Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tergila-gila padanya


"Rania... kenapa kau meninggalkanku begitu saja." Gerutu William saat sudah berada dekat dengan istrinya.


"Karena aku tidak ingin melihat wajah merajukmu itu lagi." Ucap Rania merasa malas.


"Ada apa denganmu, William?" Tanya Kyara yang dapat melihat raut tak enak dari wajah William.


"Tidak perlu memikirkannya, Kya. Lebih baik kau segera mengantarkan minuman itu pada Kak Gerry sebelum Kak Gerry mencari keberadaanmu." Pesan Rania yang cukup tahu dengan kemanjaan Gerry saat ini.


Kyara mengangguk menyetujui. "Kalau begitu aku masuk dulu. Kalian duduk lah lebih dulu. Aku akan menyusul sebentar lagi." Ucap Kyara yang diangguki oleh Rania dan William.


"Kenapa kau lama sekali." Wajah Gerry nampak ditekuk saat Kyara masuk ke dalam kamar mereka.


Lagi-lagi Kyara harus menghela nafas nafas berat melihat tingkah manja suaminya yang tidak bisa ditinggal barang sebentar saja.


"Tadi aku bertemu dengan Rania dan William di bawah. Kau tidak lupa bukan jika malam ini mereka akan menginap di sini bersama dengan Dika dan Hana sesuai permintaanmu?" Tanya Kyara mengingat permintaan konyol suaminya yang menginginkan sahabat baiknya dan suaminya itu tidur di mansion Bagaskara untuk malam ini dan dua malam berikutnya.


"Kemarilah... Aku ingin memelukmu." Gerry merentangkan kedua tangannya tanpa berniat membalas ucapan Kyara.


Kyara menggeleng dengan cepat. "Minum dulu baru kau boleh memelukku. Lagi pula aku merasa tidak enak pada William dan Rania yang sudah menunggu kita di bawah." Ucap Kyara dengan tegas.


Wajah Gerry nampak tak setuju. Namun mau tidak mau ia tetap menuruti perintah istrinya untuk meminum minumannya lebih dulu.


"Keluarlah lebih dulu. Aku ingin melihat Rey sebentar." Ucap Kyara setelah Gerry menghabiskan minumannya.


"Aku akan keluar jika kau sudah memelukku." Ucap Gerry dengan manja.


Kyara menggeleng-geleng melihat tingkah suaminya namun tetap menuruti keinginan suami hamilnya.


"Aku sangat mencintaimu." Ucap Gerry sambil memeluk erat tubuh Kyara. Mencium dalam aroma vanilla dari tubuh istrinya yang sudah membuatnya begitu candu dan nyaman.


"Aku pun begitu." Kyara memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. "Keluarlah. Tidak enak pada William dan Rania." Ucap Kyara lagi yang diangguki cepat oleh Gerry.


*


Gerry mendengus lalu menjatuhkan bokongnya di kursi single yang berhadapan dengan William dan Rania.


"Hana dan Dika belum datang?" Tanya Gerry saat tak melihat keberadaan sepasang mantan kekasih itu.


"Mereka akan datang setelah pulang bekerja. Kebetulan hari ini mereka mendapatkan sift malam." Jelas William yang diangguki paham oleh Gerry.


"Apa Kakak masih merasa mual di pagi hari?" Tanya Rania pada Gerry.


Gerry mengangguk lemah. "Ya begitulah. Mual ini sungguh menyiksaku. Namun tak apa. Dari pada Kyara yang harus mengalaminya untuk kedua kalinya." Ucap Gerry.


Rania tersenyum. "Tapi tidur Kakak tidak terganggu bukan dengan kehamilan simpatik ini?" Tanya Rania lagi.


"Aku bahkan sangat sulit untuk tidur jika tidak dipeluk oleh Kyara." Ucap Gerry dengan jujur.


Rania melipat bibirnya. "Sepertinya bayi kalian benar-benar ingin mengerjai ayahnya. Namun tak apa, dengan begitu Kakak terlihat benar-benar mencintai sahabatku." Ucap Rania dengan terkekeh kecil.


Gerry menarik sudut bibirnya ke samping. "Aku bukan hanya benar-benar mencintainya. Namun aku sudah benar-benar tergila-gila dengan sahabatmu itu." Ucap Gerry lalu tersenyum lebar membayangkan wajah cantik istrinya. "Huh, apa Kyara masih lama untuk turun? Aku sudah tidak sabar untuk memeluknya." Ucap Gerry dengan lirih.


***


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


Serpihan Cinta Nauvara (End)


Oh My Introvert Husband (End)