
"Baiklah, aku akan melakukannya." Ucap William setelah mendengar saran dari Gerry. Tak lama telefon pun terputus.
Malam itu juga William pun langsung mengerahkan anak buahnya yang sudah sampai di London untuk mencari segala informasi tentang Bianca. Tak jauh berbeda dengan William, di negaranya Gerry juga ikut membantu pergerakan William untuk mencari informasi tentang Bianca. Gerry dan William tak lagi memperdulikan jika Bianca akan merasa terganggu dengan pencarian mereka. Yang saat ini ada di pemikiran mereka adalah mencari titik terang dari permasalahan yang telah terjadi selama ini.
Hingga satu minggu bekerja, akhirnya penantian itu membuahkan hasil yang maksimal. Tentu saja, karena dalam pencarian kali ini, Reno dan Dika pun diam-diam ikut serta membantu mencari informasi tentang Bianca.
Brak
Suara gebrakan meja yang cukup kuat malam itu memecahkan keheningan malam di dalam hotel tempat William menginap selama satu minggu terakhir ini.
"Ini semua tidak mungkin!" William masih menggelengkan kepalanya tak percaya atas seluruh informasi yang didapatkannya.
"Kau tenanglah. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik pada Bianca esok hari." Seru Gerry meredamkan wajah William yang nampak sudah memerah.
"Aku masih tidak percaya jika Calvin pernah menjalin hubungan dengan Bianca." Reno yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel nampak menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah. Kita harus menanyakan kebenarannya secara langsung pada Bianca." Ucap Gerry yang tidak ingin memperpanjang permasalahan yang terjadi.
"Apa jangan-jangan Bianca pergi ke kota C untuk menyusul Calvin? Reno masih terus berbicara tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Gerry.
"Hanya ada dua kemungkinan yang bisa kita tangkap saat ini." Ucap Dika yang sedari tadi hanya diam.
"Apa?" Tanya mereka berbarengan.
"Kemungkinan pertama, Cilla adalah anak William. Dan kedua, Cilla adalah anak Calvin." Ucap Dika menuangkan pemikirannya.
"Jika Cilla anak Calvin, lalu bagaimana dengan kejadian malam itu?" Tanya Reno sambil mengetuk jari telunjuknya di atas meja yang sedikit retak akibat gebrakan William.
"Semua jawaban hanya ada pada Bianca. Karena sampai saat ini kita belum mendaparkan informasi tentang kejadian malam itu karena hanya ada William dan Bianca yang ada di dalam kamar saat itu." Ucap Gerry dengan tegas.
"Besok pagi aku telah menyuruh orang untuk membawa Bianca menuju tempat pertemuan kita. Aku harap kau jangan bersikap gegabah padanya sebelum kita mendapatkan informasi yang jelas darinya." Tekan Gerry tak ingin William mengacaukan rencana yang telah ia buat.
William mengangguk. "Terimakasih atas bantuan kalian selama ini. Aku begitu ceroboh karena tidak bergerak cepat selama ini." Sesal William atas apa yang telah terjadi.
"Kau tidak salah. Kau hanya merasa ragu untuk melakukannya karena Bianca adalah teman baikmu selama ini. Dan kau begitu takut akan kebenaran yang terjadi." Ucap Dika yang cukup paham pemikiran William selama ini.
William menarik tipis sebelah sudut bibirnya. Helaan nafasnya pun kian memberat saat memikirkan keadaan istrinya saat ini. Rasanya William sungguh tidak sabar menanti esok hari untuk mendapatkan kebenaran yang terjadi. Namun di lain sisi rasa takut cukup menghantui pemikirannya jika benar Cilla adalah darah dagingnya mengingat kejadian malam itu.
***
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...