Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tatapan penuh arti


"Astaga... dia memang putri tidur." William hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Merasa tubuhnya pun sudah cukup lelah, William pun memutuskan untuk ikut tidur menyusul istrinya masuk ke alam mimpi.


Pukul lima sore, William pun terjaga dari tidurnya, matanya menatap pada wajah istrinya yang masih nampak pulas dalam tidurnya. "Dia ini tidur atau bagaimana? Kenapa tidurnya lama sekali." Lidah William berdecak. Tak habis pikir dengan tingkah istrinya.


Membiarkan istrinya yang masih terlelap selama empat jam itu, William pun keluar dari dalam kamar pribadinya.


"Sudah waktunya jam pulang kerja. Sepertinya Steve sudah menungguku." William pun bergegas keluar dari dalam ruangannya.


Di meja kerjanya, Citra yang sedang membereskan meja kerjanya menghentikan aktivitasnya saat melihat William keluar dari dalam ruangannya.


"Tuan sudah ingin pulang?" Tanya Citra dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Belum. Saya ingin ke ruangan Steve." Balas William dengan datar lalu berlalu dari hadapan Citra begitu saja.


Semakin menarik. Aku semakin tidak sabar untuk memilikinya. Batin Citra sambil tersenyum jahat. Citra pun kembali melanjutkan membereskan barang-barangnya.


Ceklek


Pintu ruangan kerja Steve terbuka. Steve yang sedang serius menatap layar komputer di depannya pun menghentikan aktivitasnya saat menyadari William masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan William, apa anda sudah ingin pulang?" Tanya William setelah bangkit dari kursi kerjanya.


"Kau terlalu fokus bekerja sampai tak menyadari sudah tiga kali aku mengetuk pintu ruanganmu." Ucap William tanpa membalas pertanyaan asistennya. "Lanjutkan pekerjaanmu besok karena aku sudah saatnya jam pulang bekerja." Ucap William dengan tegas.


Steve mengangguk patuh.


William pun kembali keluar dari dalam ruangan kerja asistennya. Saat melewati meja kerja sekretarisnya, William merasa aneh melihat Citra masih berada di sana. Dan tanpa memperdulikan apa yang dikerjakan sekretarisnya itu, William pun segera masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Dia belum bangun juga?" Helaan nafas William terdengar pelan saat melihat istrinya yang masih terlelap. Tak ingin mengganggu tidur istrinya, William pun memilih menggendong tubuh Rania.


Ceklek


Dengan susah payah William membuka pintu ruangan kerjanya. Di depan ruangannya, Steve sudah nampak berdiri menunggunya.


Sedangkan Citra yang masih menunggu kepulangannya nampak dibuat kesal melihat William menggendong tubuh Rania dengan mesra. William pun berjalan menuju lift sambil menggendong tubuh Rania.


"Semenjak hamil kau lebih terlihat menggemaskan." Gumam William yang merasa gemas dengan istrinya. "Ingin sekali aku menggigit pipi bulatmu itu." Gumamnya lagi sambil menatap wajah istrinya.


William dan Steve yang sudah keluar dari dalam ruangannya pun masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan, sedangkan citra masuk ke dalam lift khusus karyawan. Saat sudah masuk ke dalam lift, Rania tiba-tiba saja terbangun.


"William..." Rania hampir saja berteriak saat menyadari kini tubuhnya tengah berada dalam gendongan suaminya.


"Kau sudah bangun?" Tanya William yang diangguki oleh Rania.


"Turunkan aku!" Pintanya merasa malu saat menyadari jika ada Steve di antara mereka.


William pun dengan hati-hati menurunkan istrinya.


"Kenapa kau menggendongku?" Tanya Rania setelah berdiri tegak.


"Karena kau sudah seperti putri tidur yang tidak mau bangun dari tidurnya. Sedangkan sekarang sudah saatnya aku pulang bekerja." Balas William dengan santai.


"Apa? Yang benar saja?" Rania dibuat malu dengan tingkahnya saat mengingat kembali apa yang ia lakukan sejak William keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Ting


Pintu lift pun terbuka bersamaan dengan Citra yang baru saja keluar dari dalam lift khusus karyawan.


Pandangan Rania dan Citra sejenak beradu pandang. Rania tak begitu saja melepaskan tatapan wanita itu yang terlihat penuh arti kepadanya.


Lihat saja, sebentar lagi aku akan menyingkirkanmu dan bayimu itu dari hidup Willaim. Batin Citra menatap Rania dengan penuh arti.


***


Lanjut?