
"Apa ini?" Gumam Gerry mengambil selembar foto yang terbalik.
"Bukankah ini..." Lirihnya dengan kedua bola mata yang seketika membola.
Gerry pun dengan gerakan cepat memeriksa keseluruhan isi yang ada di dalam nakas. Tubuhnya bagai tak bertulang tat kala menemukan tiga buah tespek bergaris dua yang kini berada digenggamannya. Dan hal lain yang lebih mengejutkan jantungnya ketika Gerry sudah melihat sebuah buku berisi pemeriksaan kandungan atas nama istrinya di sana dalam dua bulan terakhir.
Gerry luruh di lantai dengan kedua tangan yang kini sudah memegang bukti-bukti jika istrinya itu tengah mengandung. Ingatan Gerry kembali berputar pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat ia mendengar suara Kyara yang tengah muntah-muntah di pagi hari, susu yang sering diminum Kyara pada malam hari, dan juga acap kali melihat istrinya itu dalam keadaan lemas dan pucat.
"Apa wanita itu tengah mengandung? Dan ank yang ada di dalam kandungannya??" Gerry tak lagi melanjutkan pemikirannya yang sudah berkelana jauh. Ia tidak mungkin menyangkal jika benar Kyara tengah mengandung dan itu adalah anaknya. Darah dagingnya. Ia masih ingat jika beberapa bulan terakhir tak lagi melihat Kyara atau menanyakan pada Kyara apakah wanita itu sudah meminum pil penunda kehamilan saat ia akan menyentuh istrinya. Gerry juga ingat setiap ia pulang dari bar dan paginya ia terbangun dalam keadaan polos. Gerry tak akan melupakan itu semua.
Gerry pun bangkit dari posisinya dan buru-buru kembali ke kamarnya. Tujuannya saat ini adalah menghubungi Asisten Jimmy.
"Cari tahu apa saja yang dilakukan Kyara selama ia masih berada di kota ini!" Perintah Gerry lalu mematikan sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu jawaban Asisten Jimmy.
Di seberang telepon Asisten Jimmy nampak menghela nafas saat yang ia pastikan akan terjadi, terjadi juga.
*
Kyara dan Rania saat ini tengah menatap bintang-bintang yang bersinar terang dari balkon. Kyara tengah duduk di kursi selonjoran yang dibelikan Kakek Surya beberapa minggu yang lalu sedangkan Rania duduk di kursi single.
Usia kehamilan Kyara kini sudah memasuki enam bulan. Kyra sungguh tidak sabar menantikan kehadiran malaikat kecilnya hadir di dunia. Malaikat kecilnya yang nantinya akan menemani hari-harinya jika Rania sudah bekeluarga.
"Kya..." Panggil Rania yang membuat Kyara menoleh.
"Bukankah besok William akan berkunjung kemari melihat keadaanmu?" Tanya Rania memastikan.
"Katanya sih begitu. William baru saja sampai dari luar negeri malam ini. Dan ia akan berangkat kemari besok pagi."
"Apakah keadaan Ibunya sudah membaik?"
"Sudah. Ibunya sudah dalam masa pemulihan."
Ya, setelah sampainya di ibu kota setelah mengantarkan Kyara dan Rania. William harus dikejutkan dengan kabar dari Papinya jika sang Mami masuk ke rumah sakit akibat sakit kanker payudara. Hari itu juga akhirnya William memutuskan untuk langsung terbang ke Negara I untuk melihat keadaan Ibu yang telah melahirkannya itu. Setelah hampir dua bulan berada di sana, akhirnya William pun kembaki ke tanah air.
"Apa kau yakin tidak memiliki perasaan apa-apa pada William, Kya?"
Kyara menggeleng. "Aku bahkan sudah tidak ingin lagi merasakan cinta dalam hidupku, Rania." Lirihnya.
Rania sangat tahu, jika Kyara sudah membantengi dirinya atas namanya cinta semenjak ia melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya bercumbu dengan wanita lain. Rania juga sadar, jika dari awal pernikahannya Kyara sudah menjatuhkan hatinya pada suaminya. Walau Kyara tak pernah mengatakannya.
*
Jangan lupa like, komen dan votenya:)