
"Besok pagi?" Rania terbelalak. "Tapi aku belum memiliki satu pakaianpun yang bisa aku pakai untuk bekerja besok." Keluh Rania dengan wajah tertekuk.
Sean tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Sebal Rania karena pikirnya Sean menertawakan nasibnya yang buruk.
"Kau tenang saja. Felix sudah mempersiapkan pakaian kerjamu untuk besok pagi." Ucap Sean dengan santai. "Lagi pula aku ingin kau berpenampilan serasi denganku saat kau bekerja nanti." Lanjutnya.
"Mempersiapkan pakaian untukku?" Kening Rania mengkerut dalam. "Bagaimana bisa Felix mempersiapkan pakaian untukku sedangkan aku belum memutuskan pilihan untuk bekerja. Dan Felix juga tidak mengetahui ukuran tubuhku!" Cecar Rania dengan bingung.
Sean kembali tertawa.
"Kau jangan terus tertawa!" Rania memukul lengan Sean pelan. "Aku ini sedang serius!" Sungutnya kemudian.
"Tentu saja aku mengetahui dengan pasti kau akan menerima pekerjaan itu. Dan untuk ukuran pakaianmu, Felix tidak perlu bersusah payah mencarikannya karena tubuhmu itu sangatlah kecil. Pasti saja Felix akan mencarikan ukuran pakaian yang paling kecil diantara ukuran pakaian lainnya." Seloroh Sean.
"Aku tidak kecil, Sean!" Tekan Rania. "Kau ini sungguh menyebalkan sekali." Mendesahkan nafasnya kasar di udara.
Perdebatan-perdebatan kecil pun mulai menemani kebersamaan mereka di danau sore itu. Hingga langit pun mulai menghitam, Sean pun bangkit dari posisinya setelah membuat Rania semakin kesal akan candaannya.
"Ayo pulang. Apa kau ingin sampai malam berada di sini?" Ucap Sean mengulurkan tangannya pada Rania.
Rania menerima uluran tangan Sean. "Tunggulah sebentar. Aku ingin memesan ojek online dulu." Merogoh ponsel dalam tas selempangnya.
Sean menahan pergerakan Rania. "Kau pulang bersamaku saja. Aku juga membawa mobil ke sini." Ajak Sean.
"Tapi—"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menurunkanmu sedikit jauh dari gedung apartemen." Ucap Sean seolah mengetahui apa isi hati Rania.
"Baiklah." Putus Rania. Lagi pula akan memakan waktu sedikit lama jika menunggu ojek pesanannya menjemputnya di danau itu.
Rania dan Sean pun beranjak meninggalkan danau yang sudah mulai sepi oleh para pengunjung yang mulai meninggalkan tempat indah itu.
*
Pakaian-pakain ini adalah pakaian kerja untuk anda bekerja di perusahaan mulai besok Nona. — Felix.
"Apa ini pakaian yang dimaksud Sean tadi?" Pikir Rania. Rania pun membawa semua paper bag itu masuk ke dalam apartemen dengan susah payah karena jumlahnya yang cukup banyak.
"Pasti pakaian ini harganya sangat mahal." Gumamnya melihat sekilas isi di dalam paper bag. "Apa? Bahkan Sean juga mempersiapkan sepatu dan juga tas untukku besok?" Rania menggeleng tak percaya atas apa yang dilihatnya. "Kenapa dia itu selalu saja baik kepadaku?" Lanjutnya lagi.
Tak ingin memenuhi ruang tamu dengan barang-barangnya. Rania pun membawa semua paper bag itu naik ke lantai atas kamarnya dan William berada.
"Apa William tidak pulang lagi malam ini?" Rania memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam di dinding kamarnya. Kemudian menutup layar ponselnya setelah merasa matanya cukup panas setelah membaca beberapa artikel tentang bagaimana pekerjaan menjadi seorang sekretaris.
Kruk
"Aku sungguh lapar sekali." Keluh Rania mengelus perutnya yang mulai berbunyi. "Baiklah. Sebaiknya aku makan saja. Sedikit makanan tidak akan membuat tubuhku melebar." Gumamnya kemudian turun dari ranjang.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...