
Pukul setengah dua Kyara pun terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tangisan Baby Rey yang cukup keras. Dengan hati-hati Kyara pun turun dari ranjang karna melihat Gerry yang masih terlelap nyaman dalam tidurnya.
"Anak Mama haus, ya?" Kyara mengambil Baby Rey dari dalam boxnya.
Tangisan Baby Rey pun semakin keras saat sudah berada di gendongan Kyara. Tangisan Baby Rey yang cukup keras itu akhirnya membangunkan Gerry dari tidurnya.
"Rey kenapa?" Ucap Gerry dengan suara parau. Dengan mengumpulkan nyawanya, Gerry pun bangkit dari tidurnya.
"Rey sepertinya sudah haus. Dan juga dia pup sehingga tidak nyaman dalam tidurnya." Jelas Kyara saat membuka popok Baby Rey.
Gerry menuju ke arah lemari khusus baju dan perlengkapan Baby Rey. Kemudian mengambil popok yang baru untuk putranya.
"Terimakasih." Ucap Kyara saat Gerry memberikan popok kepadanya.
"Jagoan Papa gak boleh nangis..." Gerry mengusap kepala Baby Rey yang masih menangis dengan kencang. Sepertinya bayinya itu sudah benar-benar kehausan.
Setelah selesai mengganti popok Baby Rey, Kyara pun segera menyusui putranya. Tak lama Baby Rey pun sudah diam dan asik menyusu dengan rakusnya.
"Kalau masih mengantuk lanjut tidur saja." Icap Kyara pada Gerry yang duduk di hadapannya seraya mengelus kepala putranya.
"Aku akan menemanimu menjaganya hingga tertidur kembali."
"Istirahatlah, aku sungguh tak apa." Ucap Kyara lagi.
Namun Gerry tak mengindahkannya. Dan malam itu kedua insan manusia yang sedang dilanda dilema bekerjasama dalam menjaga Baby Rey hingga tertidur kembali.
*
Empat bulan pun sudah berlalu. Kehidupan rumah tangga Kyara dan Gerry berjalan begitu saja dengan sedikit kemajuan. Walau pun begitu, tetap saja sampai saat ini Kyara masih bertahan dengan sikapnya pada Gerry dan belum menunjukkan perasaan yang sama dengan pria itu. Dan selama empat bulan pula Gerry tetap bolak-balik ke kota A untuk mengunjungi anak dan istrinya.
Usia Baby Rey yang sudah memasuki bulan ke empat membuat bayi itu tumbuh dengan begitu lucu. Saat ini Baby Rey sudah mulai pandai berceloteh dan berguling dari posisi tengkurap ke telentang maupun sebaliknya.
"Sudah hampir 5 bulan ini William belum juga kembali dari luar negeri. Apa dia memang tidak akan kembali lagi ke tanah air ya, Kya?" Tanya Rania. Saat ini mereka tengah duduk di karpet bulu sambil memperhatikan Baby Rey yang asik berceloteh.
"Entahlah. Gerry juga tidak pernah bercerita. Namun nanti aku akan menanyakannya untukmu." Goda Kyara.
"Kenapa untukku?" Cebik Rania. "Aku kan hanya penasaran saja." Kilahnya.
"Pa, Pa, Pa." Celoteh Baby Rey seraya memainkan mainan bebek di tangannya.
"Lihatlah bayiku sungguh menyebalkan, bukan? Aku yang mengandung, menyusui dan mengasuhnya. Malah Papanya yang dia sebut lebih dulu." Ucap kyara dengan bibir mengerucut.
Rania tertawa. "Sepertinya dia lebih menyayangi Pak Gerry dibandingkan dirimu, Kya." Cibir Rania.
"Ish... Kau ini..." Kyara memukul pelan pundak Rania.
Rania kembali tertawa-tawa.
"Makin hari Pak Gerry semakin terlihat mencintaimu ya, Kya." Ucap Rania saat tawanya terhenti.
Kyara terdiam. Menatap ke arah langit-langit kamarnya.
"Apa kau belum membalas perkataan cintanya sampai saat ini, Kya?" Tanya Rania sekali lagi.
Kyara menghela nafas panjang. "Aku masih ragu dengan perasaanku saat ini, Rania." Ucap Kyara lirih.
"Aku harap kau segera menyadari perasaanmu, Kya. Sebelum semuanya terlambat." Pesan Rania.
****
Lanjut?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺