Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Merasa jengah


"Ya. Aku memang ada pekerjaan di sini dua hari lagi. Dan aku memajukannya menjadi besok." Balas William dengan santai.


"Kau jangan sembarangan Will... Kau membodohiku, ya?!" Amuk Rania berkacang pinggang.


"Sudahlah. Kau ini cerewet sekali." William merengkuh tubuh Rania dan meletakkan kepala wanita itu di dadanya. "Kalau kau diam seperti ini terlihat lebih manis." Ucap William mengelus kepala Rania.


Deg


Lagi-lagi William membuat detak jantung Rania bekerja dengan tidak normal. "Lepaskan... Aku ingin mandi." Ucap Rania memberontak dalam pelukan William.


"Kau ingin mandi?" Sebelah alis tebalnya tertarik ke atas.


Rania menggangguk dengan cepat. "Ayo lepaskan aku." Ucapnya saat William merenggangkan pelukannya.


"Baiklah jika kau ingin mandi."


"William... Turunkan aku... Turunkan aku!!" Pekik Rania memukul punggung William saat tubuhnya tiba-tiba saja sudah melayang di udara.


*


Sean menatap datar pada pasangan suami istri yang terlihat baru saja keluar dari dalam kamar hotel. Pandangannya lalu tertuju pada sosok pria yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Bukankah tadi malam kau tidur sendiri di kamarmu, Rania?" Sindir Sean setelah mengalihkan pandangan dari William.


"Ya. Ak—"


"Tentu saja tidak. Tadi malam Rania tidur bersamaku!" Tekan William.


Sean mendengus. "Bagaimana bisa ada penyusup di dalam kamarmu, Rania?" Sindirnya lagi namun menampilkan wajah tersenyum.


Rania melototkan kedua matanya. Aku akan mencekikmu, Sean! Amuk batin Rania.


"Ayo kita berangkat sekarang, Tuan. Tuan Nando dan sekretarisnya sudah menunggu di perusahaanya." Ucap Felix tak ingin melihat perdebatan orang ketiga untuk kedua kalinya.


Sean mendengus. Kemudian berjalan lebih dulu melewati Rania dan William begitu saja. Tangannya nampak terkepal saat melihat sekilas leher Rania yang nampak menunjukkan bekas merah.


Satu minggu bekerja di kota B membuat Rania tidak tenang. Bagaimana tidak, suaminya itu selalu saja menempel padanya dan tak membiarkannya pergi sendiri tanpa dirinya barang sebentar saja. Dan akhirnya Rania bisa menghela nafas lega setelah mobil yang dikendarai Steve sudah sampai di gedung menjulang tinggi yang menjadi tempat tinggalnya dan William beberapa bulan terakhir.


"Dia memang tidak bisa membiarkanku menikmati liburanku dengan tenang." Gerutu Rania menghentakkan kakinya di atas lantai.


"Tak ada. Aku tak apa-apa." Balasnya tersenyum masam.


William mengangguk saja. Mereka pun masuk ke dalam lift diikuti Steve di belakangnya. Karena Steve akan mengambil beberapa dokumen yang ada di apartemen Gerry lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya William lagi yang sedari tadi merasa heran dengan raut wajah istrinya yang terlihat tidak bersahabat.


"Memangnya wajahku kenapa?" Cetus Rania melihat pada William sekilas lalu menatap kembali pada layar ponselnya.


"Apa kau marah kepadaku?" Tanya William karena merasa Rania mengabaikannya.


"Kenapa aku harus marah?" Balas Rania dengan sinis.


William membuang nafas kasar di udara. "Apa kau merasa marah karena aku mengganggu waktu liburanmu bersama temanmu itu?" Sindir William.


"Sudah aku katakan jika aku tidak apa-apa. Tapi kenapa kau membawa nama orang lain di dalam pertanyaanmu itu?" Sembur Rania yang sudah merasa jengah. "Apa kau melihat tingkahku dan Sean itu berlebihan selama ini? Bukankah sudah aku katakan jika aku bisa menjaga diriku dengan baik sebagai wanita yang sudah bersuami." Ucap Rania merasa berang. Rania pun beranjak dari sofa yang didudukinya kemudian meninggalkan William naik ke lantai atas menuju kamarnya.


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William:)


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (End)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^