Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tiada ampun bagimu


"Saya tidak memasukkan apa-apa ke dalam minuman anda, Tuan." Ucap Citra dengan berbohong. Citra pun semakin mendekatkan tubuhnya pada William.


"Kau jangan—" ucapan William melayang begitu saja di udara saat Citra tiba-tiba saja memegang tangannya.


"Saya tidak melakukan apa yang Tuan katakan. Tapi saya bisa membantu Tuan keluar dari permasalahan Tuan saat ini." Ucap Citra dengan nada menggoda.


Dengan mengumpulkan kewarasannya, William pun segera menghempaskan tangan Citra. "Jangan menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu!" Hardik William merasa berang.


Namun Citra menulikan telingannya dan lebih memilih membantu William membuka kancing kemejanya karena tubuh William terlihat semakin kepanasan.


"Agh..." William mencoba kembali menghempaskan tangan Citra namun tubuhnya menolak melakukannya.


"Keluar dari ruanganku!" Ucap William sambil memejamkan kedua matanya. Ia sungguh tidak ingin kehilangan kewarasannya karena efek panas di tubuhnya yang sangat ingin ia salurkan saat ini.


"Apa anda yakin ingin menyuruh saya untuk keluar sedangkan anda membutuhkan saya saat ini Tuan?" Tangan Citra semakin sembarangan menyentuh dada bidang William yang kini sudah tidak terbungkus.


Sentuhan dari Citra pun kembali membuat tubuhnya semakin memanas. Melihat itu Citra terlihat tersenyum menyeringai.


"Anda akan menjadi milik saya malam ini, Tuan." Bisik Citra dengan nada lebih menggoda di telinga William. Tangan Citra pun semakin kurang tidak sopan berkeliaran di tubuh William. Pada saat tangannya semakin turun hingga sampai di celana William, tangan Citra pun semakin berani untuk membuka pengair ikat pinggang di celana William.


Namun tiba-tiba saja Citra terpaksa menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara pintu yang terbuka secara kasar.


Brak


Seorang wanita dengan perut buncitnya nampak menatap nyalang apa yang ia lihat di depan matanya saat ini.


"Nona Rania..." Wajah Citra dibuat begitu pucat saat melihat kemarahan nampak tercetak jelas di wajah Rania.


"Wanita tidak tahu diri... beraninya kau berniat buruk pada suamiku." Rania mendekat ke arah Citra. Tanpa mengatakan apa pun tangannya sudah melayang dengan keras di pipi Citra yang membuat Citra meringis kesakitan.


"Apa yang anda lakukan, heh? Apa anda tidak sadar jika suami andalah yang meminta saya untuk melayaninya!" Citra yang merasa tidak terima atas perlakuan Rania pun berkata berbohong.


"Kau jangan berdusta!" William yang semakin terlihat kacau berusaha membela dirinya.


"Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu?!" Maki Rania. Tangan Rania pun kembali terangkat ke atas lalu menarik rambut Citra dengan kasar. "Wanita tidak tahu diri!! Kau pikir kau itu siapa hingga berusaha untuk mengambil suamiku dari sisiku!!" Tangan Rania semakin kuat menarik rambut Citra.


"Lepaskan... kau jangan kurang ajar kepadaku?!" Bentak Citra di sela menahan rasa sakitnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau mati di tanganku!!" Ibu hamil yang sedang diliputi api membara tanpa memperdulikan perut buncitnya itu semakin menggebu-gebu menarik rambut Rania. "Tiada ampun bagi wanita pelakor sepertimu!!" Amuk Rania.


"Lepaskan aku dasar jal*ng!!" Umpatan kasar pun keluar dari bibir Citra. Citra pun berupaya untuk membalas perlakuan tangan Rania namun usahanya gagal karena Rania dengan cepat menghentikan pergerakannya.


"Rania... cukup!" William masih berupaya mengumpulkan kesadarannya. Ia sungguh tidak ingin bayinya yang masih bersemayam di dalam perut Rania terkena imbas amukan istrinya.


"Kau bilang cukup?! Aku bahkan belum mencekiknya!!" Amuk Rania. Tanpa membuang waktu sebelah tangan Rania pun sudah bertengger di leher Citra.


***


Berikan komen, vote dan likenya dulu yuk baru lanjut🤗