
Ceklek
Pintu kamar terbuka oleh Rania bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan sosok William di sana. Pandangan Rania dan William bertemu. Rania dengan cepat menundukkan pandangannya saat melihat hanya selembar handuk yang menutupi tubuh bagian bawah suaminya. William pun berjalan mendekat ke arah sofa untuk mengambil pakaiannya.
"Kenapa kau hanya diam berdiri di sana?" Tanya William karena Rania tidak bergerak dari posisinya.
"Aku hanya ingin membangunkanmu. Tapi ternyata kau sudah bangun." Ucap Rania tanpa menatap pada William.
"Terimakasih sudah menyiapkan pakaianku." Ucap William tanpa menimpali ucapan Rania.
Rania mengangkat wajahnya. "itu sudah menjadi kewajibanku. Oh iya William, aku menunggumu di meja makan. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan aku harap kau bisa sarapan di sini pagi ini." Pinta Rania.
"Kenapa tidak bicara di sini saja? Aku akan mendengarkanmu."
"Pakailah pakaianmu lebih dulu. Aku akan menunggu di meja makan." Rania pun berbalik keluar dari dalam kamar.
"Baiklah. Aku akan menyusul."
*
Perasaan Rania pagi ini cukup bahagia karena William memilih untuk menikmati sarapan pagi berdua dengannya di apartemen. Melihat William yang menikmati sarapan yang dibuatkannya dengan lahap membuat Rania secara tidak sadar melebarkan senyumannya.
William mengelap bibirnya dengan tisu saat sudah selesai menyantap sarapan paginya. Begitu pula dengan Rania yang juga sudah menghabiskan sarapan paginya.
William melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian memperhatikan Rania yang mulai sibuk membersihkan piring bekas sarapan pagi mereka.
"Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya William saat Rania sudah kembali bergabung di meja makan.
Rania memusatkan pandangannya pada wajah suaminya. "Ada hal penting yang ingin aku katakan." Rania menghela nafas panjang.
"Katakan saja." Ucap William.
"Apakah aku boleh bekerja? Aku rasa aku memerlukan sebuah pekerjaan sehingga waktuku terasa berlalu dengan cepat. Aku cukup merasa bosan berada di apartemen ini siang dan malam seorang diri di saat kau tidak pulang ke apartemen." Ucap Rania sedikit mengeluarkan isi hatinya.
"Kau ingin bekerja?" Tanya William mengulang perkataan Rania.
"Apa maksudmu?" William merasa tidak suka akan perkataan terakhir Rania.
"Bukankah kau memintaku agar tidak jatuh cinta kepadamu waktu itu? Dan aku rasa aku tidak bisa mengontrol hatiku jika terus berdekatan dengan suamiku terus menerus. Walau kau jarang berada di apartemen, namun tetap saja pemikiranku pasti akan tertuju kepadamu karena kau adalah suamiku. Namun bila aku bekerja, aku rasa aku akan lebih bisa memusatkan pemikiranku terhadap pekerjaanku saja nantinya tanpa memikirkanmu." Terang Rania.
"Lagi pula selain aku juga merasa bosan. Aku juga ingin mewujudkan permintaanmu waktu itu." Lanjutnya kemudian.
Tangan William terkepal erat di bawah meja. "Kau ingin bekerja dimana?" Tanya William menahan gemuruh di dadanya.
"Aku akan bekerja di salah satu perusahaan kecil milik teman lamaku. Kemarin kami sempat bertemu dan dia menawarkan pekerjaan untukku. Dan setelah aku pikir-pikir sepertinya aku membutuhkan pekerjaan itu untuk mengisi waktuku."
"Jika kau ingin bekerja, aku tidak akan melarangmu. Namun kau harus ingat dengan statusmu saat ini." Perintah William.
"Kau tenang saja. Aku akan terus mengingatnya. Aku juga akan terus mengingat permintaanmu agar tidak jatuh cinta kepadamu." Ucap Rania berusaha menahan sesak di dadanya.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...