Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Merasa senang


Rania yang hendak membuka pintu kamarnya menghentikan niatnya saat pintu sudah terbuka dari luar. "William... Kau sudah pulang?" Ucap Rania yang merasa terkejut melihat wajah William berada tepat di depannya.


William menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kau ingin kemana?" Tanya William melihat Rania yang sepertinya ingin keluar dari dalam kamar.


"Aku ingin ke dapur." Jawab Rania.


"Apa kau ingin makan?" Tanya William.


Rania mengangguk. "Ya. Perutku sungguh lapar."


"Kebetulan aku membawakan makanan dari luar untukmu."


"Kau membawakan makanan untukku?" Ulang Rania lagi.


"Ya. Aku membawakanmu satu bungkus sate Pak Ujang untukmu. Aku pikir kau pasti sudah merindukan memakan sate langgananmu dan Kyara dulu." Tutur William.


Rania mengembangkan senyumannya. "Kau benar... Aku sungguh sudah merindukan sate Pak Ujang." Ucapnya sumringah.


William menarik tipis kedua sudut bibirnya saat melihat ekspresi bahagia istrinya. "Kalau begitu ayo keluar. Aku hanya ingin membangunkanmu ke sini. Aku pikir kau sudah tidur." Ajak William.


Rania pun dengan cepat mengangguk dan segera keluar dari dalam kamar mengikuti langkah kaki William.


"Sate Pak Ujang memang tidak ada tandingannya." Ucap Rania saat satu tusuk sate sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Rasa satenya masih tetap enak seperti terakhir kali kita makan di tempat itu." Tambah William.


"Kau benar. Rasa sate Pak ujang tidak pernah berubah." Ucap Rania lagi. Rania pun kembali fokus menghabiskan sate di hadapannya.


William sesekali mencuri pandang ke arah istrinya yang terlihat begitu lahap memakan satenya. Ada rasa bahagia yang menyeruak di dalam dadanya karena Rania bisa bahagia hanya karena hal kecil yang ia berikan kepada istrinya itu.


"Oh iya, William. Besok pagi aku sudah mulai bekerja di perusahaan milik temanku." Ucap Rania setelah membersihkan piring bekas makan mereka.


"Secepat itu?" William nampak terkejut.


Rania mengangguk. "Ya. Tadi aku sudah memberitahu temanku itu jika aku menerima tawaran pekerjaan darinya. Dan dia berkata jika besok aku sudah bisa bekerja di perusahaan miliknya." Terang Rania.


"Baiklah. Semoga pekerjaanmu besok berjalan dengan lancar."


"Terimakasih." Balas Rania tersenyum.


Tak lama mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


*


"Rania..." Suara Wiliiam terdengar mengalun memanggil namanya dari pintu dapur.


"William? Kau sudah bangun?" Tanya Rania melihat sekilas ke arah belakangnya. Kemudian mematikan api kompornya. "Kau ingin berangkat bekerja?" Tanya Rania melihat penampilan William yang sudah rapi.


"Ya. Pagi ini aku harus kembali berangkat ke kota S bersama Gerry." Jelas William.


"Kenapa pagi-pagi sekali?" Tanya Rania merasa bingung.


"Untuk mempersingkat waktu. Karena nanti malam aku dan Gerry akan menghadiri undangan makan malam dari Pak Richard rekan bisnis kami untuk memperkenalkan pemimpin baru di perusahaannya." Jelas William.


"Ohh..." Rania menganggukkan kepalanya.


"Apa kau jadi bekerja hari ini?" Tanya William.


"Ya. Aku akan mulai bekerja hari ini sesuai perkataanku tadi malam." Ucap Rania. "Apa kau ingin sarapan lebih dulu? Aku akan mempersiapkannya untukumu." Tawar Rania.


"Maaf, Rania. Aku harus buru-buru pergi. Karena Gerry dan Jimmy sudah menungguku di lobby apartemen." Sesal William.


"Baiklah. Tak masalah." Rania memaksakan senyumannya. Karena untuk yang kesekian kalinya William kembali menolak sarapan yang dibuatkannya.


***


... Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...