Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mengabaikannya


William pun kembali teringat pada kejadian kemarin sore saat ia menemukan pil pencegah kehamilan di tas Rania. Rahangnya pun seketika mengetat saat memikirkan itu semua. Kedua tangannya pun nampak mengepal.


"Apa anda tidak berangkat ke perusahaan hari ini, Tuan?" Tanya Steve karena saat ini sudah hampir dua jam keterlambatan mereka untuk datang ke perusahaan. Namun karena William adalah pemilik perusaahan jadi tidak menjadi masalah.


"Tidak. Kau berangkatlah ke perusahaan dan selesaikan periksa laporan yang belum selesai kemarin." Titah William.


Steve mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Pakaian ganti untuk Tuan sudah saya siapkan di dalam lemari kamar tamu."


"Baiklah. Sekarang pergilah." Titah William lagi.


Setelah Steve menghilang dari balik pintu, William pun menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tamu. "Rania..." Gumam William mengusap kasar wajah bulenya.


Hingga tiga hari berlalu, William pun tak kunjung pulang ke apartemennya karena amarahnya masih belum juga surut. Pria bule itu lebih memilih untuk tetap tinggal di apartemen milik Gerry sampai emosinya benar-benar hilang.


"Masalah apa yang terjadi diantara kau dan Rania sampai-sampai kau tidak kunjung pulang hingga saat ini?" Tanya Gerry saat menemui William yang sedang menikmati kopi di balkon apartemen.


William meletakkan secangkir kopi yang sudah ia seruput di atas meja. Memandang lurus ke depan tanpa ingin melihat wajah Gerry. "Sudah aku katakan jika aku tidak ingin membahasnya." Tekan William karena Gerry selalu mempertanyakan hal yang kepadanya setiap datang menemuinya.


Gerry mendengus. Lalu menjatuhkan bokongnya di kursi kosong di samping William.


"Apa kau tidak tahu jika tiga hari ini Rania selalu menunggu kedatanganmu untuk pulang?" Tanya Gerry merasa sedikit kesal dengan sahabatnya.


"Aku tidak peduli." Balas William acuh.


Gerry berdecak. "Jika kau memiliki masalah dengannya, lebih baik kau selesaikan dengan kepala dingin bukan malah pergi dan tidak memberi kabar padanya." Tekan Gerry.


"Aku hanya ingin menenangkan pemikiranku sebelum kembali ke apartemen." Balas William.


"Menenangkan pemikiran dengan meninggalkan istri tanpa kejelasan bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Apa kau tahu jika Rania saat ini sedang sakit karena memikirkanmu?" Ucap Gerry sedikit meninggi.


William membalikkan tubuhnya lalu menatap tajam pada Gerry. "Kau jangan bercanda!" Hardik William.


"Aku tidak bercanda! Walau pun aku tidak tahu masalah apa yang sedang kalian alami, namun aku sangat kecewa padamu karena kau lebih mementingkan egomu dari pada memikirkan istrimu yang menunggumu pulang." Cecar Gerry.


"Kau tidak tahu hal apa yang membuatku seperti ini Gerry!" Ucap William sedikit meninggi membalas perkataan Gerry.


"Tentu saja aku tidak akan tahu karena kau dan Rania tidak memberitahukannya kepadaku." Balas Gerry dengan sengit.


"Aku sangat kecewa pada Rania." Ucap William setelah terdiam cukup lama.


Gerry diam. Menunggu kelanjutan ucapan William.


"Beberapa hari yang lalu aku menemukan pil penunda kehamilan di tas kerjanya." Lanjutnya kemudian.


"Apa?!" Gerry terkejut.


"Aku tidak tahu apa yang membuatnya meminum pil itu. Namun jika dia memang tidak ingin mengandung benihku, dia bisa berkata dengan baik-baik kepadaku bukan dengan cara seperti itu." Ucap William mengutarakan isi hatinya.


"Apa kau sudah bertanya kepadanya apa yang membuatnya melakukan itu semua? Aku tahu Rania bukan wanita yang mudah bertindak tanpa bepikir panjang. Mungkin saja dia melakukan itu semua ada sangkut pautnya denganmu." Ucap Gerry membuat William bungkam.


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!


Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...