Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Penunda kehamilan


"William... Turunkan aku!!" Pekik Rania saat tubuhnya sudah melayang di udara. Bahkan selembar handuk yang menutupi tubuhnya sudah jatuh begitu saja di atas lantai.


"Diamlah. Atau aku akan melepaskanmu!" Ancam William tak ingin mendengar teriakan Rania.


Rania terdiam. Tangannya pun terulur memeluk leher William menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Ka-kau mau apa?" Tanya Rania dengan gugup saat William menurunkan tubuhnya di atas batup.


"Tentu saja aku ingin memandikanmu."


"Apa?!" Kedua bola mata Rania nyaris keluar dari dalam wadahnya.


"Tidak perlu! Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri!" Tolak Rania dengan tegas.


William menghembuskan nafasnya di udara. "Apa kau yakin bisa mandi sendiri dengan keadaan tubuhmu yang seperti ini?"


Melihat Rania yang terdiam tanpa menjawab membuat William mulai bergerak mengambil sabun untuk memandikan istrinya.


"Berbaliklah. Aku akan menggosok punggungmu!" Titah William yang sudah kehilangan akal sehatnya saat melihat pemandangan di hadapannnya yang mulai menaikkan gairahnya.


Rania pun berdecak kemudian berbalik. Ia sungguh merasa malu karena saat ini dirinya dan William sudah kembali polos seperti tadi malam.


William pun mulai menggosokkan sabun di punggung Rania. Darahnya kian berdesir saat melihat punggung polos Rania yang putih bersih. Tanpa William sadari, kini tangannya sudah mulai menjalar maju ke depan sambil memainkan sesuatu di sana.


"William... Apa yang kau lakukan!" Cecar Rania saat kedua tangan William mulai bermain aktif di tubuh polosnya.


William tersadar. Namun pria itu tak kunjung menghentikan aktivitasnya dan justru semakin memainkan kedua benda favoritnya.


"Will..." Rania mencoba menyingkirkan kedua tangan William di dadanya dengan menahan d*sahannya agar tidak keluar.


"Aku menginginkanmu kembali, Sayang..." Ucap William menjatuhkan wajahnya di pundak Rania.


Rania hanya bisa pasrah karena ia pun sudah mulai terhanyut dalam permainan suaminya dan sangat menginginkan sentuhan hangat suaminya.


*


"Kau ingin kemana?" Tanya William saat Rania berpamitan kepadanya untuk keluar sebentar setelah mengenakan pakaiannya.


"Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk keperluanku." Ucap Rania dengan gugup.


"Apa kau yakin sudah bisa berjalan?" Tanya William merasa ragu.


Rania mengangguk. "Aku bisa berjalan dengan baik. Kau tenang saja." Ucap Rania meyakinkan namun raut wajah gugup tak lepas dari wajahnya.


William menelisik wajah Rania yang terlihat gugup. Namun William pun hanya bisa mengangguk mengizinkan istrinya karena tak ingin Rania merasa tertekan.


Rania pun mengangguk sebagai jawaban. Kemudian berjalan dengan pelan menuju pintu kamar.


"Kenapa rasanya sakit sekali..." Lirih Rania yang merasa kesulitan berjalan saat merasakan sakit pada inti tubuhnya. Rania pun berhenti sejenak seraya menghela nafas panjang. Setelah merasa cukup baikan, Rania pun bergegas menuju tempat yang akan ditujunya sebelum William mencurigai kepergiannya.


"Huh, akhirnya aku menemukan tempatnya juga." Ucap Rania menghembuskan nafas lega setelah mendapatkan toko yang dicarinya.


Rania pun masuk ke dalam sebuah apotek dengan langkah ragu.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Tanya salah satu pegawai pada Rania.


"Ya. Saya mencari obat pencegah kehamilan." Ucap Rania menampilkan senyuman kaku.


Pegawai itu mengangguk paham kemudian mulai mencari obat yang Rania butuhkan.


"Ini, Nona."


"Terimakasih." Ucap Rania. Kemudian membayar nominal yang pegawai itu sebutkan.


Rania pun segera keluar dari dalam apotek dengan langkah tergesa-gesa agar cepat kembali ke hotel.


"Maafkan aku William. Namun aku harus menjaga hati dan tubuhku agar tidak mengandung benihmu sebelum kau memberikan kepastian akan pernikahan kita." Lirih Rania mengusap sudut matanya yang basah.


***


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^