
"Calvin bagaimana dengan mobilku?" Ucap Bianca saat mobil Calvin melaju melewati mobilnya.
Calvin hanya diam dan terus melajukan mobilnya keluar dari perkarangan restauran. Mobil Calvin pun melaju dengan kencang saat sudah masuk ke jalan raya.
Bianca menghela nafasnya melihat wajah Calvin yang semakin dingin dan kaku. "Calvin kau sungguh salah paham. Tadi itu aku hanya bertemu dengan Tuan James untuk—"
"Untuk bermesra-mesraan dengannya di tempat umum begitu?" Sembur Calvin lalu semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
"Bermesra-mesraan apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa yang kau katakan!" Bianca yang merasa tak terima pun protes.
"Cih. Berpegang-pegangan tangan dengannya kau bilang tidak bermesraan? Kau pikir aku buta tidak melihat apa yang kau dan dia lakukan di dalam restauran tadi?!" Suara Calvin terdengar mulai meninggi. Melihat wajah Calvin yang memerah Bianca menebak jika suaminya itu sedang marah besar saat ini.
"Kau benar-benar salah paham, Calvin. Aku berpegangan tangan dengannya karna James hanya ingin menenangkanku." Bianca berusaha untuk menjelaskan kepada suaminya walau harus menahan rasa takutnya karena Calvin membawa mobil mulai tidak terkendali.
"Menenangkan apa yang kau maksud? Berpegangan tangan dengannya di depan umum dan kau bilang hanya untuk menenangkanmu? Memangnya ada apa denganmu? Kau pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu?!" Bentak Calvin.
"Aku tidak bermesraan dengannya Calvin!" Bianca yang sudah turut terbawa emosi pun berbicara mulai meninggi.
"Diam!" Bentak Calvin tak ingin lagi membiarkan istrinya itu bebicara. "Aku tidak menyangka kau semurahan itu yang mau saja disentuh oleh pria yang bukan suamimu!" Ucap Calvin tanpa sadar.
Deg
Hati Bianca terasa sangat sakit mendengarkan kata murahan yang keluar dari bibir Calvin untuknya. Air matanya pun terjatuh begitu saja. Dadanya kian sesak menatap pada wajah suaminya yang terlihat tanpa rasa bersalah setelah menghinanya.
Cittt
Mendengarkan ucapan Bianca, Calvin pun sontak mengerem mendadak. Untung saja jalanan cukup sepi siang itu sehingga tidak ada pengendara lain yang menabrak mobilnya.
"Ka-kau bilang apa?" Tanya Calvin dengan sedikit tergagap.
"Aku memang wanita murahan." Ucap Bianca dengan parau tanpa mengulang kembali ucapan kehamilannya.
"Bianca..." Calvin menekan ucapannya agar Bianca kembali mengatakan apa yang ia harapkan.
"Bagaimana bisa kau menuduhku bermesraan dengan pria lain di saat aku sedang mengandung anakmu untuk kedua kalinya Calvin?" Tangisan Bianca semakin pecah. Rasanya sangat sakit sekali suaminya menuduhnya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
Deg
Jantung Calvin berdetak begitu cepat mendengar apa yang Bianca katakan.
"Aku tahu kau tidak akan pernah mencintaiku bahkan sampai kapan pun itu walau aku sudah mengandung dua kali anakmu, Calvin. Namun aku mohon cabut perkataanmu yang mengatakan aku murahan karena aku tidak seperti itu. Aku memiliki alasan atas apa yang kau lihat di restauran tadi." Ucap Bianca dengan air mata yang semakin mengalir deras di kedua pipinya.
***