
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Gerry tertuju pada Citra.
"Untuk saat ini aku sudah memecatnya dari perusahaan ini dengan alasan bukti-bukti yang sudah ada. Dan untuk selanjutnya aku sudah memerintahkan pada Steve untuk membawanya pergi jauh dari kota ini bahkan dia tidak akan lagi bisa memiliki akses masuk ke kota ini. Untuk lebih lanjut aku sudah menyerahkan semuanya pada Steve. Aku yakin Steve dapat menanganinya dengan baik." Terang William.
"Baguslah jika begitu. Rumah tanggamu terlalu rumit sejak awal kalian menikah. Dan ada baiknya kau tak lagi menambah masalah yang akan membuat rumah tanggamu semakin sulit." Pesan Gerry.
"Aku paham itu. Aku tidak akan membiarkan lagi satu tetes air mata pun jatuh di wajah Rania karena kesedihan akibat ulahku." Tekad William.
"Baguslah jika begitu. Semoga saja Rania cepat memaafkanmu." Balas Dika.
"Ya. Aku harap juga begitu. Karena aku yakin Rania akan sulit menerima ajakanku jika dia masih dalam keadan marah seperti saat ini." Ucap William merasa resah.
"Dan itu adalah tugasmu untuk membuatnya kembali baik-baik saja seperti sedia kala. Aku yakin kau bisa meluluhkan hatinya seperti kau meluluhkan hati para wanitamu dulu." Ledek Gerry.
"Diamlah! Aku sudah tidak ingin mengingat masa laluku yang suram dulu." Tiba-tiba saja wajah William berubah suram.
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Gerry merasa aneh melihat perubahan wajah William yang cukup cepat.
"Apa kau tahu jika saat ini aku sungguh takut jika memiliki anak perempuan?" Ucap William merasa resah.
"Setelah aku kembali mengingat sikap burukku di masa lalu yang sering mempermainkan hati wanita, aku sungguh takut jika putriku nantinya mendapatkan balasan akan sikap burukku di masa lalu." Jelas William mengungkapkan kekhawatirannya.
Gerry dan Dika saling pandang. Dan sedetik kemudian mereka pun kompak tertawa berbarengan.
"Hahaha... kenapa kau tidak memikirkan hal ini sebelum kau mempermainkan banyak hati wanita dulunya?" Cibir Gerry.
"Karena saat itu aku tidak sadar jika apa yang aku perbuat saat itu akan mendapatkan balasan di kemudian hari. Dan saat ini aku benar-benar takut karena calon anakku dan Ranie berjelenis kelamin perempuan." William dibuat memijit pelipisnya. Beban pemikirannya semakin bertambah dengan jenis kelamin anak pertamanya.
"Sudahlah... kau tidak perlu memikirkannya terlalu jauh. Untuk mencegahnya kau bisa selalu berdoa agar perbuatanmu di masa lalu dibayar kontan oleh putrimu nantinya. Doakan saja agar putrimu mendapat pria yang tulus mencintainya dan akan menjaganya dari hal-hal buruk. Lagi pula sebagai ayahnya, kau bisa menjaga putrimu dengan baik dari banyaknya pria yang tidak baik nantinya di luar sana." Ucap Dika.
William dibuat terdiam. Pemikirannya pun kembali melayang entah kemana. Namun beberapa saat kemudian senyuman tampannya pun nampak terbit di bibir tebalnya.
"Kenapa kau tertawa? Apa ucapanku ada yang lucu?" Tanya Dika dengan kening mengkerut.
"Tidak ada. Tapi aku baru mengingat jika Rania berniat menjodohkan anakku dengan Baby Rey anak Gerry dan Kyara nantinya. Niat istriku yang ingin menjodohkan Rey dengan bayi kami menurutku adalah ide yang tepat. Karena aku yakin jika Rey nantinya bisa menjaga putriku dengan baik." Ucap William merasa tenang tanpa menyadari jika saat ini Gerry terlihat melotot mendengar ucapannya.
***