Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Wanita 6 tahun lalu


"Kau tidak makan dulu, Kya?" Rania menahan pergelangan tangan Kyara saat Kyara hendak kembali ke rumah sakit malam itu.


"Nanti saja. Aku belum lapar." Kyara hendak kembali melangkah namun Rania dengan cepat menghalanginya.


"Kyara..." Tekan Rania membuat Kyara mendesah.


"Aku harus cepat kembali ke rumah sakit, Rania. Kakek, Papa dan Mama sudah dalam perjalanan pulang. Dan saat ini tidak ada yang menjaga Gerry di sana."


"Ada perawat yang menjaga Pak Gerry, Kyara. Makanlah lebih dulu. Pikirkan kesehatanmu. Jika kau tidak makan teratur dan sakit, siapa yang akan menjaga Pak Gerry?"


"Tapi aku harus segera pergi. Aku sangat tidak tenang saat ini. Jika aku makan dulu akan memakan waktu yang lama." Kyara menunjukkan raut cemasnya.


"Baiklah. Kau tunggulah di sini sebentar!" Tekan Rania.


Kyara mendesah pasrah. Rania pun buru-buru menuju arah dapur. Dan tak lama Rania pun kembali dengan kotak bekal di tangannya.


"Berjanjilah untuk memakannya saat kau sudah di tiba di rumah sakit." Pinta Rania.


Kyara mengangguk. "Terimakasih, Rania. Aku titip Rey." Kyara nampak berkaca-kaca mengingat buah hatinya.


Rania mengangguk. "Hati-hatilah. Dan jangan bersedih lagi." Rania memeluk Kyara barang sejenak.


Kyara mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.


Maafkan Mama, Rey. Mungkin Mama akan kekurangan waktu untuk bersamamu.


*


Seorang wanita cantik sedang berjalan sempoyongan memegang kepalanya yang terasa pusing setelah selesai menangani pasiennya yang berlumuran darah akibat kecelakaan.


"Apa dokter baik-baik saja?" Seorang perawat wanita yang mengikuti jalan dokter cantik itu nampak cemas.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing dan mual. Kau tahu bukan aku selalu seperti ini?" Ujar Dokter cantik itu dengan nada lemah.


"Sebaiknya dokter istirahatlah lebih dulu sampai rasa pusing dokter sedikit berkurang." Saran perawat yang menjadi asisten dokter cantik itu.


"Tidak. Aku harus memeriksa kembali pasienku yang tadi." Dokter cantik itu bersikeras karena sebelum menangani korban kecelakaan tabrak lari itu ia belum selesai memeriksa keadaan pasiennya yang sedang di rawat akibat demam tinggi.


"Dokter... Dokter Hana..." Perawat itu berusaha mengejar dokter Hana yang terus berjalan.


Bruk


"Sakit sekali..." Lirih Dokter Hana mengelus keningnya.


"Kenapa kau menghalangi jalanku!" Rutuk Dokter Hana tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku sudah berjalan dengan benar. Kau saja yang tidak bisa berjalan dengan baik!" Balas seorang pria dengan nada dinginnya. "Saya heran kenapa di rumah sakit seperti ini bisa-bisanya mempekerjakan seorang dokter ceroboh seperti dirimu!" Ketus pria itu.


Deg


Jantung Dokter Hana tiba-tiba berdetak dengan kencang saat mendengar suara yang tidak asing di indera pendengarannya. Suara itu... Suara yang sudah lama tak terdengar oleh telingannya sejak kejadian enam tahun yang lalu. Dokter Hana mendongak untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.


Deg


Dokter Hana mematung di tempatnya saat dapat melihat dengan jelas siapa pemilik suara yang sangat dirindukannya itu.


"Dika..." Lirih Dokter Hana dengan keterkejutannya.


"Hana..." Dokter Dika tak kalah terkejut melihat wanita yang meninggalkannya begitu saja demi kekasihnya yang baru enam tahun yang lalu.


"Dokter Hana... Apa kau tidak apa-apa?" Perawat wanita itu angkat bicara karna Dokter Hana hanya diam mematung di tempatnya.


"A-aku tidak apa-apa." Dokter Hana melepas dengan pelan tangan asistennya dari bahunya.


***


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺