Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Keterkejutan


Rahang tegas Gerry nampak mengeras tatkala ia dapat melihat dengan jelas adegan dewasa di depan matanya saat ini. Kekasih hatinya itu saat ini tengah bercumbu tanpa sehelai benang pun dengan pria yang kini tengah berada di atas Ketty dalam kondisi sama-sama polos. Bahkan kedua bola mata Gerry nyaris keluar dari wadahnya saat mendengar ucapan mereka di akhir percintaan sepasang insan yang sedang dimabuk asmara itu. Ingin sekali Gerry menghajar laki-laki yang sudah berani-beraninya menyentuh wanitanya itu. Namun Gerry lebih memilih untuk mendengar lebih lanjut ucapan mereka.


"Jadi kapan kau akan meninggalkan kekasihmu itu?"


"Tenanglah, sebentar lagi. Setelah aku menjadi nyonya muda di keluarga mereka dan aku sudah berhasil merebut semua harta warisan Gerry."


"Apa kau yakin dengan rencanamu kali ini?"


Kedua insan itu kini tengah berpelukan setelah kegiatan panas mereka selesai.


"Tentu saja. Gerry itu sudah cinta mati padaku. Dia hanyalah pria bodoh yang dengan mudah bisa aku kadali. Dengan alasan cintanya padaku, aku yakin Gerry akan dengan mudahnya memberikan semua hartanya padaku. Percayalah padaku." Tawa Ketty menggelegar diikuti tawa kekasih gelapnya.


"Aku bahkan sudah muak dengan segala kata cinta yang dia ucapkan. Jika bukan karena hartanya, aku tidak akan mau berlama-lama menjadi kekasih pria datar seperti dirinya. Berbeda dengan dirimu." Ungkap Ketty. Mereka kembali berpelukan dalam keadaan polos yang berhasil membangkitkan kembali hasrat masing-masing.


"Tapi bagaimana denga laki-laki tua itu?"


"Aku akan menghabisi tua bangka itu secara perlahan. Sehingga tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi rencanaku."


Setelah cukup mendengar percakapan dua manusia licik berkedok setan itu, Gerry pun memilih meninggalkan hotel. Perjuangannya selama ini hanya berbuah dusta. Orang yang dianggapnya cinta sejatinya ternyata tak lebih dari seorang jal*ng yang hanya ingin menikmati semua hartanya dan bahkan berniat merebutnya.


Gerry kembali ke tanah air hari itu juga. Tujuannya saat ini hanyalah ingin bertemu dengan Kakeknya dan meminta maaf sebesar-besarnya. Ia kini tahu alasan terbesar Kakek Surya tidak memberikan izin pada percintaannya untuk naik ke pelaminan.


"Sial!!" Gerry melampiaskan amarahnya yang memuncak pada tembok kamarnya saat sudah sampai di apartemen. Darah segar nampak mengalir dari punggung tangannya, namun Gerry menghiraukannya.


Berhari-hari Gerry lewati dengan penuh penyesalan. Ia sudah berusaha menghubungi Kakek dan orang tuanya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang merespon panggilannya. Bahkan kini nomornya sudah masuk kontak hitam di ponsel mereka.


Tiba-tiba saja Gerry kembali teringat dengan wanita yang masih sah menjadi istrinya. Langkah kakinya menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar wanita yang sudah hampir dua bulan ini tak lagi berpenghuni.


Gerry menatap ranjang yang menjadi saksi perbuatan kejamnya pada istrinya. Pandangan Gerry kini tertuju pada laci nakas yang sedikit terbuka. Entah mengapa Gerry tertarik ingin melihat lembaran kertas yang nampak menyembul dari sana. Tangan Gerry terulur mengambil lembaran kertas itu. Namun tanpa ia duga sesuatu nampak terjatuh dari lembaran kertas itu ke atas lantai.


***


Sudah beri dukungan buat hari ini belum?


Like


Komen


Votenya!:)