
Mama Riana nampak tengah menenangkan mertuanya yang sedang terlihat menahan amarah. Sedangkan Papa Johan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ini sudah kesekian kalinya putra semata wayangnya itu membuat masalah.
"Sudahla, Pa... Ingat kesehatan Papa..." Ucap Riana mengelus punggung mertuanya.
"Siapkan kepulangan Papa besok hari!" Titah Kakek Surya pada Papa Johan.
Papa Johan mengela nafasnya sedikit kasar. "Tidak bisa, Pa. Bukankah Papa sudah mendengar langsung dari Dokter Robert jika Papa belum boleh bepergian jauh." Jelas Papa Johan.
"Papa tidak mau tahu. Jika kau tidak ingin menemani Papa untuk pulang ke Indonesia tak masalah. Papa bisa pulang sendiri." Tukasnya.
"Oke. Oke. Baiklah. Tapi tidak untuk besok. Papa boleh pergi dalam waktu seminggu lagi. Aku sungguh tidak ingin keadaan Papa memburuk karena masalah ini. Untuk kali ini saja aku harap Papa bisa mengerti."
"Johan benar, Pa... Satu minggu lagi bukan waktu yang lama. Kami akan menemani Papa menemui anak nakal itu."
Walau pun merasa tidak terima dengan keputusan anak-anaknya. Akhirnya Kakek Surya menurutinya. Ia juga tidak ingin jika sakitnya kembali kambuh dan semakin mempersulit dirinya untuk berada lebih lama di negara asalnya.
*
Satu minggu lebih sudah Kyara pergi dari apartemennya. Hari-hari dilalui Gerry dengan penuh kehampaan. Seperti pagi ini. Gerry menatap meja makan yang masih kosong sama seperti hari-hari belakangan. Biasanya ketika ia masuk ke dalam dapur, di meja makan sudah tersedia sarapan pagi sekaligus susu hangat untuk ia santap.
Bahkan Gerry merasa kesulitan mencari letak barang-barangnya. Karena biasanya Kyaralah yang membantu mengatur tata letak ruangan kamarnya. Jika biasanya Gerry selalu sarapan pagi sebelum berangkat ke perusahaan, namun sudah seminggu belakangan ia tidak lagi melakukannya. Gerry selalu melewatkan sarapan paginya di apartemen. Dan akan sarapan jika sudah berada di perusahaan.
Setelah merasa sudah tidak ada lagi urusannya berada di dapur, Gerry pun memilih untuk berlalu. Meninggalkan apartemen bersama bayang-bayang Kyara yang seolah melintas di hadapannya.
*
Ruko dua lantai yang sudah hampir satu bulan disewa oleh orang tua Rania itu kini menjadi tempat tinggal Kyara dan Rania. Di lantai dua ruko terdapat dua buah kamar, satu kamar mandi dan ruang tamu. Kyara dan Rania memilih untuk tidur beda kamar. Bukan tanpa alasan, Rania hanya ingin memberi ruang pada Kyara untuk mengeluarkan isi hatinya yang tidak mungkin Kyara tunjukkan pada dirinya. Ia hanya ingin memberi ruang privasi untuk Kyara.
Seperti yang sudah Rania duga, setiap malam saat mengintip dari celah pintu yang memang sengaja tidak tertutup rapat itu, Rania dapat mendengar isakan kecil keluar dari mulut mungil Kyara. Tangisan yang begitu menyayat hati. Namun Rania membiarkannya. Ia hanya ingin Kyara memiliki waktu mengeluarkan sesak di dadanya.
"Kenapa William belum juga menghubungiku ya, Rania?" Tanya Kyara yang saat ini tengah membantu memotong sayuran. Setelah mengabari jika ia sudah sampai di kota kembali, William memang sudah tidak lagi memberi kabar pada Kyara.
"Entahlah. Apa kau tidak mencoba menghubunginya lebih dulu?"
"Sudah. Namun pesan yang ku kirim sama sekali belum terkirim dan nomor ponsel William juga tidak aktif."
"Sudahlah jangan terlalu panik begitu. Mungkin saja William saat ini sangat sibuk mengurus perusahaannya sampai lupa memberi kabar padamu." Tutur Rania menenangkan Kyara yang nampak menunjukkan kekhawatiran di wajahnya.
***
Sudah beri dukungan buat hari ini belum?
Like
Komen
Votenya!:)