
Sudah satu bulan belakangan dilewati Kyara dengan damai. Hari-harinya lebih bewarna dibandingkan sebelumnya hidup bersama Gerry. Menjalani keseharian dengan berjualan melayani pembeli merupakan satu hal yang membahagian bagi Kyara. Kyara memang merasa bahagia, walau ia selalu merasa ada sesuatu yang kosong di dalam dirinya.
Saat ini Kyara tengah menatap pemandangan luar kota kelahiran Rania dari balkon lantai dua ruko. Karena tadi ia sudah merasa lelah, akhirnya Kyara memutuskan untuk istirahat sejenak selagi pengunjung masih sepi.
Tangan Kyara dengan setia mengelus perutnya yang sudah membuncit itu secara perlahan. Kyara nampak tersenyum saat merasakan pergerakan di dalam perutnya.
Tiba-tiba saja Kyara mengelus dadanya merasa terkejut dengan kedatangan Rania tiba-tiba.
"Kya..." Nafas Rania naik turun saat sudah berada dekat dengan Kyara.
"Rania.... Huh, kau mengagetkanku saja! Kau ini kenapa selalu datang tiba-tiba? Dan kenapa wajahmu pucat begitu? Kau seperti orang yang habis bertemu setan saja." Gerutu Kyara.
"Kau salah besar, Kyara... Bahkan aku bertemu dengan sosok yang lebih menyeramkan dibandingkan setan saat ini!" Tukas Rania dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Maksudmu?" Kening Kyara nampak mengkerut.
"Aku habis bertemu dengan Kakek Surya di bawah. Dan dia ingin bertemu denganmu! Sekarang dia sudah ada di ruang tamu." Ungkap Rania.
"Apa?!" Kedua bola mata Kyara seketika membola dan nyaris keluar dari wadahnya saat mendengar ucapan Rania.
"Bagaimana Kakek bisa berada di sini, Rania? Bagaimana ini? Aku belum menyiapkan jawaban untuk berbohong saat ini!" Wajah Kyara seketika pucat pasih.
"Kau ingin berbohong apa lagi kali ini pada Kakek, Kya?" Ucap Kakek Surya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Rania.
"Ka-kakek." Ucap Kyara terbata.
"Katakan. Hal apa lagi yang ingin kau katakan pada Kakek untuk menutupi fakta yang sebenarnya, Kyara." Suara Kakek Surya terdengar parau. Raut kesedihan tercetak di wajahnya yang tak lagi muda.
Kyara membeku. Mulutnya seakan tidak bisa mengeluarkan suara.
Mata Kyara mulai tergenang. Merasa air matanya sudah siap meluncur, Kyara buru-buru menghamburkan tubuhnya pada Kakek Surya. Kakek Surya menerima pelukan itu dan membalasnya. Ia menepuk punggung Kyara yang naik turun di pelukannya.
Kakek Surya menatap dalam-dalam pada perut Kyara setelah pelukan itu terlepas.
"Sudah berapa bulan?"
Deg
Jantung Kyara berpacu dengan cepat ketika ia melupakan untuk menutupi perutnya.
"Kakek sudah mengetahui semuanya, Kya." Jelas Kakek Surya melihat Kyara yang masih mematung. "Jadi sudah berapa bulan dia ada di dalam sana?" Tangan Kakek Surya terulur membelai kepala Kyara guna menenangkan wanita itu.
"Sudah hampir lima bulan." Lirih Kyara.
Kakek Surya melebarkan senyuman. " Ya sudah ayo masuk. Johan dan Riana ingin bertemu denganmu."
Kyara mengangguk. Ia dan Rania pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah lebar Kakek Surya.
Mama Riana nampak begitu antusias ketika mengetahui bahwa tak lama lagi ia akan jadi seorang nenek.
"Jadi besok kau akan pergi ke rumah sakit untuk mengecek jenis kelaminnya, Nak?" Tanya Mama Rania begitu bahagia.
Mereka tak lagi membahas masalah Gerry di depan Kyara. Mereka tidak ingin Kyara menjadi sakit ketika teringat dengan suami kejamnya itu.
Kyara mengangguk membenarkan. "Semoga saja dia tidak lagi malu-malu menunjukkan jenis kelaminnya."
***