Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Bermain-main dengan pemain


William pun berdiri. Berjalan mendekat menuju Rania. "Ini semua tidak seperti—" William yang ingin menjelaskan kesalahpahaman itu menghentikan ucapannya saat Rania lebih dulu menyelanya.


"Sayang... Apa kau sedang sibuk bekerja?" Tanya Rania dengan nada lembut.


William dibuat terdiam. Tanggapan Rania tidak seperti yang ada di pikirannya. "A-aku tidak tidak sibuk." Balas William sedikit tergagap.


"Lalu sedang apa sekretarismu di sini jika kau sedang tidak sibuk?" Tanya Rania sambil menatap Citra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Dia hanya mengantarkan kopi untukku." Balas William dengan takut jika Rania menyelanya. "Citra. Keluarlah!" Usir William menatap dingin pada Citra.


Citra menampilkan senyuman manisnya tanpa berbicara. Setelah mengambil nampan yang semula ia letakkan di atas meja, ia pun keluar dari dalam ruangan William dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.


Rania pun tak mengalihkan tatapannya dari Citra hingga ia pun dapat melihat senyuman licik yang tercetak di sudut bibir wanita itu.


"Sayang..." Setelah Citra keluar dari dalam ruangannya, William pun mendekat ke arah istrinya yang kini tengah meletakkan makan siang untuknya di atas meja.


"Ada apa?" Tanya Rania dengan nada yang sudah berubah dingin.


"Apa yang kau lihat tidak seperti ada yang kau pikirkan." Ucap William berubah takut dengan ekspresi istrinya.


"Memangnya aku memikirkan apa?" Tanya Rania kembali. Wanita hamil dengan perut buncitnya itu pun nampak kesusahan untuk duduk.


William yang melihatnya pun dengan sigap untuk membantu istrinya duduk.


"Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba saja ingin memperbaiki ikatan dasiku." Ucap William berusaha membersihkan pikiran buruk istrinya. "Dan kejadian itu terjadi sesaat setelah kau masuk ke dalam ruangan kerjaku." Lanjutnya kemudian.


"Kau ingin aku melepaskannya!" Tanya William.


"Ya. Apa kau keberatan? Aku tidak suka ada jejak wanita lain melekat di tubuhmu. Jika perlu, gantilah seluruh pakaianmu. Karena aku tidak ingin satu jejak dari wanita lain tersisa di tubuh suamiku." Rania menatap William dengan tegas.


"Baiklah. Tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengganti seluruh pakaianku." William yang masih diliputi rasa takut jika istrinya marah itu pun segera masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Aku percaya kau bisa menjaga hatimu untukku. Namun aku tidak akan bisa percaya jika wanita itu tidak memiliki niat buruk kepadamu. Dan kau wanita penggoda, jangan coba bermain-main dengan seorang pemain!" Rania mengepalkan tangannya erat menahan rasa sesak di dadanya dan rasa marah yang hampir meledak saat ini juga.


Lima menit berada di dalam kamar pribadinya, William pun sudah nampak kembali dengan pakaian baru melekat di tubuhnya.


"Apa semua makanan ini kau yang memasaknya?" Tanya William menatap banyaknya makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Rania mengangguk. "Bukankah saat ini sudah masuk jam makan siangmu?" Tanya Rania yang diangguki William. Mendapatkan jawaban dari suaminya, Rania pun mulai mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya. "Makanlah." Ucapnya menyerahkan sepiring nasi dan lauk di depan suaminya.


William tak langsung mengikuti perintah istrinya. Pandangannya kini terisi penuh dengan wajah istrinya. Dengan kondisimu yang tengah hamil besar seperti ini kau masih saja melayaniku seperti ini. William merasa terharu dengan sikap istrinya.


***


Lanjut?


Berikan semangat dulu dong dengan vote, komen dan likenya😶