Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Menyiksa lebih dari ini


"Dokter Dika..." Suara Kyara terdengar mengalun di belakangnya membuat Dika tersadar dari keterkejutannya.


"Kyara..." Dika berbalik dan melihat Kyara yang sudah berdiri di belakangnya.


"Apa kau ada urusan dengan dokter ini?" Tanya Kyara menampilkan senyuman manisnya pada dokter cantik di depannya.


"Tidak. Apa kau sudah mengambil ponselmu yang tertinggal di mobil?"


Kyara mengangguk. "Ini." Menunjukkan ponselnya.


"Ya sudah. Ayo!" Dika pun berlalu dari hadapan Dokter Hana dengan wajah dinginnya.


Kyara melihat ke arah dokter Hana yang menampilkan wajah sendunya. "Apa dokter baik-baik saja?" Tanya Kyara saat Dika sudah berjalan jauh di depannya.


"Eh." Dokter Hana tersentak. "Saya baik-baik saja, Nona." Menampilkan senyum yang tak kalah manis.


Kyara tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Kyara pun segera berlalu dari hadapan dokter Hana setelah mendapatkan anggukan kepala dari wanita itu.


Apa wanita itu kekasih Dika? Batin Hana sendu.


"Dokter..." Tepukan lembut di lengannya membuat Hana tersadar.


"Apa Dokter tidak jadi memeriksa pasien?"


"Agh, iya. Kau ini membuatku melupakan niatku?" Gerutu Hana meninggalkan asistennya.


"Aku?" Perawat itu menunjuk wajahnya. Kemudian ia menggeleng merasa Dokter Hana sedang tidak baik-baik saja.


*


Ceklek


Kyara memasuki ruangan rawat Gerry dengan wajah sendunya. Kyara menarik nafas panjang sebelum ia memantapkan langkah kakinya menuju ranjang. Di samping ranjang Gerry, Dokter Dika nampak memeriksa kondisi sahabatnya itu.


"Jika kau ingin tidur dengan nyaman, kau bisa tidur di ruangan yang ada di dalam sana." Dokter Dika menunjuk pada kamar kecil yang ada di dalam ruangan itu.


"Aku bisa tidur di sofa itu." Menunjuk sofa bed yang terletak di sudut ruangan. "Terimakasih atas segala kebaikanmu." Ucap Kyara tulus.


"Karena kau sudah membantu jalannya operasi Gerry."


"Itu sudah kewajibanku sebagai seorang dokter. Dan lagi pula Gerry itu sahabatku. Sudah sepantasnya aku melakukan yang terbaik untuknya. Walau aku merasa gagal karena tidak bisa menyadarkannya." Dika menghela nafas kasar.


"Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik." Kyara mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Pandangannya berpusat pada wajah Gerry yang nampak pucat. "Akulah yang seharusnya merasa gagal menjadi istri yang baik untuknya. Seandainya bukan karna aku, Gerry pasti tidak akan seperti ini." Air matanya yang mulanya mengering mulai mengalir deras.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau harus ingat, ada banyak hikmah dibalik semua kejadian yang kau alami saat ini." Dokter Dika menatap lama wajah Kyara yang sudah basah oleh air mata. Dapat ia lihat wanita itu benar-benar terpuruk saat ini. "Istirahatlah. Akan ada perawat yang terus mengontrol kondisi Gerry. Aku harus kembali ke ruangan karna ada hal yang harus aku kerjakan."


Kyara mengangguk. Dika pun segera keluar dari dalam ruangan rawat Gerry.


"Gerry..." Kyara melangkahkan kakinya mendekat pada ranjang setelah terdengar bunyi pintu tertutup rapat. Kyara pun mendudukkan tubuhnya di kursi di samping ranjang. Isakan kecil lolos dari mulut mungilnya melihat banyaknya alat-alat medis yang terpasang di tubuh suaminya saat ini.


"Apa kau akan menghukumku dengan cara seperti ini?" Lirih Kyara menahan sesak di dadanya. "Jika aku boleh memilih, bisakah kau tidak menghukumku dengan cara yang seperti ini? Kau bisa melakukan cara lain seperti memakiku seperti awal pernikahan kita dulu. Bahkan kau bisa menyiksa tubuhku sepuas yang kau mau. Aku akan ikhlas, Gerry... Aku ikhlas... Namun tidak dengan cara yang seperti ini..." Ucapnya dengan terbata-bata.


***


Lanjut lagi gak? Komen yang banyak, yuk!


Oh iya... Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺