
"Ara... Hey... Bangunlah..." Wiliiam nampak panik. Tangannya menepuk pelan pipi Kyara berharap dapat membangunkan Kyara. William yang sudah panik dengan refleks menggendong tubuh Kyara. "Kita bawa dia ke ruangan kau saja, Gerry!" Ucap William. Tanpa mendengarkan jawaban Gerry, William langsung berjalan dengan cepat menuju ruangan Gerry.
Dengan hati-hati William menidurkan Kyara di atas ranjang yang ada di dalam kamar ruangan Gerry. Masalah Gerry akan marah karena membawa orang lain ke dalam kamarnya tidak dipedulikan William. Ia akan menghadapi kemarahan Gerry nantinya. Yang penting saat ini adalah wanitanya—Kyara.
Sedangkan Gerry, wajahnya sudah merah padam dengan tangan terkepal erat melihat istrinya digendong oleh pria lain— Walau pun itu sahabatnya. Gerry yang semula panik melihat Kyara pingsan berubah menjadi emosi melihat pemandangan yang menyakitkan matanya.
"Panggilkan Dokter Ricky!" Titah Gerry pada Jimmy. Dengan cepat Jimmy langsung menghubungi dokter keluarga Bagaskara itu untuk datang ke perusahaan.
Sekretaris Sinta sedikit membungkukkan tubuh ketika Gerry melewati meja kerjanya. Gerry yang hendak masuk ke dalam ruangannya berbalik arah ke meja Sinta.
"Bagaimana bisa wanita itu pingsan? Sepertinya dia baru saja keluar dari ruanganku." Selidik Gerry pada Sinta.
"Sepertinya Kyara sedang sakit, Pak.." Lirih Sinta takut melihat tatapan tajam atasannya.
"Dan kau tetap membiarkannya bekerja dengan kondisi seperti itu?!" Bentak Gerry.
Sinta terlonjak kaget. Tubuhnya bergetar hebat mendengar bentakan Gerry. "Di saat Kyara masuk ke dalam ruangan Bapak saya tidak melihatnya. Karena pada saat itu saya sedang pergi ke kamar mandi. Saya baru melihat kondisi Kyara saat ia baru keluar dari ruangan Bapak. Saya sudah menyuruhnya untuk istrirahat. Tetapi Kyara bersikeras bahwa ia baik-baik saja." Jelas Sinta panjang lebar.
"Lanjutkan pekerjaanmu!" Perintah Gerry setelah mendengar penjelasan Sinta. Kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya.
Kening Gerry mengkerut melihat tidak adanya Kyara dan William di dalam ruangannyan. "Agh, si4l!" Umpat Gerry ketika menyadari sesuatu.
"Ehm..." Deheman Gerry berhasil menghentikan kegiatan William.
"Apa kau sudah memanggil Dokter Ricky untuk datang kemari?" Tanya William melihat keberadaan Gerry di ambang pintu.
"Beraninya kau membawa orang lain ke dalam ruanganku!" Bukannya menjawab, Gerry malah melontarkan pertanyaan kembali pada William. Bukannya apa-apa. Menurutnya William terlalu lancang membawa orang lain masuk ke dalam ruangannya. Tidak masalah jika itu Kyara—istrinya. Namun posisinya saat ini William tidak mengetahui jika Kyara adalah istrinya.
"Kita bisa membahasnya nanti. Kau tidak lihat wajahnya sangat pucat. Jika kau belum memanggil Dokter Ricky, biar aku sendiri yang memanggilnya!" William nampak merogoh ponsel yang ada di dalam saku jasnya.
"Saya sudah memanggilkan Dokter Ricky untuk datang kemari, Tuan William." Timpal Jimmy yang sudah berada di belakang Gerry.
"Syukurlah... Aku sungguh mengkhawatirkan keadaannya..." Ucap William. Pandangannya beralih pada Kyara. Tangan William yang hendak kembali menyeka keringat di kening Kyara seketika terhenti ketika mendengar ucapan Gerry.
"Jauhkan tanganmu dari wajah wanita itu!" Ucapnya keras. Tatapannya menghunus tajam ke arah William.
"Ada apa denganmu, Gerry? Kenapa aku tidak boleh menyentuh keningnya?" Tanya William heran. "Ayolah... Dia bukannya wanitamu, bukan?" Sindir William merasa aneh dengan sikap Gerry saat ini.
*
Lanjut lagi gak?