Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Capit kepiting


"Aku tidak melupakannya. Tapi apa tadi? Kau bilang jika suamiku juga akan ikut dalam pertemuan nanti?" Tanya Rania begitu terkejut.


"Ya. Suamimu akan ikut dalam pertemuan nanti." Balas Sean dengan santai.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika suamiku akan ikut?" Protes Rania memukul keras lengan Sean.


"Kenapa kau memukulku? Apa kau tahu jika pukulanmu itu sangat keras dan bisa membuat lenganku memar!" Cecar Sean mengelus lengannya yang sakit.


"Itu karena kau tidak memberitahuku jika suamiku akan ikut di pertemuan kita nanti!" Amuk Rania. Kali ini Rania mencubit kecil lengan Sean yang membuat pria itu semakin memekik kesakitan.


"Rania..." Amuk Sean kembali memasang wajah jengkel. "Kau ingin membuat seluruh kulit mengelupas ya?!" Pekiknya kemudian. "Cubitanmu itu sudah seperti capit kepiting saja!" Sean tak henti menggerutu hingga pintu lift terbuka.


"Ada apa dengan anda Tuan?" Tanya Felix yang berada di depan pintu lift yang sudah terbuka.


"Felix, apa benar jika nanti siang kita ada pertemuan dengan Tuan Gerry dan juga Tuan William?" Tanya Rania memastikan ucapan Sean tanpa memperdulikan Sean yang hendak angkat bicara.


"Benar Nona. Apa telinga anda tidak dapat mendengar dengan jelas ucapan saya kepada anda dan Deby kemarin siang jika hari ini kita ada pertemuan penting dengan Tuan Gerry dan juga Tuan William." Cetus Felix dengan datar.


"Aku tidak mendengarnya! Kau hanya berkata jika Tuan Gerry juga akan mengajak sahabatnya untuk ikut di dalam pertemuan kita!" Protes Rania sambil berkacak pinggang.


"Kau terlalu banyak berbicara." Amuk Sean merasa jengkel. Dan tanpa aba-aba Sean pun menyeret Rania yang masih menatap tajam pada Felix menuju ruangannya.


"Deby. Siapkan berkas yang saya minta kemarin dan berikan pada Felix di ruangannya." Perintah William sambil menyeret Rania.


"Tuan Sean... Lepaskan aku!" Pekik Rania saat Sean masih terus menyeret langkahnya.


"Baik Tuan." Jawab Deby dengan menahan tawanya. "Mereka itu sudah seperti anjing dan kucing saja!" Gumam Deby saat tubuh Sean dan Rania sudah hilang dari balik pintu.


*


Rania menatap nanar gedung menjulang tinggi yang ada di hadapannya saat ini. Gedung yang cukup banyak memberikan kenangan untuknya selama bekerja di sana dalam suka maupun duka bersama teman-teman kerjanya dan juga sahabatnya Kyara.


"Apa kau masih tetap ingin berdiri di sini?" Ucap Sean dengan sebal karena sudah hampir lima menit Rania hanya diam tanpa berniat melanjutkan langkahnya.


"Eh, iya. Ayo!" Ajak Rania dengan tersenyum kaku.


"Kau..." Ucap Rania melototkan kedua matanya pada Felix.


Tak lagi ingin menanggapi Rania, Felix pun membalikkan tubuhnya dan berjalan lebih dulu di hadapan Rania.


"Bukankah itu Rania?" Bisik-bisik para OB mulai terdengar saat Rania baru saja memasuki gedung perusahaan Bagaskara.


"Eh, iya. Benar itu Rania. Kenapa penampilannya berubah? Bahkan dia terlihat seperti seorang sekretaris yang sedang mendampingi atasannya." Suara bisikan itu terus terdengar di telinga Rania.


Rania menatap pada teman-teman sesama OBnya dulu dengan tersenyum kaku. Pastilah mereka saat ini merasa bingung dengan kedatangannya kembali ke perusahaan itu dengan penampilan jauh berbeda dengan pekerjaannya dulu.


"Ternyata benar itu Rania." Bisik mereka lagi saat Rania menatap pada mereka dengan tersenyum.


***


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^