Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Ungkapan hati


"Kakek..." Lirih Gerry merasakan panas pada pipinya akibat tamparan Kakek Surya yang begitu keras.


"Kenapa Kakek menamparku" Tanya Gerry kemudian merasa tak terima dengan perbuatan Kakeknya.


"Kau tanya kenapa Kakek menamparmu? Harusnya Kakek yang bertanya, dimana istrimu saat ini?!" Hardik Kakek Surya membuat tubuh Gerry menegang.


"Pah..." Lirih Mama Riana mencoba memberi ketenangan pada mertuanya.


"Jawab!! Kenapa kau diam saja, huh?! Apa mulutmu sudah tidak berfungsi dengan benar?!" Bentak Kakek Surya.


"Aku tidak tahu." Ucap Gerry pada akhirnya.


"Tidak tahu katamu?!"


Plak


Tamparan keras itu kembali melayang di wajah tampan Gerry. Rahang tegas Gerry nampak mengeras tidak terima dengan perlakuan Kakeknya. Seumur hidupnya ia tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Kakeknya itu. Kakeknya selalu menyayanginya dan selalu menomorsatukan dirinya. Dan kini hanya karena seorang wanita yang selalu Gerry tenamkan di dirinya untuk ia siksa, Kakek Surya berhasil melayangkan tangannya memberikan tamparan di wajahnya.


"Pah..." Mama Riana mulai menangis melihat putra semata wayangnya di tampar begitu keras di hadapannya. Ingin sekali ia menghalangi perbuatan mertuanya itu. Namun melihat emosi mertuanya yang sudah meledak, Mama Riana mengurungkan niatnya. Sedangkan Papa Johan hanya diam menahan rasa inginnya melerai orang tua dan anaknya itu.


"Perlakuan buruk apa yang kau lakukan selama ini pada Kyara hingga wanita itu memilih pergi meninggalkanmu, Gerry?! Bukankah sudah Kakek peringatkan padamu untuk berprilaku baik pada istrimu jika kau masih menganggap Kakek sebagai kakekmu?! Walau pun Kyara telah mengirimkan pesan jika ialah yang bersalah dalam hal ini karena lebih memilih laki-laki lain yang ia cintai, namun Kakek tau jika itu hanyalah pesan bohong akal-akalannya saja!!" Bentak Kakek Surya lagi.


Kakek Surya teringat dengan pesan yang Kyara kirim lewat aplikasi hijau di ponselnya. Wanuta itu mengirim pesan jika ia izin pamit untuk mengakhiri hubungannya dengan Gerry karena ia sudah mencintai laki-laki lain dan lebih memilih laki-laki itu dibandingkan suaminya. Kyara bahkan meminta agar Kakek Surya mengizinkan ia hidup bahagia dengan laki-laki pilihannya.


"Agrh..." Kakek Surya tiba-tiba memegang dadanya merasa sakit di dalam sana.


"Papah..."


"Kakek..."


"Jangan menyentuhku!!" Kakek Surya menghempaskan tangan Gerry yang berusaha menggapai tubuhnya.


Papa Johan menuntun Kakek Surya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Gerry. Sedangkan Mama Riana memilih mengambilkan air minum untuk mertuanya.


"Pah... Minum dulu..." Mama Riana menyodorkan segelas air minum pada Kakek Surya.


Kakek Surya menerimanya.


Setelah merasa rasa sakitnya mulai berkurang, Kakek Surya kini menatap tajam pada cucunya yang menampakkan wajah bersalah.


"Selama ini Kakek selalu memberi apapun yang selalu kau butuhkan dan kau inginkan, Gerry. Sedari kecil Kakek selalu berusaha memberikan kasih sayang penuh sebagai seorang Kakek dan orang tua padamu. Di saat kau terjatuh, Kakeklah orang pertama yang begitu panik dengan keadaanmu. Kakeklah yang selalu menjadi orang terdepan membelamu di saat orang-orang menyakitimu. Kakek selalu berusaha menjadi tameng untukmu. Dan saat ini kau sudah dewasa. Sama seperti dulu, Gerry. Kakek juga ingin melihat kau bahagia dengan orang yang tepat. Dan Kakek yakin jika hanya Kyara yang cocok menjadi teman hidupmu."


"Tapi sepertinya kau tidak akan pernah menghargai segala upaya Kakek memberikan kebahagiaan untukmu. Sekarang Kakek tak akan lagi menuntut apa pun padamu, Gerry. Bukan tanpa alasan Kakek menolak Ketty menjadi pendamping hidupmu. Tapi jika kau merasa dia adalah kebahagiaanmu. Maka pergilah dengannya. Kakek tak akan lagi menghalangimu. Mulai saat ini, kau sudah bebas. Kakek takkan lagi mengatur hidupmu."


Raut wajah kesedihan tercetak di wajah tuanya. Rasanya percuma saja jika ia terus memaki cucunya yang tidak akan pernah mengerti maksud hatinya.


"Johan... Bawa Papa pergi dari sini..." Lirih Kakek Surya.


Papa Johan mengangguk. Tangannya terulur membantu Papanya berdiri. Mereka pun keluar dari dalam ruangan meninggalkan Gerry yang diam membeku.


***