Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sedikit ancaman


"Bukankah lebih baik jika kalian tinggal di mansion utama saja?" tanya Papa Johan yang tidak mengerti jalan pikiran putranya. "Lagi pula mansion tidak ada yang menempati karena Kakek akan ikut dengan Papa ke Amerika untuk melakukan pengobatan di sana."


Saat ini mereka sudah duduk di ruang tamu apartemen Gerry. Kakek Surya, Mama Riana dan Papa Johan terlihat terlibat dengan pembicaraan serius. Kyara hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


"Aku harap Papa bisa mengerti keputusanku. Aku sudah menuruti keinginan kalian untuk menikahinya. Jangan lagi banyak menuntut untuk hal yang tak ingin aku lakukan. Dan jangan memaksaku lagi, Pah! Lagi pula apartemen ini sudah sangat bagus untuk tempat tinggal wanita seperti dirinya." Jawab Gerry dengan datarnya.


"Jaga ucapan kamu, Gerry!" Bentak Kakek Surya yang tak suka mendengar ucapan cucunya. Kakek Surya melihat Kyara yang menunduk dengan wajah sendunya. Hati wanita itu pasti sakit mendengar ucapan suaminya.


"Tenanglah, Pah... Ingat kesehatan Papa..." Mama Riana mengelus tangan keriput mertuanya yang nampak mengepal.


"Suka atau tidak suka kamu sekarang sudah menjadi seorang suami yang memiliki tanggung jawab. Kyara adalah tanggung jawab kamu, Gerry. Papa harap kamu bisa menjaganya dengan baik." ucap Papa Johan berusaha meredupkan emosinya.


Gerry hanya diam tak menjawab ucapan mereka yang kini menyudutkannya. Rasanya ia sungguh muak berada di posisi saat ini. Pandangannya teralihkan ke arah Kyara yang masih menunduk mencengkram erat baju yang dikenakannya.


Jika bukan karena Kakek, aku tidak sudi menikahi wanita sepertinya. Batin Gerry geram.


Setelah melewati perdebatan singkat dengan kedua orang tuanya dan kakek, akhirnya Gerry bisa menghela nafas ketika keluarganya itu memutuskan untuk pulang karena besok mereka akan berangkat pagi-pagi sekali ke Amerika.


Sebelum benar-benar meninggalkan apartemen cucunya, kakek Surya masih sempat memberikan sedikit ancaman kepada cucunya yang sangat keras kepala itu. "Jika kakek mengetahui kau memperlakukan Kyara dengan buruk, maka kakek tidak akan segan untuk menghapus kau dari daftar ahli waris keluarga Bagaskara!" ancamnya dengan sorotan mata tajam.


Lagi-lagi Gerry hanya bisa mendengkus mendengarnya. Bisa-bisanya Kakeknya yang selama ini begitu menyayanginya berpindah haluan ke wanita biasa yang kini sialnya sudah menjadi istrinya.


***


Sedangkan Gerry, pria itu tidak menghiraukannya setelah perdebatan sengitnya dengan sang kakek. Kyara tahu, jika pria itu saat ini sedang sangat muak dengannya dan Kyara memakluminya. Wajar saja, kehadirannya di keluarga Bagaskara membuat hidup pria itu tertekang.


Merasa tenggorokannya sedikit kering, Kyara pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


Klek


Pintu kamar Kyara terbuka bersamaan dengan Gerry yang juga keluar dari dalam kamarnya. Kamar Gerry dan kamar Kyara memang saling berhadapan dan berada di lantai dua apartemen.


Tatapan mengintimidasi dari Gerry membuat Kyara bergidik. Kyara menunduk takut melihat tatapan suaminya yang tidak bersahabat. Gerry yang melihat Kyara tertunduk dengan cepat menarik tangan wanita itu memasuki kamarnya.


"Lepaskan, Pak... Tangan saya sakit..." Kyara meringis ketika merasa cengkraman tangan kekar Gerry di tangan mungilnya begitu kuat.


***


*Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉