
Setelah tertidur selama hampir dua jam. Akhirnya Kyara pun terbangun akibat perutnya yang meronta-ronta meminta makan. Kyara pun bangkit dari tidurnya. Bibirnya nampak melengkung sempurna sembari tangannya kini membelai lembut perutnya.
"Lapar, ya, dek?" Tanyanya pada janin dalam kandungannya.
Tak ingin bayinya merasa makin kelaparan, Kyara pun bergegas keluar dari dalam kamar menuju dapur. Setelah melihat bahan-bahan apa saja yang masih ada di dalam kulkas, Kyara pun memutuskan untuk memasak sup sayur karena persediaan sayurannya masih banyak dan memasak sup juga tidak memakan waktu cukup lama.
Akhirnya masakan Kyara pun tersaji di atas meja makan. Kyara dengan lahap menyantap makanannya hingga habis tak tersisa. Efek kehamilannya memang membuat ***** makannya makin bertambah. Kyara pun teringat jika ia belum meminum susu hamilnya. Kemudian Kyara pun beranjak untuk membuat susu hamil.
Setelah merasa perutnya sudah kenyang dan selesai membersihkan dapur, Kyara memutuskan untuk istirahat barang sejenak di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Tak berselang lama bel apartemen pun berbunyi. Kening Kyara berkerut dengan alis yang hampir menyatu. Ia merasa bingung siapakah gerangan yang bertamu ke apartemennya.
Dengan langkah ragu, Kyara pun membuka pintu apartemen. Mata Kyara pun nampak membulat melihat siapa tamu yang ada di depannya saat ini. Jantung Kyara berdegub kencang mengingat kembali jika wanita yang ada di depannya saat ini adalah wanita yang tadi ia lihat sedang berciuman dengan suaminya di dalam lift.
"Kau siapa dan sedang apa kau di apartemen kekasihku?" Ketty bertanya dengan ketus ke arah Kyara. Ia sungguh tidak suka melihat wanita di depannya saat ini. Pikiran buruk pun terlintas di otak kecilnya. Apa mungkin jika Gerry bermain api di belakangnya. Namun melihat dari penampilan wanita di depannya saat ini, rasanya tidak mungkin jika wanita di depannya ini adalah selingkuhan kekasihnya. Wanita itu sama sekali bukan selera Gerry jika dilihat dari sudut mana pun.
"Emh... Sa-saya..." Otak Kyara nampak berpikir mencari jawaban apa yang harus ia katakan. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia adalah istri sah dari Gerry.
"Saya apa!" Ketty nampak tidak sabar menunggu jawaban Kyara.
"Saya adalah pembantu di apartemen ini." Jawab Kyara setelah memilih jawaban yang tepat.
Setelah mendengar jawaban Kyara, agaknya Ketty merasa lega. Wanita itu melewati Kyara begitu saja setelah memberikan sedikit senggolan di bahu Kyara.
Gerry yang memang sudah berada di luar kamarnya pun bergegas menuruni tangga ketika mendengar suara kekasihnya.
"Sayang..." Panggil Gerry ketika melihat Ketty yang kini berada di tengah ruang tamu sambil berkacak pinggang. Wajah Gerry nampak begitu tegang melihat Kyara berada tidak jauh dari kekasihnya itu.
"Sayang...." Suara Ketty mendayu. Wanita itu berjalan cepat ke arah kekasihnya yang masih terdiam di anak tangga terakhir.
Ketty berhambur pada pelukan Gerry. Gerry pun tak kuasa untuk membalas pelukan kekasihnya. Namun matanya masih tertuju pada Kyara yang kini tengah menatap kemesraan mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana kau bisa tahu alamat apartemenku?" Tanya Gerry setelah pelukan mereka terlepas.
"Apa kau lupa? Kau pernah bercerita padaku jika kau memiliki apartemen di sini? Karena tadi waktu aku ke mansion Kekek untuk menemuimu dan security berkata jika kau saat ini sudah tinggal di apartemen, makanya aku berinisiatif datang ke sini."
"Agh, iya. Aku benar-benar melupakannya." Sahut Gerry.
"Kau ini..." Ketty kembali memeluk kekasihnya barang sejenak. "Apa dia benar pembantumu di sini?" Tanya Ketty dengan nada tak suka memandang ke arah Kyara.
***