
Selama acara makan malam berlangsung Rania merasa tidak tenang karena sejak tadi pandangan salah satu dari tiga pria serba hitam itu terus tertuju padanya. Rania pun menjadi tidak fokus menghabiskan sisa makanannya. Pandangannya sesekali menatap pada tiga pria itu lalu pada makannya.
"Apa kau akan terus memperhatikan istrimu tanpa memakan makanan di depanmu!" Tegur Gerry saat ia sudah menghabiskan makanan di di hadapannya sedangkan makanan William tidak tersentuh sama sekali. Bahkan masker hitam dan kacamata hitam itu masih melekat di wajahnya.
"Diamlah. Kau mengganggu konsentrasiku." Amuk William tanpa mengalihkan pandangan dari Rania.
"Jika kau seperti ini terus, bisa-bisa mereka akan curiga kepadamu. Bukan hanya mereka, bahkan semua pengunjung di restoran ini!" Timpal Dika merasa geram. Bagaimana tidak, niatnya yang ingin istirahat setelah bekerja seharian di rumah sakit harus ia batalkan karena ajakan bodoh dari William. Dan Dika pun tidak bisa menolak. Sebab ancaman dari William benar-benar membuatnya mati kutu.
"Kau makan makananmu sekarang juga atau kami akan meninggalkanmu di sini!" Ancam Gerry.
William mendengus. Dan mau tidak mau mengikuti perintah kedua sahabatnya.
"Apa kau sudah tidak waras ingin meminum minumanmu dengan masih menggunakan masker William!" Ucap Dika menggeleng-geleng melihat aksi William yang mengarahkan sedotan ke mulutnya tanpa melepas maskernya. Andai saja saat ini mereka tidak sedang melakukan penyamaran, Dika akan senang hati meneriaki lubang telinga William dengan keras.
"William..." Geram Gerry. Untung saja pembicaraan mereka itu tidak terdengar sampai ke meja keluarga Sean sebab alunan musik di restoran sudah dihidupkan.
Setengah jam lebih melakukan penyamaran di restoran itu, akhirnya Gerry dan Dika mengajak William untuk pergi dari sana sebelum penyamaran mereka ketahuan dan akan membuat William semakin malu pada Sean.
"Harusnya aku masih ada di sana karena mereka terlihat tertawa bersama saat ini!" Cetus William merasa sebal saat melihat istrinya tengah tertawa bersama keluarga rivalnya.
"Sudahlah, ayo pergi!" Ajak Gerry menarik kencang tangan William.
"Ini sungguh konyol!" Gumam Dika merasa malu dengan aksi mereka beberapa menit yang lalu.
*
Di dalam apartemennya William terlihat mondar-mandir menunggu kedatangan istrinya.
"Kenapa dia belum sampai juga?" Gumam William merasa awas.
Hingga beberapa menit menunggu, akhirnya pucuk dicinta pun terlihat. William dengan refleks bergegas menuju pintu apartemen untuk menyambut kedatangan istrinya.
"Rania... Kau baru pulang? Apa kau tidak tahu jika aku merindukanmu." William buru-buru memeluk tubuh istrinya seakan-akan sudah lama tak bertememu.
"Will... Tolong lepaskan... Aku sungguh sesak!" Pinta Rania karena pelukan William terlalu kuat.
William pun merenggangkan pelukannya.
"Apa maksudmu?" Ucap William dengan pura-pura bodoh.
"Kau menguntitku, bukan?" Tanya Rania dengan malas karena sesungguhnya ia sudah mengetahui jawabannya.
"Tidak... Siapa yang menguntitmu?" Dusta William.
Rania menghela nafasnya. "Sudahlah..." Balasnya tak ingin meneruskan kebohongan suaminya.
"Ini untuk terakhir kalinya kau menjadi pacar pura-pura bocah tengik itu. Lain kali aku tidak akan mengizinkamu." Ucap William dengan tegas.
"Bocah tengik? Siapa yang kau maksud bocah tengik?" Tanya Rania bingung.
"Tentu saja Bosmu itu. Jika dia sampai berani mengajakmu kembali untuk menjadi pacar pura-puranya, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkannya!" Ucap William dengan tegas. Rasa marah dan cemburu menjadi satu di dalam hatinya.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...