
Setelah hari itu. Ketty selalu mengunjungi apartemen Gerry setiap harinya. Wanita itu selalu memantau kegiatan pelayan di apartemen kekasihnya. Takut-takut jika Kyara—pelayan yang dianggapnya itu bermain api dengan kekasihnya atau berani menggoda kekasihnya.
Untung saja Ketty selalu datang ke apartemen saat malam hari. Sehingga ia tidak mengetahui jika Kyara juga bekerja sebagai OB di perusahaan kekasihnya itu. Hari ini merupakan hari terakhir Ketty berada di Indonesia. Karena esok harinya ia sudah harus terbang ke negara S untuk melanjutkan pemotretan terakhirnya.
Kyara yang kebetulan sedang makan malam di dapur terlonjak kaget akan kedatangan Ketty secara tiba-tiba. Ketty memang sudah memiliki akses untuk memasuki apartemen Gerry karena wanita itu memaksa Gerry untuk memberitahukan password apartemennya.
"Hei, kau...!" Pekik Ketty menatap tak suka pada Kyara.
Kyara hampir tersedak karena suara Ketty yang begitu keras.
"Seenaknya saja kau makan di meja makan milik kekasihku. Apa kau lupa dengan statusmu yang hanya sebagai seorang pelayan, huh?" Hardik Ketty ketika sudah mendekat ke arah Kyara.
"Tidak seharusnya kau makan di sini! Seharusnya kau itu makan di lantai! Ingatlah akan statusmu itu!" Lanjutnya kemudian berapi-api.
"Ma-maafkan saya, Nona. Karena sudah sangat lapar dan cuaca cukup dingin jadi saya memutuskan untuk makan di meja makan saja." Jawab Kyara menunduk takut.
"Beraninya kau..." Ketty menarik rambut Kyara membuat wanita itu seketika mendongak. "Ingatlah akan statusmu itu!" Ucapnya lagi kemudian melepas jambakannya.
"Jangan mentang-mentang kau diperintahkan oleh Kakek tua itu untuk tinggal di sini jadi kau bertindak semaumu di sini!" Hardiknya lagi.
Kyara diam. Ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena pasti wanita iblis di depannya ini akan tetap menyalahkannya.
"Huh... Kau membuat tenagaku terbuang sia-sia...! Sekarang kau buatkan aku teh panas dan antarkan ke ruang tamu! "Ingat! Panas, bukan hangat!" Perintah Ketty kemudian berlalu dari dalam dapur.
Huh
Kyara menghela nafas ketika Ketty sudah menjauh dari pandangannya. ***** makannya yang berkobar tadi hilang entah kemana karena kehadiran Ketty. Namun Kyara tetap menghabiskan susu hamilnya sebelum membersihkan sisa makanannya.
Seringaian licik nampak tercetak di wajah Ketty ketika memperhatikan Kyara yang kini sedang berjalan ke arahnya dengan nampan di tangannya. Apa lagi mengingat Gerry yang belum pulang ke apartemen membuat semangat Ketty makin membara untuk mengerjai wanita di depannya ini.
Ketika melihat Kyara sudah berada dekat dengannya, Ketty pun dengan sengaja menjulurkan kakinya saat Kyara hendak menyajikan teh panas di atas meja.
"Awww..."
Ketty mengipas-ngipas paha dan betisnya secara bergantian.
"Sialan!! Kau pasti sengaja kan!!" Pekik Ketty tertahan karena kini paha dan betisnya yang terkena teh panas nampak memerah.
"Ada apa ini?!" Gerry yang baru saja masuk ke dalam apartemennya nampak begitu panik ketika mendengar suara teriakan Ketty. Kedua kelopak mata Gerry seketika membola ketika melihat ke arah paha dan betis Ketty yang memerah.
"Sayang... Kau kenapa??" Gerry nampak semakin panik melihat kekasihnya terluka.
"Semua ini gara-gara dia!!!" Ketty menunjuk ke arah Kyara yang kini nampak ketakutan. "Dia sengaja menyiram teh panas ke tubuhku!!" Adu Ketty berbohong.
"Tapi saya tidak sengaja, Pak... Kaki saya tersandung dengan kaki Nona Ketty yang sengaja ia julurkan saat saya ingin meletakkan teh di atas meja." Ucap Kyara mencoba membela diri. Karena memang seperti itu kenyataannya.
"Diam kau....!!" Hardik Ketty yang tidak terima akan ucapan Kyara yang berani menyudutkannya. Ketty pun dengan sengaja mendorong tubuh Kyara hingga perut wanita itu mengenai sudut meja.
"Awww..." Kali ini ringisan Kyara yang terdengar.
Ketty menatap puas pada Kyara yang nampak kesakitan seperti dirinya tadi.
"Sayang... Ayo bawa aku ke rumah sakit!! Ini sungguh perih sekali!!" Ucap Ketty ketika melihat Gerry yang kini menatap pada Kyara yang terjatuh.
Gerry pun mengalihkan pandangannya pada Ketty. Dan tanpa aba-aba ia pun menggendong tubuh Ketty ketika melihat paha Ketty yang semakin memerah.
Kyara menatap nanar pada Gerry yang meninggalkannya begitu saja tanpa memperdulikan rintihannya. Kyara pun tak kuasa menahan rasa sakit pada perutnya. Kemudian matanya beralih pada pahanya yang nampak mengalir darah di sana.
***