyusuri area pasar malam.


Sara yang sejak tadi, melingkarkan tangannya di lengan sang suami pun menjawab, "Iya, waktu aku masih tinggal disini, aku sering sekali datang kemari. Oleh karena itu kau harus coba banyak makanan disini! Aku yakin orang yang kaya sejak lahir sepertimu, pasti jarang bahkan tidak pernah makan jajanan yang ada di pasar malam, iya kan?"


"Kita makan di restoran saja, makanan yang ada disini terlihat agak aneh buatku!" ujar Ryuzen dengan tatapan dinginnya.


"Tidak boleh! Kau harus makan makanan yang ada di sini, aku jamin kau pasti akan ketagihan dibuatnya," terang Sara yang mencoba membujuk Ryuzen.


"Baiklah karena melihatmu senang aku akan coba, tapi kalau aku masuk IGD kau juga harus masuk IGD!"


"Hei kau pikir aku mau kau makan racun!" tukas Sara agak sebal.


Tanpa memperdulikan lama-lama ucapan Ryuzen, Sara menarik Ryuzen dan mengajaknya ke salah satu kedai hupa hu makanan khas kota Cardia, yakni adonan bulat-bulat yang terbuat dari ikan yang digiling dan sudah dikukus, lalu disiram kuah rempah yang bagi Sara makanan itu terlihat 100 kali lebih lezat daripada makanan di restoran bintang 5, tempat dirinya dan Ryuzen sering makan bersama.


"Paman tolong buatkan satu ya...!" pinta Sara pada sang paman penjual tersebut.


"Ini Nona...!" ucap sang paman penjual dengan ramah, sambil menyerahkan satu porsi hupa hu.


"Terima kasih Paman!" balas Sara.


Sara pun segera meminta Ryuzen mencobanya, selagi masih hangat.


"Ayo kau makan...," bujuk Sara pada suaminya itu.


"Aku tidak mau!" balas Ryuzen dengan wajah datarnya.


"Ayolah... satu suap saja," bujuk Sara dengan ekspresi wajah memelas bak anak kucing yang minta makan, melihat itu Ryuzen bukan langsung menuruti istrinya malah malah membuat senyum licik di bibirnya.


"Oke, aku makan! Tapi harus kau sendiri yang suapi aku," ujar Ryuzen tersenyum licik pada Sara.


"Heh dasar serigala licik!" gumam Sara.


"Oke kalau maumu begitu, cepat buka mulutmu! Tapi kalau ternyata kau sampai ketagihan, maka kau harus janji menuruti semua permintaanku ya...," perintah Sara.


"Oke!"


Ryuzen sudah membuka mulutnya, Sara dengan penuh kasih sayang menyuapi Ryuzen, dikunyahnya makanan itu perlahan,


"Eh! Ini enak!" ujar Ryuzen setelah menelan habis makanan dimulutnya tersebut.


"Iya kan, apa aku bilang...," ucap Sara seolah bernada bangga.


Ryuzen membuka mulutnya lagi, dan mengeluarkan suara, "Aaa...." tanda minta di suapi lagi.


"Kau kan bukan bayi lagi! Makan sendiri saja!" Sara menyodorkan cup makanan itu pada Ryuzen, namun Ryuzen sama sekali tak menghiraukannya. Dirinya terus saya minta di suapi. Sara pun akhirnya menyuapi bayi besar di hadapannya sekarang. Karena Sara juga lapar, dirinya pun ikut makan makanan di tangannya itu.


"Kenapa kau makan juga?" kata Ryuzen.


"Aku kan juga lapar...." Sara kembali makan.


"Baiklah makan seporsi untuk berdua sepertinya lebih romantis!" ucap Ryuzen mengerlingkan matanya.


Melihat Sara dan Ryuzen yang makan di hadapannya paman penjual makanan pun itu tak henti-hentinya tersenyum meligat kelakuan Sara dan Ryuzen.


"Pasangan muda zaman sekarang, memang selalu terlihat romantis dimana saja ya?" ujar paman penjual makanan itu sambil tertawa kecil.


Sara sedikit tersipu malu mendengarnya, "Maaf ya Paman! Apa kamu membuatmu tidak nyaman?"


"Oh tidak masalah...! Hanya saja tiba-tiba aku jadi rindu istriku yang sedang di rumah," jelas paman tersebut.


"Paman maaf, ada apa ya di ujung sana itu kelihatan ramai sekali?"


"Oh iya, disana ada acara perlombaan dansa massal yang berhadiah tiket liburan untuk pasangan, kalau kalian mau, ikut saja...!"


"Sebenarnya aku juga ingin sekali ikut mengajak istriku, tapi sayangnya istriku sudah tak bisa lagi menari sebaik dulu saat kami masih pacaran," lanjut paman penjual makanan.


Sara menatap ke arah suaminnya seolah mengisyaratkan jika dirinya ingin melihat kesana, Ryuzen yang ingat jika Sara suka menari pun langsung menjawab, "Oke...!"


Setelah selesai makan makanan mereka dan minum, mereka berdua pun langsung menuju ke tempat dimana perlombaan dansa pasangan massal itu. Ryuzen menggandeng Sara di belakang tubuhnya, supaya dirinya bisa dengan mudah menerobos keramaian tersebut dan melihatnya langsung dari paling depan.


"Terima kasih!" ucap Sara saat sudah berada di paling depan keramaian penonton sehingga dirinya dapat dengan jelas melihat. Ryuzen menukar posisi tubuhnya dengan Sara, kini dirinya yang bediri di belakang Sara seolah menjadi pelindungnya agar tidak terdorong jatuh, jika tiba-tiba penonton di belakang saling berdorongan.


"Istriku harus dapat tempat yang terbaik!" ucap Ryuzen, yang lagi-lagi membuat Sara tersanjung saat mendengarnya.


Pembawa acara pun mulai mengangkat microphone-nya, berbicara panjang lebar dan lainnya hingga membuka acaranya. Namun tiba-tiba salah satu peserta ada yang tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan sehingga menyebabkan satu tempat peserta kosong. Sara tersenyum seolah mendapat ide, ia pun mengatakan pada Ryuzen, peserta yang kosong itu digantikan oleh dirinya dan Ryuzen.


"Ryuzen... ayolah sekali ini saja, ya?" bujuk Sara agar Ryuzen menuruti permintaannya.


"Sara, kalau kau mau liburan nanti aku belikan pulau pribadi."


"Bukan karena hadiah liburannya, lagi pula tadi kan kau sudah janji padaku saat makan, kalau kau suka makanannya kau akan penuhi permintaanku...." ujar Sara memasang wajah memelasnya.


"Sara...."


"Oh, atau jangan-jangan kau tidak mau ikut, karena takut kalah dari pasangan muda lain, karena kau sadar diri jika kau itu kan sudah jadi om-om berusia tiga puluhan dan sudah tidak kuat berdansa dengan enerjik. Iya kan, mengaku saja...?" celoteh Sara.


Ryuzen tiba-tiba menatap Sara dengan begitu dekat, "Nona Sara, tadi kau bilang apa? Om-om? tidak muda lagi? Apa pertarungan kita tiap malam itu masih kurang jelas betapa enerjiknya suamimu ini?"


"Em, Ryuzen aku hanya bercanda kok!"


Tanpa banyak bicara Ryuzen langsung menggandeng Sara dan membawanya ke tempat panitia lomba.


"Kami yang akan menggantikan peserta yang mengundurkan diri itu!" ucap Ryuzen pada panitia dengan wajah yang terlihat masih agak kesal karena ucapan Sara tadi


"Oke, siapa nama kalian?"


"Tuan tampan dan nona cantik!" tukas Ryuzen dengan spontan.


"Uh! Memang ada nama seperti itu, tuan apa kau serius?" ucap si panitia.


"Memangnya ekspresi wajahku masih kurang serius?" Ryuzen menatap serius ke arah panitia.


"Eh, i... iya serius! baiklah aku catat ya." ucap panitia itu agak gelagapan.


"Ka.. kalau begitu Tuan tampan dan Nona cantik silakan tunggu giliran kalian, ini nomor peserta kalian," ucap panitia itu yang masih terlihat panik, saat melihat Ryuzen yang masih saja bereskpresi menyeramkan.


"Oh iya, terima kasih!" ucap Sara dan mereka pun duduk di kursi peserta setelah menerima nomor peserta.


"Ryuzen kau itu jangan pasang tampang serius yang menyeramkan begitu, lihat panitia tadi tadi gugup gara-gara kau!"


"Memang aku peduli!"


"Dasar...! Apa iya gara-gara di bilang om-om, Ryuzen jadi sekesal ini?" tanya Sara di dalam hati.


"Kalau kita menang nanti, kau harus main sampe pagi dengaku!" tukas Ryuzen tiba-tiba.


"Eh, apa maksudnya?!" ujar Sara dengan rasa curiga.


"Maksudnya ya begitu!" balas Ryuzen dengan wajah datarnya.


"Huh...! Menyebalkan," gerutu Sara sambil mengerucutkan bibirnya.


Ryuzen yang meliriknya pun hanya tersenyum geli melihat betapa lucunya sang istri saat ini.


Acara perlombaan pun di mulai satu persatu peserta menunjukan bakat mereka, Sara dan Ryuzen pun sudah tampil barusan. Kini giliran sesi dansa bersama secara massal yang jadi penentu pemenangnya. semua peserta yang tadi tampil pun kini sudah bersiap dengn posisi masing-masing tak terkecuali Sara dan Ryuzen yang sudah berdiri dengan posisi sudah siap untuk berdansa berpasangan.


"Ryuzen, maaf aku terkesan memaksamu ikutan acara secamam ini..." ucap Sara sebelum musik dansa dimainkan.


"Kau tidak perlu minta maaf, lagipula aku tahu kau kan sangat suka menari dan berdansa," tukas Ryuzen lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sara.


"Jadi sekarang, mari kita nikmati dansa kita malam ini! oke sayang...?" bisik Ryuzen dengan mesra, Sara seraya tersenyum saat mendengarnya. Hingga beberapa detik kemudian musik dansa pun mulai dimainkan, dan mereka berdua pun mulai berdansa dengan diiringi lagu santai, melangkah menikmati tiap gerakan tubuh sambil sesekali melempar senyum.


๐ŸŽถ


Ain't it funny how the time flies


Now you're here as my wife


Remember how you met me?


Two hearts on a cold street


With a kid and a big house


Can't believe we're here now


Your warmth has never left me


Two hearts on a cold street


And now it's not crazy


I told you it's fate


Remember that day as


I lay here with you


So happy you weren't busy


I'm glad that you stayed


I still feel the same


For you I would travel to outer space


Take a bullet to the heart just to keep you safe


For you, anything for you...


With you all the years just fade away


Like a dream in my arms but I'm wide awake


With you, whenever I'm with you...


*Song by Tyler Shaw


Pas ngetik episode ini sambil dengerin lagu ini, jadi keknya di otak author kebawa sekalian author masukin seolah musik yang ngiringin mereka dansa ๐Ÿ˜…


Like, comment, votenya jangan lupa ya gais! Thank You ๐Ÿ™