
"Buat dia ke posisi semula!" Titah Jimmy.
Para pengawal mengangguk. Mereka pun mengangkat tubuh Ketty kembali di atas kursi, kemudian mengikat kaki dan tangannya di kursi.
"Apa yang kau lakukan asisten sialan! Lepaskan aku..!!" Ketty menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat saat ini karna suara gonggongan anjing itu semakin menusuk ke gendang telinganya.
Jimmy pun memberikan isyarat tangan pada para pengawalnya yang kemudian diangguki oleh mereka. Ketiga pengawal itu pun mulai mengikat ke tiga anjing yang masih menggonggong itu di sudut ruangan. Sedangkan Jimmy sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.
"Hei... Kalian mau kemana?? Jangan tinggalkan aku di sini...!!" Jerit Ketty karena tiga pengawal itu mulai meninggalkan ruangan setelah memastikan ketiga anjing itu terikat dengan aman.
"Tolong... Tolong..." Ketty berteriak histeris saat suara gonggongan anjing itu mulai bersahutan satu sama lain mengisi kekosongan di ruangan itu.
***
"Kyara..." Mama Riana menggoyangkan pelan bahu Kyara yang sedang tertidur pulas di samping ranjang Gerry.
"Mama..." Ucap Kyara dengan parau. Kyara mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya.
"Mama sudah datang?" Ucapnya kemudian melirik jam yang menggantung di dinding. "Sudah jam 8 malam." Lirih Kyara.
"Sudah sejak satu jam yang lalu. Mama hanya tidak tega membangunkanmu. Namun Rania baru saja menghubungi Mama jika Rey sedang menangis tak mau berhenti di mansion. Sepertinya Rey sudah mencari keberadaanmu." Tutur Mama Riana.
"Rey... Anak Mama..." Lirih Kyara. "Kya sudah sejak pagi meninggalkannya." Sesal Kyara. Padahal sejak siang tadi Mama Riana sudah menyuruhnya untuk pulang, namun Kyara menolak karena tidak ada yang menjaga Gerry selain perawat karena Mama Riana, Papa Johan dan Kakek Surya beralasan ada undangan yang harus mereka hadiri siang sampai malam hari.
"Pulanglah. Malam ini biarkan Mama dan Papa yang menjaga Gerry." Mama Riana mengelus punggung menantunya.
Kyara memalingkan wajahnya pada wajah pucat Gerry. Wajahnya mendekat pada telinga Gerry. "Gerry... Aku harus pulang dulu. Anak kita sedang membutuhkanku saat ini. Namun aku berjanji akan kembali lagi besok pagi. Aku harap di saat aku kembali, sudah ada keajaiban yang datang yang bisa membuat kau membuka mata." Bisik Kyara di telinga Gerry. Kyara mengusap air matanya yang sudah menetes kemudian menatap pada Mama Riana.
"Kyara pamit pulang dulu. Tolong kabari Kya jika ada kabar dari Gerry." Kyara mengulurkan tangannya kemudian mencium tangan mertuanya.
"Tenanglah, nak. Gerry akan baik-baik saja." Mama Riana mengelus lembut rambut Kyara yang terurai.
"Terimakasih, Mama." Ucap Kyara. Pandangannya pun kembali berpusat pada wajah Gerry.
Tuhan... Berikanlah kesembuhan pada suamiku... Izinkanlah aku menebus semua kesalahanku selama ini kepadanya... Batin Kyara. Kyara pun mengangkat tangan Gerry yang lemah kemudian menempelkannya di bibirnya.
*
"Kyara..." Suara Dokter Dika menghentikan langkah Kyara yang hendak masuk ke dalam lift.
"Dokter Dika..." Ucap Kyara.
Dokter Dika mendekat ke arahnya. "Kau ingin kemana?" Tanya Dokter Dika melihat Kyara menenteng kotak bekal dan tas berisi pakaiannya.
"Aku ingin pulang. Malam ini aku tidak menemani Gerry di sini. Mama dan Papa yang akan menjaga Gerry malam ini." Terang Kyara.
Dokter Dika mengangguk.
"Kebetulan sekali aku juga ingin pulang. Pulanglah bersamaku. Aku akan mengantarkanmu pulang sekalian melihat Baby Rey." Ajak Dokter Dika.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺