
Kyara menatap satu persatu orang yang berada di ruang keluarga dengan pandangan berbeda-beda kepadanya. Hari ini adalah waktu dimana ia akan kembali ke kota A untuk melanjutkan hidupnya di sana. Setelah segala upaya orang-orang memberi nasihat maupun pengertian kepadanya, akhirnya Kyara tetap pada pendiriannya untuk tetap kembali ke kota A bersama Rania hari ini. Lagi pula Kakek Surya, Papa Johan dan Mama Riana tidaklah memaksa Kyara untuk memilih pilihannya sendiri. Mereka menerima dengan lapang dada atas apa keputusan wanita itu.
Gerry keluar dari dalam lift dengan menenteng tas berisi pakaian Baby Rey. Baju kaos bewarna hitam dan celana jeans bewarna hitam melekat di tubuhnya membuat ketampanan Gerry makin bertambah. Namun siapa sangka dibalik ketampanannya itu Gerry memendam segala resah dan gelisah karna akan berjauhan dengan istri dan anaknya. Apa lagi jika mengingat Kyara akan menggugat cerai dirinya membuat hatinya semakin resah saja.
"Apa kalian akan berangkat sekarang?" Tanya Mama Riana menatap sendu menantu dan cucunya.
"Iya, Ma. Supaya tidak terlalu malam sampai di sana." Tutur Kyara seraya tersenyum.
Mama Riana menghela nafasnya yang kian memberat. Sejujurnya ia sangat berat jika harus kehilangan mantu sebaik dan setulus Kyara. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui setiap keputusan Kyara.
"Maaf Kakek tidak bisa mengantarmu, Kya." Ucap Kakek Surya yang juga menatap sendu cucu mantunya. Kesehatan Kakek Surya yang kurang membaik akhir-akhir ini membuat Kakek Surya tak bisa ikut serta mengantar kepulangan cucu dan cicitnya itu.
Kyara tersenyum. "Tak apa... Kakek perbanyaklah istirahat dan makan yang sehat dan teratur. Semoga kesehatan Kakek kembali pulih." Jawabnya dengan kedua bola mata yang mulai mengembun.
"Jika keadaan Kakek sudah kembali pulih, Kakek bisa mengunjungi kami. Kya selalu menanti kehadiran Kakek mengunjungi kami." lanjutnya kemudian.
Kyara mengingat setiap kejadian yang dilaluinya saat bersama Kakek Surya. Kakek Surya bagaikan Ibu dan Ayah pengganti baginya yang selalu menyemangatinya di saat hampir semua orang memandangnya sebelah mata. Begitu banyak jasa Kakek Surya yang belum bisa ia balas kecuali menyetujui keinginan Kakek Surya untuk menikah dengan cucunya Gerry.
*
Gedung-gedung menjulang tinggi mulai berganti dengan pepohonan dan bangunan-bangunan sederhana. Mobil terus melaju membelah jalanan yang cukup ramai pagi itu. Perjalanan menuju kota A cukup memakan waktu lebih lama mengingat saat ini ada bayi mungil yang mereka bawa. Selama dalam perjalanan Baby Rey terlihat anteng dalam gendongan Kyara. Bayi itu hanya merengek jika mereka sudah lapar dan popoknya penuh.
"Mandilah lebih dulu, biar aku saja yang menggendong Rey." Tutur Gerry saat mereka sudah berada di dalam kamar Kyara. Tangan Gerry pun terulur mengambil Baby Rey dalam gendongan Kyara.
Kyara mengangguk menyetujui dan menyerahkan Baby Rey pada Gerry.
Setelah kepergian Kyara untuk membersihkan diri, Gerry pun meletakkan Baby Rey yang sudah tertidur ke dalam box bayinya. Pandangan Gerry jatuh pada wajah putranya yang terlihat damai dalam tidurnya. "Semoga Mamamu bisa merubah keputusannya agar kita bisa tetap selalu bersama." Gumamnya lirih.
***
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺